Beritabanten.com — Suasana Masjid Al-Aman Polres Tangerang Selatan (Tangsel) pada Senin siang, 27 Juli 2026, masih dipenuhi suasana khusyuk meski pelaksanaan shalat Dzuhur telah selesai. Para jemaah tidak langsung beranjak meninggalkan masjid. Mereka tetap duduk dalam barisan, melanjutkan dzikir, memanjatkan doa, serta menyimak tausyiah keagamaan yang disampaikan selepas ibadah.

Usai memimpin doa, imam shalat berjemaah kemudian bergeser menuju podium masjid untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman. Dalam ceramahnya, ia mengangkat sebuah hadis yang dikutip dari kitab Riyadhus Shalihin tentang kedekatan manusia dengan pilihan antara kebaikan dan keburukan.

Ia menjelaskan bahwa manusia setiap saat berada dalam posisi yang sangat dekat dengan dua kemungkinan tersebut. Kebaikan maupun keburukan sama-sama mudah dijangkau, sehingga seorang muslim harus senantiasa menjaga hati, pikiran, dan langkahnya agar tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT.

Dalam tausyiahnya, ia menggambarkan pilihan antara kebaikan dan keburukan seperti posisi tali sandal jepit yang melekat dekat dengan pemakainya. Perumpamaan itu menunjukkan bahwa keputusan untuk melakukan kebaikan atau keburukan sering kali hanya bergantung pada kemauan dan kesungguhan seseorang dalam mengendalikan dirinya.

“Hadis Nabi tersebut mengingatkan kepada kita untuk selalu berusaha berbuat baik. Karena jarak antara kebaikan dan keburukan dengan diri kita sangat dekat, seperti tali sandal jepit,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak para jemaah untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amal kebaikan. Menurutnya, kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta akan menjadi jalan yang memudahkan seseorang dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan.

Pesan tersebut dikuatkan dengan firman Allah SWT dalam Surah Qaf ayat 16 yang menjelaskan kedekatan Allah dengan manusia:

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan Allah SWT sangat dekat. Allah mengetahui isi hati, niat, pikiran, dan setiap langkah hamba-Nya. Kesadaran akan kedekatan inilah yang diharapkan mampu mendorong manusia untuk selalu memilih jalan kebaikan.

Ibadah menjadi salah satu jalan utama bagi seorang hamba untuk membangun kedekatan dengan Allah SWT. Melalui shalat, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, serta berbagai amal kebajikan lainnya, seorang muslim dilatih untuk selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas kehidupan. Kedekatan spiritual tersebut menghadirkan ketenangan hati sekaligus menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian.

Selain sebagai bentuk ketaatan, ibadah juga membentuk karakter manusia agar lebih mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang tidak baik. Seseorang yang menjaga hubungan dengan Allah akan lebih berhati-hati dalam ucapan, sikap, dan tindakan karena menyadari bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Karena itu, memperbanyak ibadah bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga menjadi upaya membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan hati yang dekat kepada Allah, seseorang diharapkan lebih mudah menerima petunjuk, memilih jalan kebaikan, serta menghadirkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ceramahnya, ia memberikan gambaran bahwa kedekatan dengan pihak yang memiliki kekuasaan di dunia saja dapat mempermudah urusan manusia.

“Coba perhatikan, ada banyak orang yang bisa cepat mengurus KTP karena dekat dengan seorang kepala daerah. Apalagi jika kita dekat dengan penguasa alam raya, Allah SWT,” tuturnya.

Melalui tausyiah tersebut, para jemaah Masjid Al-Aman Polres Tangsel diajak memahami bahwa kesempatan untuk berbuat baik selalu terbuka. Namun, karena jarak antara kebaikan dan keburukan begitu dekat, manusia perlu terus menjaga hubungan dengan Allah agar langkahnya senantiasa diarahkan menuju jalan yang benar. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com