Beritabanten.com – Di tengah aktivitas warga Desa Kali Asin, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, sebuah rumah tiba-tiba kehilangan sebagian kekuatannya. Tanah yang terus tergerus erosi, ditambah terpaan angin, membuat bagian kamar rumah milik Ibu Suemah roboh.
Bagi Suemah, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ia menjalani hari-harinya, menyimpan barang-barang dan menggantungkan rasa aman. Ketika sebagian bangunan runtuh, yang tersisa bukan hanya kerusakan material, tetapi juga kekhawatiran tentang tempat tinggal yang aman.
Kabar itu kemudian sampai kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Jumat, 21 Agustus 2026, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid datang langsung ke rumah Suemah. Ia tidak hanya melihat kerusakan dari kejauhan, tetapi memastikan kondisi rumah dan kesehatan pemiliknya bersama Camat Sukamulya Khalid Mawardi, kepala desa, ketua RT serta jajaran Puskesmas.
Di lokasi, Maesyal melihat sendiri bagaimana erosi tanah telah membuat bangunan kehilangan penyangga.
“Rumahnya roboh karena ada angin dan erosi tanah, hingga mengakibatkan bagian kamar di sebelahnya runtuh,” ujar Maesyal.
Namun kunjungan itu tidak berhenti pada melihat dan mencatat kerusakan.
Bupati langsung mengambil keputusan.
Rumah Suemah akan dibongkar dan dibangun kembali menjadi hunian yang lebih sehat dan nyaman. Pekerjaan tersebut ditargetkan mulai dilakukan pada Minggu, 23 Agustus 2026.
“Insyaallah hari Minggu besok, dua hari lagi, rumah ini akan kita bongkar dan kita bangun kembali menjadi rumah yang sehat dan nyaman,” kata Maesyal.
Ada persoalan lain yang ikut menjadi perhatian.
Suemah sempat mengalami gangguan kesehatan akibat tertimpa bagian bangunan yang roboh. Karena itu, Bupati meminta Puskesmas memberikan pendampingan dan memastikan kondisi kesehatan Suemah terus dipantau.
“Mudah-mudahan Ibu Suemah yang kemarin terkena runtuhan ini bisa cepat kembali pulih sehat karena langsung ditangani oleh Puskesmas,” ujarnya.
Peristiwa di rumah Suemah memperlihatkan sisi lain dari persoalan lingkungan yang sering kali luput dari perhatian. Erosi bukan hanya mengikis tanah, tetapi dapat perlahan menggerus rasa aman warga yang tinggal di kawasan rentan.
Ketika tanah berubah, fondasi rumah ikut terancam.
Dan ketika rumah roboh, keluarga yang tinggal di dalamnya menjadi pihak pertama yang harus menanggung akibat.
Dalam kondisi seperti itu, kehadiran pemerintah menjadi penting, bukan hanya dalam bentuk bantuan material, tetapi juga memastikan warga tidak menghadapi bencana seorang diri.
Maesyal menyebut pembangunan kembali rumah Suemah sebagai bagian dari semangat gotong royong.
“Ini artinya gotong royong bersama masyarakat. Pemerintah hadir untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Kalimat itu kemudian menemukan maknanya ketika Suemah menyampaikan rasa terima kasih.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan jajaran atas bantuan dan kepeduliannya. Alhamdulillah, rumah saya bisa segera dibangun agar bisa aman dan nyaman ditinggali,” ucapnya.
Ada rasa haru dalam kalimat tersebut.
Sebab bagi keluarga yang rumahnya roboh, bantuan tidak selalu harus hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang, kepastian bahwa besok masih ada tempat untuk pulang adalah bantuan yang paling berarti.
Rumah Suemah memang runtuh akibat erosi dan angin.
Tetapi dari reruntuhan itu, muncul satu pesan penting: ketika bencana menyentuh rumah warga kecil, pemerintah tidak boleh hanya hadir setelah semuanya menjadi berita.
Ia harus hadir ketika warga membutuhkan perlindungan.
Dan kali ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang memilih untuk datang, melihat, lalu bergerak. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan