Beritabanten.com – Viral unggahan akun Threads @apahhsjahegiehens yang menyebut sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimanfaatkan sebagai pakan bebek dan entok memunculkan beragam tanggapan publik. Dalam unggahan tersebut, pemilik akun mengaku terbantu karena limbah makanan mampu mengurangi biaya pakan ternaknya dan berharap program MBG terus berlanjut.

Sekilas, fenomena ini dapat dipandang sebagai dampak positif. Dalam konsep circular economy atau ekonomi sirkular, pemanfaatan sisa makanan menjadi pakan ternak merupakan salah satu bentuk pengurangan limbah pangan sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Dari sisi ekonomi, kondisi tersebut juga dapat membantu peternak menekan biaya produksi.

Namun, persoalan utamanya bukan pada pemanfaatan limbah makanan, melainkan mengapa makanan yang disiapkan untuk siswa justru menyisakan jumlah yang cukup banyak. Program MBG dirancang untuk meningkatkan asupan gizi peserta didik, sehingga banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi seharusnya menjadi perhatian dalam pelaksanaan program.

Pakar analisis kebijakan publik William N. Dunn menjelaskan bahwa keberhasilan suatu kebijakan diukur dari tingkat pencapaian tujuan utamanya. Dalam konteks MBG, indikator keberhasilan bukan terletak pada manfaat ekonomi yang muncul bagi pihak lain, melainkan sejauh mana makanan bergizi benar-benar dikonsumsi siswa dan mampu meningkatkan status gizi mereka.

Karena itu, manfaat yang diterima peternak lebih tepat dipandang sebagai spillover effect atau dampak ikutan. Dampak tersebut tentu dapat diapresiasi karena mengurangi pemborosan pangan. Namun apabila sisa makanan terus meningkat hingga menjadi sumber pakan rutin bagi ternak, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan program.

Evaluasi dapat dilakukan dengan menelusuri berbagai faktor penyebab makanan tidak habis dikonsumsi, seperti variasi menu, cita rasa, ukuran porsi, waktu pembagian, hingga kebiasaan makan siswa di setiap daerah. Pendekatan berbasis data akan membantu pemerintah menyempurnakan pelaksanaan program tanpa mengubah tujuan utamanya.

Pada akhirnya, pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak memang lebih baik daripada dibuang. Namun ukuran keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tetap harus mengacu pada tujuan awalnya, yakni memastikan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi secara optimal. Semakin sedikit makanan yang tersisa karena habis dikonsumsi siswa, semakin dekat pula program tersebut pada sasaran yang diharapkan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com