Beritabanten.com – Sebuah bangsa tidak selalu runtuh karena perang, krisis ekonomi, atau gejolak politik. Kemunduran dapat bermula dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: melemahnya kualitas pendidikan. Gagasan itulah yang diangkat ulama dan cendekiawan Husein Muhammad melalui akun Facebook pribadinya pada 16 Juli 2026. Dalam tulisannya, ia mengajak publik merenungkan hubungan erat antara pendidikan, budaya berpikir, dan kualitas demokrasi.

Husein mengutip pandangan yang disebut berasal dari sastrawan Rusia Anton Chekhov mengenai tanda-tanda sebuah negara yang mulai kehilangan kekuatannya. Menurutnya, kerusakan tidak selalu tampak dalam bentuk bangunan yang runtuh atau ekonomi yang kolaps, melainkan ketika masyarakat perlahan kehilangan tradisi berpikir kritis dan lembaga pendidikan tidak lagi mampu melahirkan manusia yang berpengetahuan.

Pendidikan Bukan Sekadar Menghasilkan Ijazah

Dalam catatannya, Husein menyoroti berbagai indikator yang kerap dikaitkan dengan melemahnya sebuah bangsa, mulai dari rendahnya kualitas pendidikan, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, hingga institusi pendidikan yang belum optimal menghasilkan karya intelektual yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia juga mengkritisi model pendidikan yang terlalu menekankan hafalan, kepatuhan, dan indoktrinasi. Menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi ruang lahirnya dialog, kebebasan berpikir, dan keberanian menguji gagasan. Dalam teori pendidikan kritis Paulo Freire, proses belajar bukan hanya memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, tetapi membentuk manusia yang mampu memahami realitas dan berpikir secara mandiri.

Ketika pendidikan hanya berorientasi pada nilai akademik dan kelulusan administratif, fungsi utamanya sebagai pembentuk karakter dan daya nalar berisiko melemah.

Demokrasi Membutuhkan Warga yang Terpelajar

Husein juga menghubungkan persoalan pendidikan dengan kualitas demokrasi. Menurutnya, demokrasi tidak cukup hanya menghadirkan mekanisme pemungutan suara, tetapi membutuhkan warga negara yang mampu memilah informasi, memahami persoalan publik, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.

Ia mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Arab yang mengingatkan bahwa demokrasi memerlukan masyarakat yang terdidik agar keputusan publik tidak mudah dipengaruhi emosi, propaganda, atau informasi yang menyesatkan. Pesan tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk memperkuat kualitas pendidikan sebagai fondasi kehidupan demokrasi, bukan sebagai penolakan terhadap demokrasi itu sendiri.

Dalam perspektif deliberative democracy yang dikembangkan Jürgen Habermas, kualitas demokrasi sangat bergantung pada kemampuan masyarakat membangun diskusi publik yang rasional, terbuka, dan berbasis argumentasi.

Ilmu Pengetahuan Adalah Investasi Bangsa

Pandangan Husein juga sejalan dengan teori human capital yang dikembangkan Theodore Schultz dan Gary Becker. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing suatu negara.

Bangsa yang kuat bukan hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu menciptakan pengetahuan baru, mengembangkan teknologi, dan menyelesaikan persoalan secara kreatif. Sebaliknya, ketika budaya membaca melemah dan ruang publik lebih dipenuhi sensasi daripada substansi, kemampuan bangsa untuk beradaptasi menghadapi perubahan juga akan ikut menurun.

Karena itu, kualitas pendidikan tidak dapat diukur hanya dari jumlah sekolah atau lulusan, tetapi juga dari kemampuan melahirkan masyarakat yang kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan terus belajar sepanjang hayat.

Membangun Masa Depan Dimulai dari Cara Mendidik

Catatan Husein Muhammad menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi atau stabilitas politik. Fondasi terpenting justru terletak pada bagaimana bangsa tersebut mendidik generasi mudanya.

Pendidikan yang mendorong daya pikir, budaya membaca, dan keberanian berdialog akan melahirkan warga negara yang lebih siap menghadapi tantangan zaman. Sebaliknya, apabila pendidikan kehilangan orientasi dan hanya mengejar formalitas, bangsa berisiko kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan menentukan masa depannya sendiri.

Pada akhirnya, investasi terbesar sebuah negara bukanlah gedung atau infrastruktur semata, melainkan manusia yang mampu menggunakan akal, ilmu pengetahuan, dan nilai moral untuk membangun peradaban yang lebih baik. Namun, penting pula dipahami bahwa pandangan Husein Muhammad merupakan refleksi intelektual yang dimaksudkan untuk memantik diskusi mengenai pentingnya penguatan pendidikan, bukan sebagai kesimpulan bahwa suatu negara tertentu telah memenuhi indikator sebagai negara gagal. Justru refleksi semacam ini dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan agar pendidikan tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com