Beritabanten.com – Humor bagi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukan sekadar cara membuat orang tertawa. Di balik guyonannya, sering terdapat kritik sosial, pesan kemanusiaan, dan cara untuk meruntuhkan sekat-sekat yang membuat kehidupan beragama menjadi kaku.
Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang mampu membicarakan persoalan agama, politik, kebangsaan dan kemanusiaan dengan bahasa yang ringan. NU Online mencatat humor menjadi bagian penting dalam cara Gus Dur menyampaikan gagasan. Bahkan, sejumlah ungkapan terkenalnya memperlihatkan bagaimana humor dipakai untuk menyentil kekuasaan dan persoalan sosial tanpa kehilangan pesan kemanusiaan. (
Di tangan Gus Dur, guyonan bukan berarti menganggap persoalan agama sebagai sesuatu yang remeh. Justru sebaliknya, humor menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan serius dengan bahasa yang dapat diterima banyak kalangan.
Ungkapan Gus Dur seperti “gitu aja kok repot” kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana bahasa sederhana dapat memiliki makna sosial yang luas. NU Online menyebut humor Gus Dur sebagai bagian dari sikap kritisnya dalam dunia intelektual. Humor tidak ditempatkan sebagai lawan dari keseriusan, melainkan sebagai salah satu cara menyampaikan kritik.
Di sinilah relevansi humor Gus Dur dengan gagasan keberagamaan inklusif menjadi menarik. Keberagamaan inklusif tidak berarti mencampuradukkan akidah atau menyamakan seluruh agama. Dalam penjelasan KH Nuril Huda yang dimuat NU Online, pluralisme yang diperjuangkan Gus Dur lebih berkaitan dengan kehidupan sosial: menghormati orang lain sembari tetap teguh pada keyakinan sendiri.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus kehilangan identitas keagamaannya untuk menghormati orang yang berbeda agama.
Prinsip itu sesungguhnya sangat dekat dengan karakter masyarakat Indonesia yang sejak awal dibangun di atas kemajemukan. Gus Dur melihat keberagaman bukan sebagai gangguan terhadap kehidupan berbangsa, tetapi sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan kedewasaan.
Alissa Wahid pernah mengutip pemikiran ayahnya bahwa keberagaman merupakan raison d’etre atau alasan keberadaan Indonesia. Tanpa keberagaman, menurut gagasan tersebut, Indonesia tidak memiliki alasan yang sama untuk hadir sebagai negara bangsa dengan karakter seperti sekarang.
Karena itu, keberagamaan yang inklusif bukan berarti menjadi kurang religius. Justru tantangannya adalah bagaimana keyakinan yang kuat melahirkan sikap yang dewasa terhadap perbedaan.
Dalam kerangka pemikiran Gus Dur, agama mempunyai dimensi kemanusiaan yang kuat. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pernah menjelaskan bahwa pemikiran Gus Dur berangkat dari keyakinan tentang Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dalam masyarakat yang plural, nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam penghormatan terhadap kemanusiaan dan pluralisme.
Gagasan tersebut juga tercermin dalam tulisan Gus Dur tentang “Pribumisasi Islam”. Ia membedakan agama sebagai sumber norma dengan kebudayaan sebagai produk manusia yang terus berkembang. Menurut Gus Dur, perbedaan itu tidak menghalangi agama untuk hadir dalam berbagai bentuk kebudayaan masyarakat. (
Pemikiran ini penting karena persoalan keberagamaan di Indonesia sering kali tidak berhenti pada persoalan benar dan salah secara teologis. Ia bersinggungan dengan budaya, tradisi, identitas sosial dan kehidupan kebangsaan.
Di titik tersebut, humor dapat memainkan fungsi sosial. Guyonan memungkinkan manusia melihat dirinya sendiri dari jarak tertentu. Orang yang terlalu serius dengan identitas kelompoknya terkadang kehilangan kemampuan untuk menertawakan kelemahan sendiri. Padahal, kemampuan menertawakan diri sendiri dapat menjadi salah satu bentuk kerendahan hati.
Gus Dur memahami ruang sosial Indonesia yang penuh perbedaan itu. Ia pernah memimpin NU pada 1984 hingga 1999, sebelum kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia keempat pada 1999-2001. Arsip Kepresidenan ANRI mencatat bahwa selama kiprahnya, Gus Dur aktif dalam diskusi mengenai agama, sosial, politik dan kebudayaan dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.
Pengalaman tersebut membuat pemikiran Gus Dur tentang keberagaman tidak berdiri di ruang teori semata. Ia tumbuh dari pergulatan langsung dengan masyarakat, organisasi keagamaan, negara dan berbagai kelompok sosial.
Kajian akademik mengenai pemikiran Gus Dur juga menunjukkan bahwa perjuangannya mengenai pluralisme agama dapat dibaca melalui tiga fokus: kesetaraan, toleransi dan dialog antaragama. Artinya, pluralisme Gus Dur bukan hanya soal berbicara baik tentang perbedaan, tetapi juga mengenai bagaimana perbedaan ditempatkan dalam relasi sosial yang setara.
Karena itu, istilah “inklusif” perlu dipahami secara hati-hati. Inklusivitas bukan berarti semua pandangan harus disetujui. Inklusivitas justru menuntut kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pandangan tanpa menghilangkan prinsip masing-masing.
Dalam masyarakat demokratis, kemampuan semacam itu semakin penting. Perbedaan pilihan politik, mazhab pemikiran, organisasi, tradisi keagamaan dan latar belakang budaya tidak semestinya otomatis berubah menjadi permusuhan.
Warisan Gus Dur dalam konteks ini bukan sekadar kumpulan guyonan. Yang lebih penting adalah cara berpikir di balik guyonan tersebut: tidak mudah tersinggung, berani mengkritik kekuasaan, tidak memandang kelompok lain sebagai musuh hanya karena berbeda, serta menempatkan manusia sebagai bagian penting dari kehidupan beragama.
Wahid Foundation, lembaga yang didirikan Gus Dur, hingga kini menjadikan pluralisme, multikulturalisme, demokrasi, HAM dan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari visi kelembagaannya. Lembaga tersebut juga mengembangkan gagasan Islam yang toleran dan moderat serta dialog antaragama dan kebudayaan.
Persoalannya, semangat tersebut masih menghadapi tantangan. Alissa Wahid pada 2024 menyebut kebebasan beragama di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan mengutip adanya persoalan intoleransi serta pelanggaran kebebasan beragama. Ia juga mengingatkan bahwa sentimen agama dapat menguat pada tahun-tahun politik.
Artinya, warisan pemikiran Gus Dur belum selesai. Ia justru terus diuji oleh perubahan zaman.
Di tengah media sosial yang mudah mengubah perbedaan menjadi pertengkaran, humor Gus Dur menjadi relevan bukan karena semua persoalan harus ditertawakan, tetapi karena masyarakat membutuhkan kemampuan untuk berdialog tanpa selalu merasa terancam.
Beragama secara inklusif bukan berarti kehilangan keyakinan. Menjadi toleran bukan berarti membenarkan semua hal. Dan bercanda tentang persoalan sosial bukan berarti tidak serius terhadap agama.
Barangkali di situlah kekuatan guyonan Gus Dur. Ia membuat orang tertawa, tetapi setelah tawa reda, ada pertanyaan yang tertinggal: apakah keberagamaan kita sudah membuat manusia merasa lebih dihargai, atau justru membuat perbedaan semakin sulit diterima?
Pertanyaan itu menjadi penting bagi NU dan masyarakat Indonesia hari ini. Sebab keberagamaan yang matang bukan hanya terlihat dari seberapa kuat seseorang mempertahankan keyakinannya, tetapi juga dari kemampuannya menghormati martabat manusia yang berbeda dengannya.
Pada akhirnya, guyonan Gus Dur mungkin sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu terdapat pesan yang tidak sederhana: agama seharusnya hadir untuk memuliakan manusia, sementara perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling meniadakan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan