Beritabanten.com – Musim kemarau 2026 perlahan mengubah wajah sejumlah wilayah Kabupaten Serang. Tanah yang biasanya menjadi sumber penghidupan petani mulai mengering, sementara sawah-sawah tadah hujan berada dalam situasi paling rentan.

Sedikitnya 48 desa yang tersebar di 12 kecamatan kini terdampak kekeringan. Dari hamparan lahan pertanian yang terdampak, sekitar 976 hektare mengalami kekeringan dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat. Yang paling menyedihkan, sekitar 133 hektare di antaranya telah mengalami puso atau gagal panen.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Di balik setiap hektare sawah yang gagal panen, ada petani yang kehilangan waktu berbulan-bulan, biaya produksi yang sudah dikeluarkan, serta harapan terhadap hasil panen yang mendadak mengering bersama tanah yang retak.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang menyebut wilayah sawah tadah hujan menjadi kawasan yang paling terpukul. Jawilan, Kopo dan Cikande disebut sebagai sejumlah wilayah dengan kondisi kekeringan paling parah.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang Mochamad Agus mengatakan kepada RII, bahwa persoalan utama berada pada lahan yang tidak memiliki sumber air alternatif.

Ketika hujan berhenti, sawah-sawah itu praktis kehilangan sumber kehidupan.

Pemerintah memang tidak tinggal diam. Sebanyak 38 pompa telah disalurkan untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang masih memiliki sumber air dari irigasi, sungai maupun rawa. Namun solusi tersebut tidak serta-merta dapat menjangkau seluruh sawah.

Ada wilayah yang masih bisa diselamatkan dengan pompa. Ada pula hamparan sawah yang terlalu bergantung pada hujan sehingga membutuhkan sumur dalam sebagai sumber air permanen.

Pemerintah Kabupaten Serang kini mengusulkan pembangunan sumur dalam kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Pompanisasi diprioritaskan untuk wilayah Serang Utara dan Serang Timur, sedangkan kawasan sawah tadah hujan membutuhkan intervensi yang lebih serius.

Kekeringan juga tidak datang sendirian. Sejumlah lahan pertanian mulai menghadapi ancaman hama, termasuk wereng dan tikus. Penyuluh pertanian bersama kelompok tani terus melakukan pendampingan agar petani dapat bertahan di tengah kondisi yang semakin sulit.

Namun persoalannya lebih besar daripada sekadar bagaimana menyelamatkan satu musim tanam.

Ketika 133 hektare sawah sudah dinyatakan puso dan hampir seribu hektare lainnya terdampak, kekeringan mulai memperlihatkan wajahnya sebagai persoalan ketahanan pangan.

Untuk sementara, pemerintah menyebut dampaknya terhadap ketersediaan pangan dan harga beras belum signifikan. Tetapi musim kemarau belum selesai. Jika sumber air terus menyusut dan hujan tak kunjung datang, tekanan terhadap produksi pertanian bisa semakin besar.

Di Serang, musim kemarau akhirnya bukan lagi sekadar cerita tentang panas yang menyengat.

Ia adalah cerita tentang sawah yang kehilangan air, petani yang menunggu langit, dan pemerintah yang berpacu dengan waktu sebelum kekeringan berubah menjadi krisis pangan.

Sebanyak 48 desa kini menjadi penanda bahwa kemarau telah mengetuk pintu kehidupan masyarakat pedesaan Kabupaten Serang.

Dan bagi para petani, setiap hari tanpa hujan bukan sekadar hari yang panas. Itu adalah hari ketika harapan terhadap panen berikutnya semakin tipis. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com