Beritabanten.com – Di sebuah ruang kerja yang mungkin terlihat biasa, Kamis, 20 Agustus 2026, sebuah gagasan tentang masa depan pangan dibicarakan. Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menerima audiensi Ketua Panitia Pelaksana Jambore Nasional Pemuda Ketahanan Pangan.

Pertemuan itu bukan sekadar agenda menerima tamu pemerintah daerah. Di balik pembicaraan tentang jambore, terselip sebuah pertanyaan besar: siapa yang akan menjaga pangan Indonesia ketika generasi hari ini berganti?

Jawabannya bisa jadi ada di tangan anak-anak muda.

Ketahanan pangan selama ini kerap dibicarakan dalam bahasa angka, produksi, distribusi, harga dan cadangan. Namun, di balik semua itu ada wajah manusia. Ada petani yang menanam, keluarga yang menunggu panen, dan masyarakat yang setiap hari menggantungkan hidup pada ketersediaan pangan.

Di tengah perubahan zaman, pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton.

Mereka harus mulai masuk ke ruang-ruang pertanian, teknologi pangan, kewirausahaan, inovasi dan pengelolaan sumber daya alam. Sebab masa depan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan, tetapi juga oleh siapa yang bersedia meneruskan kerja keras di atasnya.

Jambore Nasional Pemuda Ketahanan Pangan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan semangat tersebut.

Di sana, pemuda tidak hanya berbicara tentang pangan sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melihatnya sebagai bagian dari kedaulatan bangsa. Sebab bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu memiliki kerentanan ketika menghadapi perubahan ekonomi, iklim maupun gejolak global.

Bagi Lebak, isu ini memiliki arti tersendiri.

Kabupaten dengan bentang wilayah yang luas dan potensi pertanian tersebut memiliki sumber daya yang dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Namun potensi itu membutuhkan generasi penerus yang mau merawat, mengembangkan dan mengubahnya menjadi kekuatan baru.

Karena itu, dukungan pemerintah daerah menjadi penting.

Audiensi Amir Hamzah dengan panitia Jambore Nasional Pemuda Ketahanan Pangan setidaknya menunjukkan adanya ruang pertemuan antara pemerintah dan energi anak muda. Sebuah ruang yang memungkinkan gagasan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan.

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya soal hari ini.

Ia adalah tentang anak-anak yang belum lahir, tentang meja makan keluarga di masa depan, tentang petani yang masih mampu bertahan di tengah perubahan iklim, dan tentang apakah generasi mendatang masih memiliki tanah yang subur untuk ditanami.

Dari Lebak, pesan itu menjadi semakin jelas: membangun ketahanan pangan berarti menyiapkan generasi yang bersedia menjaga sumber kehidupan.

Dan mungkin, sebuah jambore hanyalah permulaan.

Dari pertemuan sederhana di ruang kerja Wakil Bupati Lebak, sebuah harapan besar sedang mencari jalan untuk tumbuh—bahwa pemuda tidak hanya menjadi pewaris bangsa, tetapi juga penjaga pangan dan masa depannya.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com