Beritabanten.com – Indonesia pernah menjadi simbol kedermawanan dunia. Dalam World Giving Index (WGI) 2024, Indonesia menempati posisi pertama untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut. Saat itu, Charities Aid Foundation (CAF) mencatat 90 persen responden Indonesia mengaku memberikan uang untuk kegiatan amal, 65 persen menjadi relawan, dan 66 persen pernah membantu orang yang tidak mereka kenal.

Namun, potret tersebut berubah dalam laporan terbaru CAF, World Giving Report: Donor Insights 2026. Indonesia tidak masuk dalam 10 besar. Pertanyaan pun muncul: apakah masyarakat Indonesia mulai semakin pelit?

Jawabannya tidak bisa langsung disimpulkan demikian. Ada perubahan besar dalam cara kedermawanan diukur. WGI sebelumnya menggunakan tiga indikator utama, yakni membantu orang asing, memberikan uang untuk amal, dan menjadi relawan. Sementara World Giving Report 2026 memperluas pengukuran dengan 28 pertanyaan dan mencakup 105 negara.

CAF menjelaskan bahwa World Giving Report 2026 merupakan pendekatan baru yang menggali lebih dalam mengenai sikap dan perilaku masyarakat dalam memberi. Karena metodologinya berbeda, posisi Indonesia dalam laporan 2026 tidak tepat dibaca sebagai kelanjutan langsung dari peringkat Indonesia sebagai negara paling dermawan pada periode sebelumnya.

Meski demikian, perubahan ukuran tersebut tetap membuka pertanyaan penting bagi Indonesia. Budaya memberi di Tanah Air selama ini memang sangat kuat, tetapi bentuknya tidak selalu identik dengan donasi kepada lembaga amal. Ada zakat, infak, sedekah, wakaf, bantuan kepada keluarga, gotong royong, membantu tetangga, hingga penggalangan dana secara langsung.

Artinya, tantangannya bukan semata-mata apakah masyarakat masih mau mengeluarkan uang, tetapi sejauh mana seluruh bentuk kedermawanan tersebut dapat tertangkap dalam pengukuran yang lebih luas. Kepercayaan terhadap lembaga penerima, transparansi penggunaan dana, kondisi ekonomi rumah tangga, serta semakin beragamnya pilihan untuk menyalurkan bantuan juga menjadi bagian dari konteks yang perlu diperhatikan.

Karena itu, keluarnya Indonesia dari 10 besar laporan 2026 sebaiknya tidak buru-buru diterjemahkan sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia menjadi pelit. Perbandingan antara WGI 2024 dan World Giving Report 2026 justru menunjukkan bahwa perubahan metode pengukuran dapat menghasilkan gambaran yang berbeda mengenai perilaku memberi.

Jika pada 2024 Indonesia berada di posisi pertama berdasarkan tiga indikator utama, kini CAF mencoba melihat kedermawanan dengan pertanyaan yang jauh lebih luas. Bagi Indonesia, persoalannya bukan semata-mata mempertahankan gelar sebagai negara paling dermawan, melainkan memastikan budaya berbagi yang telah mengakar dapat terus tumbuh, dipercaya, dikelola dengan baik, dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com