Beritabanten.com – Hamparan sawah di Desa Kwala Gunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, tampak berbeda pada Rabu, 22 Juli 2026. Di tengah bulir-bulir padi yang menguning, senyum para petani merekah. Bukan semata karena musim panen telah tiba, melainkan karena kerja keras mereka selama berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil yang melimpah.
Sebanyak 150 ton Gabah Kering Panen (GKP) berhasil dipanen dari lahan seluas 32 hektare yang dikelola oleh 52 petani binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui Program Lumbung Pangan. Hasil panen itu menjadi lebih dari sekadar angka produksi. Ia menjadi simbol bahwa dana zakat yang dikelola secara produktif mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan perjalanan panjang para petani yang selama ini mendapatkan pendampingan, mulai dari penyediaan benih, teknologi budidaya, hingga akses pasar. Program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi membangun kemandirian agar petani mampu meningkatkan produktivitas dan memperbaiki taraf hidupnya secara berkelanjutan.
Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, mengatakan Program Lumbung Pangan dirancang untuk mengoptimalkan manfaat zakat dalam memberdayakan petani sekaligus memperkuat kedaulatan pangan daerah. Menurutnya, zakat tidak hanya berfungsi membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan jangka panjang.
Ia menjelaskan, secara akumulatif Program Lumbung Pangan BAZNAS di Kabupaten Batu Bara telah memberdayakan 258 petani yang mengelola lahan seluas 180,3 hektare dengan berbagai varietas unggul, seperti Sebatu, Serang, MR, Sedayu, hingga Proton. Potensi produksinya diperkirakan mencapai 1.082 ton gabah setiap musim panen dengan nilai ekonomi sekitar Rp7,3 miliar.
Keberhasilan di Batu Bara menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas. Sejak 2018, Program Lumbung Pangan BAZNAS telah berkembang di 21 lokasi yang tersebar di 11 provinsi dengan nilai bantuan sekitar Rp10 miliar kepada 1.629 mustahik. Program ini bahkan ditetapkan sebagai salah satu dari 13 program prioritas BAZNAS periode 2026–2031 yang menitikberatkan pada pendampingan teknis, penerapan teknologi pertanian, hingga penguatan akses pemasaran hasil panen.
Sodik menegaskan, keberhasilan tersebut tidak mungkin tercapai tanpa kolaborasi berbagai pihak. Sinergi antara BAZNAS, pemerintah daerah, akademisi, ulama, serta kelompok tani menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus memperkuat sektor pertanian melalui pengembangan sekitar 86 hektare lahan demplot padi modern. Langkah tersebut sejalan dengan upaya mendukung program ketahanan pangan nasional yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau kita punya ketahanan pangan yang luar biasa, maka kita tidak akan pernah goyah,” ujar Baharuddin.
Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Batu Bara Jum’ah Hadirsyah mengatakan pihaknya terus mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat melalui sektor pertanian sejak 2018. Dukungan BAZNAS RI berupa bantuan senilai Rp373 juta kepada tiga kelompok tani di Desa Kwala Gunung dinilai menjadi energi baru bagi para petani untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus memperkuat ekonomi keluarga mereka.
Bagi para petani, panen raya ini bukan hanya tentang hasil yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang tumbuhnya harapan. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mereka membuktikan bahwa kolaborasi, pendampingan, dan pemanfaatan dana zakat secara produktif mampu melahirkan perubahan nyata. Dari sawah-sawah di Batu Bara, lahir pesan bahwa zakat tidak hanya mengurangi kemiskinan, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan