Beritabanten.com – Realisasi belanja negara pada Semester I 2026 mencapai Rp1.656 triliun atau tumbuh 17,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu program dengan alokasi besar adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menyerap sekitar Rp101,1 triliun.
Dari sisi kebijakan fiskal, peningkatan belanja tersebut merupakan upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi melalui dorongan terhadap konsumsi dan aktivitas produksi.
Dalam teori Keynes, belanja pemerintah dapat menjadi penggerak ekonomi ketika konsumsi masyarakat dan investasi swasta belum cukup kuat. Pengeluaran negara dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan menghasilkan efek berantai bagi perekonomian.
Namun, efektivitas belanja pemerintah tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggaran. Dampaknya akan lebih besar apabila belanja mampu meningkatkan produktivitas dan memperkuat kapasitas ekonomi dalam jangka panjang.
MBG memiliki tujuan strategis karena berkaitan dengan perbaikan gizi anak dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam teori human capital Gary Becker, investasi pada kesehatan dan pendidikan merupakan modal penting bagi produktivitas ekonomi.
Namun, manfaat ekonomi program ini bergantung pada tata kelola dan rantai pasoknya. Jika anggaran MBG mampu menggerakkan petani, peternak, nelayan, UMKM pangan, dan industri lokal, maka dampaknya akan lebih besar terhadap ekonomi nasional.
Sebaliknya, jika kebutuhan program banyak dipenuhi melalui impor, sebagian manfaat ekonomi justru keluar dari dalam negeri. Kondisi ini dikenal sebagai import leakage, yaitu ketika stimulus ekonomi tidak sepenuhnya berputar di dalam perekonomian domestik.
Karena itu, ukuran keberhasilan MBG bukan hanya pada besarnya anggaran yang terserap, tetapi pada kemampuan program menciptakan nilai tambah dan memperkuat sektor produksi nasional.
Dalam perspektif pertumbuhan ekonomi, belanja negara harus mampu mendorong produktivitas, bukan hanya meningkatkan konsumsi sesaat.
Pada akhirnya, Rp101,1 triliun untuk MBG akan menjadi stimulus ekonomi yang efektif apabila mampu menciptakan rantai manfaat yang luas bagi masyarakat. APBN yang kuat bukan sekadar besar dalam jumlah belanja, tetapi mampu mengubah setiap rupiah menjadi peningkatan produktivitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan