Beritabanten.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menggelar Seminar Nasional Pendidikan Kader Ulama atau FKUMI bertajuk “Taubat Ekologis: Refleksi Kebijakan dan Tata Kelola SDM”. Menghadirkan peserta dari berbagai perwakilan dari pelosok tanah air.

Menteri Agama Nasaruddin Umar yang mengisi acanya pada hari ini Rabu 17 Desember 2025 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat ini menegaskan pentingnya pemahaman akan hubungan antara agama dan kelestarian alam melalui konsep ekoteologi.

Kata dia, definisi fundamental dari ekoteologi. Ia menjelaskan bahwa kata tersebut tersusun dari “Eko” yang berarti bumi atau alam, “Teo” yang berarti Tuhan, dan “Logi” yang bermakna ilmu.

Secara sederhana, ekoteologi adalah ilmu yang menghubungkan bumi atau alam dengan konsep ketuhanan.

​Konsep panteisme, dikatakan, merupakan kepercayaan bahwa Tuhan dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang sama.

Oleh karena itu, kita wajib menghormati dan menjaga alam semesta karena ia merupakan manifestasi atau bukti nyata dari eksistensi Tuhan itu sendiri.

Menag menjelaskan konsep sufistik mendalam, yakni wahdatul wujud dalam sudut pandang Ibnu Arabi. Konsep ini menyatakan bahwa hanya ada satu Wujud hakiki yang nyata, yaitu Allah SWT, sementara seluruh alam semesta dan isinya hanyalah manifestasi atau penampakan dari Wujud tunggal tersebut.

​”Seluruh hal yang ada di alam ini, sekecil apapun, adalah wujud atau bukti keberadaan Tuhan.” jelas Menag, dinukil redaksi dari rilis resmi.

Pemahaman ini menjadi landasan teologis mengapa manusia dilarang merusak alam. ​Menag kemudian mengaitkan konsep teologis ini dengan kewajiban agama yang tertuang dalam kitab suci.

Ia mengutip beberapa firman dalam Al-Qur’an yang secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menjaga alam, di antaranya adalah Q.S. Ar-Rum ayat 41 dan Q.S. Al-Baqarah ayat 205, yang memperingatkan tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.

​”tidak mungkin membicarakan tentang penanggulangan kerusakan alam secara efektif tanpa turut serta membicarakan tentang Tuhan dan landasan agama.” demikian Menag Nasaruddin. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com