Beritabanten.com — Ada fenomena menarik dalam perjalanan politik Partai Gerindra saat ini. Ketika Prabowo Subianto mencapai puncak kekuasaan dan menjadi Presiden RI, ruang politik Gerindra di tingkat nasional justru terlihat semakin banyak diisi oleh satu nama selain Prabowo, yakni Sufmi Dasco Ahmad.
Padahal, Gerindra memiliki banyak kader yang menduduki posisi strategis, baik di pemerintahan maupun parlemen. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa Dasco terlihat paling konsisten bersinar dibandingkan kader Gerindra lainnya?
Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa Dasco lebih pintar atau lebih piawai memainkan politik. Ada struktur politik yang membuat posisi Dasco memperoleh ruang yang relatif lebih besar.
Sejak awal, Gerindra dikenal memiliki karakter partai yang sangat kuat bercorak personalistik. Dalam teori personalistic party, keberadaan dan kekuatan partai sangat bertumpu pada figur pemimpinnya.
Dalam konteks Gerindra, figur tersebut adalah Prabowo Subianto. Identitas partai, daya tarik elektoral, hingga sejarah pertumbuhan Gerindra tidak dapat dilepaskan dari sosok Prabowo.
Konsekuensinya, kader-kader lain menghadapi persoalan klasik: bagaimana membangun popularitas dan otoritas politik sendiri tanpa terlihat sedang menyaingi figur utama?
Selama Prabowo berada di luar pemerintahan, persoalan tersebut relatif tidak terlalu terlihat. Prabowo menjadi pusat komunikasi sekaligus pusat gravitasi politik Gerindra.
Namun, ketika Prabowo menjadi Presiden, struktur tersebut mengalami perubahan. Prabowo tidak lagi hanya berperan sebagai pemimpin partai, tetapi juga sebagai kepala pemerintahan yang harus membagi perhatian dengan urusan negara.
Dalam perspektif presidentialization of party politics, ketika seorang pemimpin partai menjadi presiden, pusat gravitasi politik perlahan bergerak dari partai menuju institusi kepresidenan.
Partai kemudian membutuhkan figur yang mampu bekerja di antara pusat kekuasaan, parlemen, dan mesin organisasi partai.
Di sinilah posisi Sufmi Dasco Ahmad menjadi strategis.
Dasco berada di antara tiga ruang sekaligus: kekuasaan eksekutif, parlemen, dan partai. Sebagai pimpinan DPR sekaligus salah satu tokoh penting Gerindra, ia memiliki akses yang tidak dimiliki semua kader.
Ia dapat berbicara dalam bahasa parlemen, tetapi tetap memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan. Ia bukan menteri yang identitas publiknya lebih banyak melekat pada pemerintahan, tetapi juga bukan sekadar pengurus partai yang bekerja di belakang layar.
Posisi tersebut membuat visibilitas politik Dasco menjadi relatif unik.
Jika menggunakan perspektif principal-agent, fenomena Dasco juga menjadi lebih mudah dipahami. Seorang pemimpin yang berada di pusat kekuasaan tidak mungkin mengelola seluruh arena politik secara langsung.
Ia membutuhkan orang yang dipercaya untuk menerjemahkan kepentingannya ke dalam berbagai ruang politik. Dalam konteks tersebut, Prabowo membutuhkan figur yang mampu berkomunikasi dengan parlemen, membaca dinamika partai, melakukan negosiasi, dan pada saat yang sama tidak menciptakan pusat kekuasaan alternatif.
Dalam kerangka ini, kekuatan Dasco bukan semata-mata karena ia harus menjadi figur paling populer, melainkan karena ia memiliki posisi sebagai operator politik yang efektif.
Politik memang tidak selalu memberikan penghargaan terbesar kepada orang yang paling banyak berbicara. Kekuasaan justru sering berada pada mereka yang menguasai akses, jaringan, dan kemampuan menghubungkan berbagai kepentingan.
Dasco tampaknya memahami logika tersebut. Ia tidak harus mengambil panggung Prabowo. Justru dengan tetap berada cukup dekat dengan pusat kekuasaan, ia mendapatkan ruang untuk membangun kekuatan politiknya sendiri tanpa harus berhadapan langsung dengan figur utama Gerindra.
Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa sejumlah kader Gerindra lainnya belum menghasilkan efek politik yang sama.
Sebagian kader memiliki jabatan tinggi, tetapi jabatan tidak otomatis melahirkan otoritas politik. Ada perbedaan antara memiliki posisi dan memiliki political visibility.
Seorang menteri dapat memiliki kekuasaan administratif yang besar, tetapi di mata publik identitasnya lebih banyak melekat sebagai pejabat pemerintah. Seorang kader di DPR dapat memiliki pengaruh di parlemen, tetapi belum tentu mempunyai akses langsung kepada pusat kekuasaan.
Dasco berada di titik yang relatif langka karena tiga modal tersebut bertemu dalam dirinya: posisi, akses, dan identitas kepartaian.
Namun, keberhasilan Dasco juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar di tubuh Gerindra, yakni regenerasi elite.
Dalam teori elite circulation, sebuah partai yang sehat seharusnya mampu melahirkan lapisan kepemimpinan baru yang secara perlahan memiliki legitimasi politik sendiri.
Masalahnya, partai yang terlalu kuat bergantung kepada satu figur biasanya menghadapi kesulitan dalam menciptakan figur kedua dan ketiga yang benar-benar mandiri.
Bukan berarti kadernya tidak ada. Persoalannya adalah gravitasi pemimpin utama terlalu kuat.
Prabowo merupakan gravitasi tersebut.
Ketika seorang tokoh memiliki popularitas, sejarah, sumber daya politik, dan otoritas yang jauh lebih besar dibandingkan kader lainnya, hampir semua kader akan terlihat kecil ketika berdiri di sebelahnya.
Dasco mungkin terlihat lebih menonjol bukan karena bayangan Prabowo sudah hilang, tetapi karena ia menemukan cara untuk bekerja di dalam bayangan tersebut tanpa sepenuhnya tenggelam di dalamnya.
Karena itu, pertanyaan mengenai Dasco sebenarnya bukan sekadar siapa kader Gerindra yang paling bersinar.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Dasco sedang tumbuh sebagai calon elite penerus atau hanya menjalankan fungsi sebagai operator utama pada era Prabowo.
Dua hal tersebut sangat berbeda.
Seorang operator mendapatkan kekuatan dari kepercayaan pemimpin. Sementara calon penerus pada akhirnya harus mampu memperoleh legitimasi dari struktur partai, kader, publik, dan jaringan politiknya sendiri.
Jika Dasco berhasil mengubah modal kepercayaan tersebut menjadi legitimasi personal, ia berpotensi berkembang menjadi salah satu figur penting Gerindra dalam jangka panjang.
Namun, jika kekuatannya terlalu bergantung pada kedekatannya dengan Prabowo, maka ia akan tetap menjadi figur penting selama era Prabowo tanpa otomatis menjadi pemimpin Gerindra setelah Prabowo.
Pada akhirnya, fenomena “tinggal Dasco yang bersinar” justru menjadi cermin dari karakter Gerindra itu sendiri.
Gerindra memiliki banyak kader, tetapi belum semuanya memiliki ruang untuk berkembang menjadi pusat gravitasi politik baru. Partai ini masih sangat kuat sebagai partai yang berpusat pada Prabowo.
Selama gravitasi Prabowo tetap kuat, kader seperti Dasco menjadi penting bukan karena harus menggantikan Prabowo, melainkan karena mampu menjadi penghubung antara Prabowo, partai, dan parlemen.
Maka persoalan terbesar Gerindra ke depan bukan hanya bagaimana memenangkan Pemilu 2029.
Persoalan yang jauh lebih strategis adalah bagaimana mengubah partai yang selama ini sangat bergantung pada figur menjadi institusi yang mampu melahirkan figur-figur baru.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah partai bukan hanya ketika pemimpinnya berada di puncak kekuasaan, tetapi ketika partai tersebut tetap memiliki masa depan setelah sang pemimpin tidak lagi menjadi pusat politik.
Di titik inilah Dasco menjadi menarik.
Ia mungkin bukan satu-satunya kader Gerindra yang memiliki kapasitas. Namun sejauh ini, ia termasuk sedikit kader yang berhasil menemukan posisi di antara loyalitas kepada Prabowo dan pembangunan otoritas politiknya sendiri.
Karena itu, pertanyaan tentang Dasco pada akhirnya bukan lagi sekadar “mengapa dia bersinar?”, melainkan “apakah Gerindra sedang menyiapkan Dasco sebagai bagian dari masa depan partai, atau hanya membutuhkannya sebagai penjaga sistem politik Prabowo?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ikut menentukan apakah Gerindra kelak menjadi partai besar yang mampu hidup melampaui Prabowo, atau tetap menjadi partai besar terutama karena Prabowo. (Red
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan