Penulis: KH Moersjied Qorie Indra, Driektur Quranik Center Bintaro Tangsel

Beritabanten.com – Ada sebuah keteladanan yang begitu indah dari kehidupan Rasulullah SAW: kesederhanaan seorang pemimpin agung.

Dikisahkan, Umar bin Khattab RA pernah menangis ketika melihat bekas pelepah kurma pada tubuh Rasulullah SAW setelah beliau bangun dari tidurnya. Umar RA merasa terharu. Bagaimana mungkin seorang manusia pilihan, pemimpin agung, dan makhluk yang paling mulia di alam ini menjalani kehidupan yang begitu sederhana?

Dalam gejolak perasaannya, Umar RA membandingkan keadaan Rasulullah SAW dengan para penguasa besar pada masa itu. Kaisar Romawi dan Persia hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta, sementara Rasulullah SAW justru memilih kehidupan yang bersahaja.

Namun, Rasulullah SAW memberikan sebuah pelajaran yang sangat mendalam: dunia bukanlah tujuan akhir kehidupan.

Bagi Rasulullah SAW, kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari megahnya istana, banyaknya harta, atau kemewahan yang dimiliki. Kemuliaan justru lahir dari kesediaan untuk hidup sederhana, berbagi dengan sesama, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Rasulullah SAW adalah potret pemimpin ideal yang senantiasa dirindukan umat manusia. Beliau menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, bahkan dalam keadaan yang sangat sulit. Tidak jarang beliau mengalami lapar berhari-hari, bahkan pernah mengikatkan batu pada perutnya untuk menahan rasa lapar. Beliau juga dikenal tekun berpuasa dan selalu mendahulukan kepentingan umatnya.

Inilah ironi kepemimpinan di zaman modern.

Di tengah masyarakat yang masih bergulat dengan kemiskinan, kesenjangan, dan berbagai kesulitan hidup, masih ada pemimpin yang justru mempertontonkan kemewahan, mengejar kekayaan, berpesta, dan menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperkaya diri serta keluarga.

Padahal, jabatan sejatinya adalah amanah. Kekuasaan bukanlah fasilitas untuk menikmati kehidupan, melainkan tanggung jawab untuk melayani rakyat.

Seorang pemimpin yang benar-benar sederhana, ikhlas, amanah, adil, dan jujur tidak akan tega menyakiti rakyatnya. Ia tidak akan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menumpuk kekayaan. Ia tidak akan melakukan korupsi atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dan ia tidak akan mengutamakan kepentingan pribadi maupun keluarganya di atas kepentingan masyarakat.

Salah satu kekuatan kepemimpinan Rasulullah SAW adalah kedekatan dan kepedulian beliau kepada kaum miskin, dhuafa, dan mereka yang lemah. Mereka tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian penting dari umat yang harus dimuliakan dan diperjuangkan.

Di sinilah sesungguhnya makna kepemimpinan yang sering kita lupakan: pemimpin yang besar bukanlah pemimpin yang paling banyak memiliki, tetapi pemimpin yang paling banyak memberi dan paling besar pengorbanannya untuk rakyat.

Tidak mengherankan apabila Michael H. Hart, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad SAW pada peringkat pertama sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan, penilaian tersebut menunjukkan betapa luas dan mendalam pengaruh keteladanan Rasulullah SAW terhadap perjalanan umat manusia.

Di era yang semakin materialistis dan hedonistis, kita membutuhkan kembali teladan kepemimpinan yang sederhana. Pemimpin yang tidak silau oleh kekuasaan, tidak mabuk oleh fasilitas, tidak menjadikan jabatan sebagai sumber kemewahan, serta tetap dekat dengan rakyat yang dipimpinnya.

Kita membutuhkan pemimpin yang ketika rakyat lapar, hatinya ikut merasakan; ketika rakyat susah, pikirannya mencari jalan keluar; dan ketika rakyat membutuhkan pertolongan, dirinya hadir tanpa banyak bicara.

Kesederhanaan bukan berarti kelemahan. Justru kesederhanaan yang lahir dari keikhlasan, amanah, keberanian, dan kepedulian merupakan sumber kekuatan moral seorang pemimpin.

Maka, di momentum Maulid Rasulullah SAW ini, barangkali yang paling penting bukan sekadar memperingati kelahiran beliau, tetapi menghadirkan kembali akhlak dan keteladanan beliau dalam kehidupan nyata.

Semoga kerinduan kita kepada sosok pemimpin sederhana, amanah, adil, jujur, dan berpihak kepada rakyat seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dapat benar-benar terwujud.

Semoga lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan; pelayanan sebagai kewajiban, bukan pencitraan; dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan, bukan sekadar slogan.

Demi kejayaan Islam, bangsa, dan negara yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Selamat memperingati Maulid Rasulullah SAW.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com