Beritabanten.com – Guru Besar Bidang Tafsir Maqashidi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., membagikan gagasan terbaru tentang pengembangan metodologi tafsir Al-Qur’an dalam seminar akademik di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan.

Seminar yang digelar Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah itu mengangkat tema “Dari Munasabah menuju Maqashidi: Pendekatan Integratif dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an”. Kegiatan diikuti dosen, mahasiswa, peneliti, dan pemerhati studi Al-Qur’an dari berbagai perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Prof. Hasani menjelaskan bahwa kajian tafsir terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian adalah tafsir maqashidi yang berupaya menggali tujuan-tujuan utama (maqāṣid) di balik pesan Al-Qur’an.

Menurutnya, tafsir maqashidi tidak meninggalkan khazanah klasik. Justru pendekatan tersebut dibangun di atas metodologi tafsir yang telah berkembang selama berabad-abad, termasuk kajian munāsabah atau hubungan antarayat dan antarsurah.

“Munāsabah mengajarkan kepada kita bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur’an memiliki keterkaitan yang sangat mendalam. Dari pemahaman tersebut, seorang mufasir dapat menangkap tujuan besar atau maqāṣid yang hendak diwujudkan Al-Qur’an,” jelas Prof. Hasani.

Ia menegaskan, munāsabah dan maqāṣid bukan dua pendekatan yang saling menggantikan. Keduanya justru saling melengkapi untuk menghasilkan penafsiran yang utuh dan kontekstual.

Pendekatan integratif tersebut dinilai mampu menghadirkan tafsir yang kuat secara tekstual sekaligus relevan menjawab berbagai persoalan kontemporer. Di antaranya keadilan sosial, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia, moderasi beragama, pembangunan perdamaian, hingga etika pemanfaatan teknologi.

Prof. Hasani juga menekankan bahwa mufasir era modern harus mampu membaca Al-Qur’an secara menyeluruh. Penafsiran tidak cukup berhenti pada aspek bahasa atau sebab turunnya ayat, tetapi juga memahami struktur, kesinambungan tema, konteks historis, serta tujuan universal syariat.

Menurutnya, tafsir maqashidi menjadi salah satu arah baru dalam pengembangan studi Al-Qur’an. Pendekatan ini mampu menjembatani warisan intelektual klasik dengan kebutuhan masyarakat modern.

Seminar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Diskusi berkembang mulai dari metodologi tafsir, hubungan tafsir klasik dan kontemporer, hingga peluang pengembangan riset tafsir maqashidi di perguruan tinggi.

Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. Adi Abdullah, Lc., M.A., mengapresiasi kehadiran Prof. Hasani Ahmad Said. Menurutnya, seminar tersebut membuka perspektif baru bagi sivitas akademika dalam memahami perkembangan metodologi tafsir.

Sebagai Guru Besar Tafsir Maqashidi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Hasani Ahmad Said dikenal aktif mengembangkan kajian tafsir, ulumul Qur’an, dan pemikiran Islam melalui berbagai penelitian serta forum akademik nasional maupun internasional.

Melalui seminar tersebut diharapkan lahir semangat baru dalam pengembangan penelitian Al-Qur’an yang kritis, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi akademik antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Gus Dur Pekalongan dalam memajukan studi keislaman di Indonesia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com