Beritabanten.com – Selama hampir satu abad penyelenggaraan Piala Dunia, trofi juara belum pernah lepas dari genggaman negara-negara Eropa dan Amerika Latin. Sejak edisi pertama pada 1930 hingga Piala Dunia 2026, seluruh kampiun berasal dari dua kawasan tersebut, mulai dari Uruguay, Italia, Jerman, Brasil, Argentina, Prancis, hingga Spanyol.

Dominasi tersebut membuat banyak orang beranggapan bahwa sepak bola merupakan “milik” Eropa dan Amerika Latin. Namun, jika ditinjau dari sejarah perkembangan olahraga ini, anggapan tersebut lebih mencerminkan hasil pembinaan jangka panjang daripada faktor geografis semata.

Keunggulan negara-negara Eropa dan Amerika Latin dibangun melalui kompetisi profesional yang mapan, akademi sepak bola berkualitas, sistem pembinaan usia dini yang berkesinambungan, serta budaya sepak bola yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun. Faktor-faktor tersebut melahirkan pemain, pelatih, dan ekosistem sepak bola yang mampu mempertahankan prestasi secara konsisten.

Di sisi lain, perkembangan sepak bola di luar dua kawasan tersebut terus menunjukkan kemajuan. Jepang dan Korea Selatan kini menjadi langganan peserta Piala Dunia serta beberapa kali berhasil melangkah ke babak gugur. Maroko mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada 2022, sementara Amerika Serikat terus meningkatkan kualitas kompetisi domestik dan pembinaan pemain.

Kemajuan tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas mulai menyempit. Banyak pemain dari Asia dan Afrika kini menjadi pilar klub-klub elite Eropa, membuktikan bahwa talenta sepak bola tidak hanya lahir di dua benua yang selama ini mendominasi.

Dengan demikian, sepak bola pada dasarnya bukan milik kawasan tertentu. Prestasi lebih ditentukan oleh kualitas pembinaan, kompetisi yang sehat, investasi jangka panjang, serta tata kelola organisasi sepak bola yang profesional. Negara yang mampu membangun fondasi tersebut memiliki peluang untuk bersaing di level tertinggi.

Bagi Indonesia, pengalaman negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Maroko memberikan pelajaran bahwa letak geografis bukanlah penghalang utama. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem pembinaan yang konsisten, memperkuat kompetisi domestik, serta menciptakan regenerasi pemain yang berkelanjutan.

Sejarah memang masih mencatat Eropa dan Amerika Latin sebagai penguasa Piala Dunia. Namun, sejarah olahraga juga menunjukkan bahwa tidak ada dominasi yang berlangsung selamanya. Pertanyaan yang kini menarik untuk dinantikan bukan lagi apakah dominasi itu akan berakhir, melainkan negara mana yang akan menjadi pelopor lahirnya juara dunia pertama dari luar Eropa dan Amerika Latin. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com