Beritabanten.com – Tangerang Selatan (Tangsel) bersiap menjadi pusat perhatian olahraga Banten. Pada pertengahan November 2026, kota ini akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten, sebuah hajatan olahraga yang melibatkan delapan kabupaten/kota dan mempertandingkan 60 cabang olahraga.
Ribuan atlet, pelatih, ofisial hingga pendukung diperkirakan akan bergerak dan beraktivitas di berbagai penjuru Tangsel. Artinya, Porprov bukan sekadar urusan pertandingan dan perebutan medali. Ada wajah kota yang dipertaruhkan.
Wakil Wali Kota Tangsel sekaligus Ketua Umum Panitia Besar Porprov VII Banten, Pilar Saga Ichsan, menegaskan kesuksesan Porprov tidak cukup diukur dari meriahnya pembukaan maupun lancarnya pertandingan.
“Prinsipnya, sukses Porprov itu adalah sukses pelaksanaan dan sukses pertanggungjawaban,” ujar Pilar, dalam.keterangan tersiar luas pada Sabtu (12/9/2026).
Pernyataan tersebut menjadi penting karena menjadi tuan rumah berarti Tangsel akan menjadi etalase Banten selama penyelenggaraan berlangsung.
Atlet dan ofisial yang datang tidak hanya akan melihat arena pertandingan. Mereka akan bersentuhan dengan jalan, transportasi, hotel, restoran, fasilitas kesehatan, pusat perdagangan hingga ruang publik. Pengalaman mereka selama berada di Tangsel pada akhirnya ikut membentuk citra kota.
Karena itu, kesiapan venue hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar.
Pertanyaan yang lebih luas adalah: apakah akses menuju arena siap? Apakah fasilitas pertandingan memenuhi standar? Bagaimana layanan kesehatan dan pengamanan? Apakah arus lalu lintas mampu mengantisipasi pergerakan kontingen? Dan yang tak kalah penting, apakah masyarakat Tangsel sudah mengetahui bahwa kotanya akan menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Banten?
Di sinilah Porprov harus dibuat “gacor”.
Bukan hanya ramai di seremoni, tetapi benar-benar terasa di tengah masyarakat.
Sejak awal, Panitia Besar Porprov tidak ingin penyelenggaraan menjadi acara eksklusif pemerintah dan organisasi olahraga. Pemkot Tangsel, KONI Tangsel, KONI Provinsi Banten, pelaku usaha, pengelola hotel, UMKM, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan hingga media didorong masuk dalam satu ekosistem penyelenggaraan.
Targetnya sederhana tetapi besar: menjadikan Porprov sebagai hajatan masyarakat Tangsel.
Sebab pesta olahraga tanpa dukungan masyarakat akan kehilangan atmosfernya.
Warga harus tahu kapan pertandingan digelar, cabang olahraga apa saja yang dipertandingkan, di mana venue berada, bagaimana akses menuju lokasi, serta pertandingan mana yang bisa disaksikan secara langsung.
Sosialisasi pun menjadi pekerjaan penting menjelang November.
Memasuki September, Oktober hingga pelaksanaan pada November, publikasi akan diperluas melalui media daring, surat kabar, media luar ruang, media sosial dan berbagai kanal informasi publik. Komunitas serta pemangku kepentingan di Tangsel juga diharapkan ikut menjadi corong informasi Porprov.
“Ayo kita hadir untuk meramaikan, untuk mendukung Porprov Banten ke-7 yang ada di Kota Tangerang Selatan,” kata Pilar.
Ajakan tersebut bukan sekadar mengisi tribun.
Sorak penonton, dukungan warga dan atmosfer pertandingan merupakan bagian dari pengalaman para atlet yang datang membawa nama daerah masing-masing.
Dari sisi ekonomi, Porprov juga menyimpan peluang yang tidak kecil.
Ribuan atlet, pelatih, ofisial dan pendukung yang datang berarti ada pergerakan baru bagi hotel, restoran, kuliner, transportasi, pusat perdagangan, UMKM hingga berbagai sektor jasa.
Jika dikelola dengan baik, perputaran aktivitas selama Porprov dapat memberikan efek ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Dengan kata lain, medali memang diperebutkan di arena. Tetapi peluang ekonomi berpotensi dirasakan di luar arena.
Tangsel pun tidak mengandalkan satu kawasan olahraga.
Venue pertandingan tersebar di berbagai wilayah dengan memanfaatkan fasilitas pemerintah, kampus, swasta dan institusi lainnya. Pola ini membuat Porprov secara tidak langsung membawa aktivitas olahraga ke berbagai penjuru kota.
Jalan yang dilalui kontingen, hotel tempat atlet menginap, restoran tempat mereka makan, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan hingga ruang publik akan ikut menjadi bagian dari wajah Porprov.
Inilah kesempatan Tangsel untuk “menjual” kota bukan melalui iklan semata, tetapi melalui pengalaman langsung ribuan tamu yang datang.
Kuliner, perhotelan, pusat perdagangan, fasilitas olahraga dan ruang publik dapat menjadi etalase bagi masyarakat Banten yang selama ini mungkin belum mengenal Tangsel secara lebih dekat.
Namun, peluang besar selalu datang bersama tanggung jawab besar.
Porprov VII Banten bukan hanya pertaruhan siapa yang menjadi juara umum. Ini juga menjadi ujian bagi kemampuan Tangsel mengelola sebuah event besar dengan tertib, profesional dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Jangan sampai pesta olahraga hanya ramai di spanduk, media sosial dan seremoni pembukaan, tetapi sepi dari partisipasi warga.
Sebaliknya, jangan pula Porprov hanya meninggalkan tumpukan pekerjaan setelah obor pertandingan padam.
Karena itu, prinsip yang disampaikan Pilar tentang “sukses pelaksanaan dan sukses pertanggungjawaban” patut menjadi pegangan.
November nanti, Tangerang Selatan bukan sekadar menyediakan lapangan pertandingan.
Tangsel akan menjadi panggung Banten.
Di sanalah para atlet bertarung mengejar prestasi, masyarakat menunjukkan dukungan, pelaku usaha menangkap peluang, dan pemerintah daerah diuji dalam mengelola sebuah pesta olahraga berskala provinsi.
Jika seluruh elemen bergerak bersama, Porprov VII Banten bukan hanya sukses sebagai kompetisi.
Ia bisa menjadi momentum untuk membuat Tangsel semakin dikenal, semakin hidup, dan semakin bangga menjadi bagian dari Banten. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan