Beritabanten.com— Ada cita-cita yang tidak selesai dalam satu upacara. Ada harapan yang tidak cukup hanya diucapkan dalam sebuah amanat. Dan bagi Gerakan Pramuka Kota Serang, peringatan Hari Pramuka ke-65 menjadi momentum untuk menanam sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sekadar perayaan: membangun generasi muda yang berkarakter sekaligus meninggalkan ruang yang kelak menjadi rumah bagi proses pembentukan mereka.
Di Lapangan Pusat Pemerintahan Kota Serang, Rabu (26/8/2026), suasana peringatan Hari Pramuka ke-65 terasa bukan sekadar sebagai seremoni tahunan. Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Serang, Nur Agis Aulia, yang juga Wakil Wali Kota Serang, membawa satu pesan penting: Pramuka harus terus bergerak mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai ruang pembentukan karakter generasi bangsa.
Enam puluh lima tahun bukan perjalanan yang singkat. Selama puluhan tahun, Gerakan Pramuka menjadi bagian dari proses panjang membentuk anak-anak dan remaja agar mengenal kedisiplinan, kemandirian, keterampilan, tanggung jawab, kebersamaan dan semangat kebangsaan.
“Enam puluh lima tahun Gerakan Pramuka telah menjadi perjalanan panjang pengabdian dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, disiplin, mandiri, terampil, bertanggung jawab, dan memiliki semangat kebangsaan,” ujar Nur Agis.
Namun zaman telah berubah. Tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini tidak lagi sama dengan generasi sebelumnya. Karena itu, menurut Nur Agis, Pramuka tidak boleh berhenti pada tradisi dan kegiatan rutin. Organisasi kepanduan tersebut harus mampu menjadi ruang yang membuat anak muda belajar menghadapi kehidupan nyata.
Tema Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026, “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”, pun didorong menjadi energi untuk menghadirkan kegiatan yang lebih kreatif, produktif dan memiliki dampak nyata.
“Pramuka Kota Serang harus terus bergerak. Dari gugus depan, kwartir ranting hingga kwartir cabang, kita bangun pembinaan yang semakin kuat, kegiatan yang semakin berkualitas, serta kader-kader yang siap menjadi generasi penerus bangsa,” katanya.
Di balik pesan tersebut, ada sebuah gagasan yang menjadi perhatian Kwarcab Kota Serang: Bumi Perkemahan Berbudi.
Namanya sederhana, tetapi gagasan di baliknya jauh lebih besar daripada sekadar hamparan tanah untuk mendirikan tenda. Bumi Perkemahan Berbudi diproyeksikan menjadi ruang tempat anak-anak muda belajar, berlatih, berkreativitas, menempa keberanian, membangun kemandirian dan menghidupkan semangat pengabdian.
“Bumi Perkemahan Berbudi bukan sekadar tempat berkemah. Kita ingin menjadikannya sebagai pusat pendidikan, pembinaan, kreativitas, keterampilan, dan pengabdian generasi muda Kota Serang,” ujar Nur Agis.
Di tempat seperti itulah karakter tidak hanya diajarkan melalui kata-kata. Kedisiplinan dapat tumbuh dari kebiasaan. Kemandirian lahir dari pengalaman. Kepemimpinan ditempa ketika seseorang dipercaya mengambil keputusan. Solidaritas tumbuh ketika anak-anak muda belajar hidup dan bekerja bersama.
Karena itu, Bumi Perkemahan Berbudi diharapkan menjadi lebih dari sekadar sebuah fasilitas. Ia diproyeksikan menjadi ruang hidup bagi proses pendidikan karakter yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Bagi Kota Serang, kehadiran fasilitas tersebut juga dapat menjawab kebutuhan akan ruang pembinaan Pramuka yang lebih representatif. Kegiatan pendidikan dan pelatihan tidak lagi sekadar berlangsung secara insidental, tetapi dapat dikembangkan menjadi proses pembinaan yang berkelanjutan.
Namun sebuah cita-cita sebesar itu tentu tidak mungkin dibangun oleh satu pihak.
Nur Agis menyadari, pembangunan Bumi Perkemahan Berbudi membutuhkan gotong royong dari berbagai unsur. Pemerintah Kota Serang dan Kwarda Banten, jajaran Kwarcab dan Kwarran, gugus depan, pembina, pelatih, orang tua, dunia usaha hingga para mitra Gerakan Pramuka diharapkan mengambil bagian.
“Kami menyadari bahwa cita-cita besar ini tidak mungkin diwujudkan oleh satu atau dua orang. Ini adalah ikhtiar kita bersama,” tuturnya.
Kalimat tersebut menjadi penting karena membangun ruang bagi generasi muda pada akhirnya bukan hanya persoalan membangun infrastruktur. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ruang itu benar-benar hidup dan digunakan untuk melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan sekaligus karakter.
Bumi Perkemahan Berbudi karena itu diharapkan kelak menjadi semacam warisan. Bukan warisan dalam bentuk bangunan semata, melainkan warisan berupa tempat yang memungkinkan generasi demi generasi Pramuka Kota Serang tumbuh dan belajar.
Ada anak yang mungkin untuk pertama kalinya tidur di dalam tenda. Ada yang belajar memimpin regu. Ada yang belajar memasak sendiri. Ada yang jatuh saat mengikuti kegiatan dan bangkit kembali. Ada yang menemukan keberanian berbicara di depan orang lain. Ada pula yang mungkin kelak menjadi pemimpin daerah, pengusaha, guru, anggota TNI, polisi, profesional atau tokoh masyarakat.
Semua proses itu membutuhkan ruang.
Dan ruang itulah yang ingin disiapkan melalui Bumi Perkemahan Berbudi.
“Hari ini kita menyampaikan harapan. Besok kita mulai dengan langkah. Dan pada waktunya, kita ingin melihat Bumi Perkemahan Berbudi benar-benar berdiri sebagai karya nyata dan warisan untuk generasi Pramuka Kota Serang,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa peringatan Hari Pramuka ke-65 tidak dimaksudkan sebagai titik akhir. Upacara hanyalah satu hari. Sementara pembentukan karakter membutuhkan bertahun-tahun.
Karena itu, semangat Pramuka harus dibawa keluar dari lapangan upacara dan masuk ke kehidupan masyarakat. Dari gugus depan, kwartir ranting hingga kwartir cabang, pembinaan harus terus berjalan. Kreativitas harus diberi ruang. Keterampilan harus dilatih. Kepedulian sosial harus ditumbuhkan.
Pramuka juga harus mampu menjawab persoalan zaman, termasuk tantangan ketahanan pangan, perubahan teknologi, lingkungan dan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Di tengah semua itu, kekuatan terbesar Gerakan Pramuka tetap berada pada kebersamaan. Itulah yang ingin terus dirawat Kwarcab Kota Serang melalui kolaborasi berbagai unsur.
Nur Agis menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Serang, Kwarda Banten, jajaran Kwarcab dan Kwarran, Mabigus, pembina, pelatih, Dewan Kerja, Satuan Karya, Satuan Komunitas, orang tua dan seluruh pihak yang selama ini menopang kegiatan Gerakan Pramuka.
Sebab generasi muda tidak tumbuh sendirian. Mereka membutuhkan keluarga yang mendukung, sekolah yang mendidik, lingkungan yang sehat, serta ruang sosial yang memungkinkan mereka belajar dan berkembang.
Dalam konteks itulah, Hari Pramuka ke-65 menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari satu gugus depan, satu kegiatan, satu pembina yang sabar, satu anak yang belajar bertanggung jawab, atau satu ruang sederhana tempat anak-anak muda berani mencoba sesuatu untuk pertama kalinya.
Bumi Perkemahan Berbudi diharapkan menjadi salah satu ruang tersebut.
Tempat di mana anak-anak Kota Serang bukan hanya belajar mendirikan tenda, tetapi juga belajar mendirikan masa depan mereka sendiri.
Tempat di mana kata “mandiri” bukan sekadar slogan, tetapi menjadi kebiasaan.
Tempat di mana “berbudi” bukan sekadar nama, tetapi menjadi karakter.
Dan tempat di mana semangat Pramuka tidak berhenti pada seragam, tanda kecakapan atau upacara, melainkan menjelma menjadi keberanian untuk berkarya dan kepedulian untuk mengabdi.
“Mari kita bergerak bersama. Kita bangun Pramuka Kota Serang yang kuat, mandiri, berkarakter, dan berbudi. Dan mari kita wujudkan Bumi Perkemahan Berbudi sebagai bukti bahwa cita-cita yang kita tanam hari ini dapat menjadi kenyataan di kemudian hari,” pungkas Nur Agis. (HS/RED)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan