Beritabanten.com – Ada sebuah kalimat Presiden Prabowo Subianto yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan sosial yang jauh lebih dalam. “Banyak rakyat kita masih miskin, tapi mereka bisa tersenyum,” ujar Prabowo dalam sebuah kesempatan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kalimat itu menggambarkan salah satu wajah masyarakat Indonesia. Di tengah keterbatasan ekonomi, masih banyak warga yang menjalani kehidupan dengan senyum, bekerja, bergotong royong, saling membantu dan berusaha menjaga harapan agar kehidupan terus berjalan.
Senyum itu nyata. Ketahanan itu juga nyata. Tetapi pertanyaan yang lebih penting justru berada di baliknya: apakah senyum tersebut benar-benar menunjukkan kebahagiaan, atau merupakan cara rakyat bertahan ketika pilihan hidup mereka sangat terbatas?
Kemiskinan tidak selalu tampak dalam wajah yang murung. Seorang ibu tetap memasak meski penghasilan keluarga pas-pasan. Seorang buruh tetap berangkat bekerja meski upah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seorang pedagang kecil tetap membuka lapak meski keuntungan tidak seberapa.
Mereka mungkin tetap tertawa bersama keluarga. Mereka mungkin tetap menghadiri kegiatan warga. Bahkan dalam keadaan sulit, mereka masih mampu membantu tetangga yang membutuhkan. Tetapi semua itu tidak serta-merta berarti bahwa persoalan kemiskinan telah selesai.
Di sinilah pernyataan “miskin tetapi tersenyum” perlu dibaca secara hati-hati. Senyum bisa menjadi tanda optimisme, tetapi bisa pula menjadi mekanisme bertahan menghadapi tekanan kehidupan. Manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, termasuk ketika keadaan tersebut jauh dari ideal.
Dalam perspektif Amartya Sen, konsep adaptive preferences menjelaskan bagaimana seseorang yang hidup dalam keterbatasan dapat menyesuaikan keinginan dan harapannya dengan apa yang dianggap mungkin dicapai. Ketika pilihan hidup semakin sempit, standar tentang apa yang disebut cukup pun dapat ikut berubah.
Karena itu, seseorang bisa merasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya sekaligus tetap berada dalam kondisi miskin. Dua hal tersebut tidak harus bertentangan. Persoalannya muncul ketika rasa syukur dan ketahanan masyarakat justru digunakan untuk membenarkan keadaan yang seharusnya diperbaiki.
Budaya nrimo juga memiliki posisi yang serupa. Dalam pengertian positif, nrimo dapat dimaknai sebagai kemampuan menerima keadaan dengan ikhlas tanpa kehilangan ketenangan. Sikap ini dapat menjadi kekuatan psikologis ketika seseorang menghadapi kesulitan.
Namun jika penerimaan tersebut berubah menjadi keyakinan bahwa kemiskinan memang harus diterima sebagai nasib, persoalannya menjadi berbeda. Masyarakat bisa kehilangan keberanian untuk mempertanyakan mengapa kesempatan kerja layak sulit diperoleh, mengapa pendidikan berkualitas belum merata atau mengapa sebagian keluarga tetap rentan ketika menghadapi sakit dan kehilangan pekerjaan.
Kemiskinan pada akhirnya bukan sekadar tentang apakah seseorang masih mampu tersenyum. Kemiskinan berkaitan dengan kemampuan seseorang memperoleh makanan bergizi, pendidikan yang baik, layanan kesehatan, tempat tinggal layak, pekerjaan yang memberikan penghasilan memadai dan jaminan menghadapi masa depan.
Karena itu, ukuran keberhasilan negara tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah rakyat masih bisa tersenyum. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah rakyat memiliki pilihan hidup yang semakin luas.
Rakyat yang tersenyum karena kehidupannya membaik tentu merupakan kabar baik. Tetapi rakyat yang tersenyum karena telah belajar bertahan dalam keterbatasan membutuhkan perhatian yang berbeda. Negara tidak boleh keliru membaca ketangguhan sebagai tanda bahwa persoalan sudah selesai.
Indonesia memiliki modal sosial yang besar. Gotong royong, solidaritas keluarga, kepedulian antarwarga dan kemampuan masyarakat untuk saling membantu merupakan kekuatan yang selama ini membuat banyak keluarga mampu melewati masa-masa sulit.
Namun ketahanan masyarakat tidak boleh dijadikan pengganti tanggung jawab negara. Warga boleh kuat, tetapi negara tetap harus hadir memastikan mereka memperoleh kesempatan yang adil untuk meningkatkan kehidupannya.
Di sinilah berbagai program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan serta menyediakan perlindungan sosial harus diuji bukan hanya dari besarnya anggaran, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan rakyat.
Program yang baik bukan sekadar membuat masyarakat mampu bertahan. Lebih jauh, kebijakan harus membuka jalan agar masyarakat keluar dari kerentanan dan memiliki kemampuan berdiri lebih kokoh secara ekonomi.
Sebab ada perbedaan besar antara rakyat yang bahagia dalam kondisi sejahtera dan rakyat yang tersenyum karena telah terbiasa menghadapi kesulitan. Keduanya mungkin tampak sama dari luar, tetapi memiliki cerita yang sangat berbeda di dalamnya.
Karena itu, kalimat Presiden Prabowo tentang rakyat miskin yang masih bisa tersenyum seharusnya menjadi refleksi, bukan pembenaran. Senyum rakyat adalah kekuatan yang harus dihargai, tetapi kemiskinan tetap merupakan persoalan yang harus diselesaikan.
Pada akhirnya, tugas negara bukan sekadar menjaga agar rakyat tetap mampu tersenyum ketika hidup dalam keterbatasan. Tugas yang lebih besar adalah menciptakan kondisi ketika rakyat dapat tersenyum karena kebutuhan dasarnya terpenuhi, anak-anaknya memperoleh pendidikan yang baik, pekerjaan tersedia, kesehatan terjamin dan masa depan tidak lagi menjadi sumber kecemasan.
Senyum rakyat memang indah. Tetapi negara tidak boleh puas hanya karena rakyat miskin masih mampu tersenyum. Yang jauh lebih penting adalah memastikan suatu hari nanti, mereka tersenyum bukan karena telah terbiasa dengan kemiskinan, melainkan karena kehidupan mereka benar-benar telah menjadi lebih sejahtera. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan