Beritabanten.com – Tata kelola Filantropi Islam harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus profesional dan akuntabel.

Pandangan itu diutarakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar  Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Ketum PB IKA-PMII), Fathan Subchi periode 2025-2026.

Dia mengantarkan Seminar Nasional bertema “Filantropi Islam di Era Sustainable Development Goals (SDGs)” di Kampus Unwahas, Semarang, Senin (26/5/2025).

Giat itu kerja sama PB IKA-PMII dengan sejumlah lembaga strategis, seperti BAZNAS RI, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), IAEI, dan KNEKS.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow menjelang pengukuhan PB IKA-PMII periode 2025–2030 pada 9 Juli mendatang.

Fokus diskusi diarahkan pada penguatan peran filantropi Islam sebagai salah satu pilar pendukung pencapaian SDGs.

“Dinamika dan tantangan filantropi Islam ke depan sangat menarik untuk dikaji. Teknologi, digitalisasi, kualitas SDM, serta kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting,” katanya di depan ratusan peserta, Senin.

“Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prinsip utama dalam tata kelolanya,” dia tambahkan.

Karananya, potensi alumni PMII sangat besar dan harus diorganisir secara sistematis untuk mendukung berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

“IKA-PMII harus mampu menjadi jembatan untuk menghimpun kekuatan alumni,” dia tegaskan.

Fathan Subchi beberkan teknologi informasi mutakhir akan mempermudah pergerakan, dari pembinaan mahasiswa, beasiswa doktoral, hingga pemberdayaan komunitas.

“Ini momentum untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan,” tambah dia.

Harapan dia, seminar memberikan pijakan Strategis PB IKA-PMII 2025–2030 dalam menjawab tantangan global melalui pendekatan ekonomi Islam yang kolaboratif, inovatif, dan berbasis nilai-nilai keumatan.

Lembaga Amil Zakat IKA PB+PMII

Ketua BAZNAS RI, KH. Noor Achmad sebagai pemateri mendorong PMII dan IKA-PMII segera membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebagai bagian dari penguatan peran Filantropi Islam.

“Potensi zakat sangat luar biasa. Jika ada 100 ribu anggota IKA-PMII yang rutin menyumbang Rp100 ribu per bulan, itu sudah Rp10 miliar. Apalagi dengan teknologi seperti WhatsApp dan QRIS, semuanya menjadi mudah,” ujar dia.

Prof. Noor juga menekankan bahwa saat ini donasi digital menjadi sumber utama penghimpunan zakat, dengan nominal kecil yang konsisten dan berdampak besar.

“Hilangkan masa yang suram di PMII. Selesai sudah derita-derita itu. Tangan terkepal, maju ke muka. Semoga ke depan kita mendapat kedamaian bersama PMII,” katanya.

Pematari lainnya adalah Saidah Sakwan sebagai Pimpinan BAZNAS RI, K.H. Imdadun Rahmat, sebagai Deputi BAZNAS RI, Muhammad Ishom sebagai Guru Besar UIN SMH Banten dan Noor Hadi sebagai Akademisi IAIN Kudus. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com