Beritabanten.com – Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan jalan tol, gedung bertingkat, atau pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang besar, menurutnya, juga harus dibangun melalui pelestarian budaya, penguatan karakter, dan penghormatan terhadap akar tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

Pandangan tersebut kembali terlihat dalam penyelenggaraan kirab budaya yang menghadirkan beragam simbol tradisi Nusantara menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Ribuan peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, membawa kesenian tradisional, hingga menghadirkan sosok bocah angon yang menjadi perhatian publik.

Bagi Dedi Mulyadi, kirab budaya bukan sekadar parade atau tontonan seremonial. Ia merupakan ruang untuk memperkenalkan kembali identitas bangsa kepada generasi muda sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman budaya yang menjadi perekat persatuan.

“Kalau budaya kita hilang, bangsa ini akan kehilangan jati dirinya. Pembangunan bukan hanya membangun fisik, tetapi juga membangun karakter manusianya,” menjadi pandangan yang berulang kali disampaikan Dedi Mulyadi dalam berbagai kesempatan.

Karena itu, hampir setiap kegiatan yang dipimpinnya selalu menghadirkan unsur budaya lokal. Baginya, nilai gotong royong, kesederhanaan, penghormatan kepada alam, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran merupakan modal sosial yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan infrastruktur.

Kehadiran bocah angon dalam kirab menuju Istana Negara menjadi simbol yang sarat makna. Sosok penggembala itu menggambarkan kehidupan masyarakat desa yang sederhana, pekerja keras, jujur, dan dekat dengan alam. Nilai-nilai tersebut diyakini Dedi Mulyadi sebagai fondasi moral yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Pengamat budaya dari Universitas Padjadjaran, Kunto Sofianto, menilai simbol-simbol budaya yang dihadirkan dalam ruang publik memiliki kekuatan membangun kesadaran kolektif masyarakat. Menurutnya, budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dalam membangun masa depan bangsa.

Hal senada disampaikan budayawan Mohamad Sobary yang berpandangan bahwa kebudayaan merupakan ruh sebuah bangsa. Negara dapat berkembang secara ekonomi, tetapi tanpa kebudayaan yang kuat, identitas nasional akan semakin mudah terkikis oleh arus globalisasi.

Melalui kirab budaya, Dedi Mulyadi ingin menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus memutus hubungan dengan tradisi. Justru budaya dapat menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan adat istiadat yang dimiliki Indonesia.

Kirab budaya juga menjadi media pendidikan karakter. Anak-anak dan generasi muda diajak mengenal pakaian adat, seni tradisional, filosofi kehidupan masyarakat Nusantara, hingga nilai gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Di tengah derasnya arus modernisasi, langkah Dedi Mulyadi menghadirkan budaya ke ruang publik dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan identitas. Kemajuan teknologi, ekonomi, dan infrastruktur tetap penting, tetapi akan lebih bermakna apabila berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.

Kirab budaya yang digagas Dedi Mulyadi akhirnya menjadi pesan bahwa membangun negeri tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan pembangunan fisik. Membangun bangsa juga berarti menjaga ingatan kolektif, merawat tradisi, dan menanamkan kebanggaan terhadap budaya sendiri agar Indonesia tetap kokoh sebagai bangsa yang berkarakter di tengah perubahan zaman. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com