Beritabanten.com – Layanan pembayaran digital paylater kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Dengan konsep “beli sekarang, bayar kemudian”, layanan ini menawarkan kemudahan transaksi tanpa harus langsung mengeluarkan uang tunai.
Namun, seperti filosofi gelas setengah isi dan setengah kosong, paylater dapat dilihat dari dua sudut pandang berbeda. Bagi sebagian masyarakat, layanan ini menjadi solusi ketika membutuhkan barang atau layanan tertentu. Tetapi bagi sebagian lainnya, paylater justru berpotensi menjadi masalah baru apabila digunakan tanpa perencanaan keuangan yang matang.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengingatkan masyarakat agar memahami bahwa fasilitas pembayaran tertunda tetap merupakan kewajiban yang harus dibayarkan.
Menurutnya, kemudahan akses layanan keuangan digital harus diikuti dengan pemahaman mengenai kemampuan membayar, risiko biaya tambahan, serta pentingnya menjaga kesehatan keuangan pribadi.
Di sisi lain, ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai perkembangan paylater tidak bisa dilepaskan dari perubahan perilaku konsumsi masyarakat di era digital.
Menurutnya, paylater dapat memberikan manfaat apabila digunakan untuk kebutuhan yang sudah direncanakan. Namun, layanan tersebut dapat menjadi persoalan apabila digunakan untuk memenuhi gaya hidup dan keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.
“Paylater bisa menjadi alat bantu transaksi, tetapi juga bisa mendorong masyarakat terbiasa membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu mereka bayar,” ujar Bhima dalam berbagai kesempatan.
Dari sisi psikologi konsumen, kemudahan pembayaran tertunda juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan belanja. Ketika pembayaran tidak dilakukan secara langsung, sebagian pengguna menjadi lebih mudah melakukan pembelian impulsif karena tidak merasakan beban transaksi secara langsung.
Fenomena tersebut membuat paylater seperti gelas yang memiliki dua sisi. Jika digunakan secara bijak, isinya adalah kemudahan, fleksibilitas, dan peluang mengatur keuangan. Namun jika digunakan tanpa kontrol, ruang kosongnya dapat berubah menjadi beban tagihan yang terus bertambah.
Karena itu, literasi keuangan menjadi faktor penting dalam penggunaan layanan paylater. Masyarakat perlu memahami bahwa fasilitas tersebut bukan tambahan penghasilan, melainkan bentuk kewajiban pembayaran yang harus diperhitungkan.
Perkembangan teknologi keuangan memang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, kemajuan tersebut harus berjalan bersama dengan kemampuan mengelola keuangan agar tidak menciptakan ketergantungan terhadap utang digital.
Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan paylater, melainkan bagaimana masyarakat menggunakannya. Gelas itu dapat terlihat setengah isi ketika dimanfaatkan secara tepat, tetapi dapat menjadi setengah kosong apabila kemudahan transaksi berubah menjadi kebiasaan berutang tanpa kendali.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan