Beritabanten.com – Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, menyimpan potensi yang tidak sedikit. Kopi puhu, ikan sinyonya, wisata budaya Bukit Sinyonya, kerajinan anyaman pandan, batik desa hingga kekayaan budaya lokal menjadi modal yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat.
Namun potensi saja belum cukup. Dibutuhkan kelembagaan yang sehat, sumber daya manusia yang memiliki kapasitas, tata kelola yang kuat serta keberanian untuk memulai. Dari kebutuhan itulah pendampingan terhadap Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Bandung dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat PKN STAN.
Kegiatan yang berlangsung di kompleks wisata Bukit Sinyonya pada 5 Agustus 2026 tersebut menjadi ruang untuk membuka kembali pembicaraan tentang masa depan koperasi desa. Tim PKN STAN tidak hanya membawa materi akademik, tetapi terlebih dahulu mendengarkan persoalan yang dihadapi pengurus dan mencari kemungkinan jalan keluarnya.
Pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan pendampingan kedua bagi KDMP Desa Bandung. Ada hal yang membuat kegiatan kali ini semakin istimewa, yakni keterlibatan tiga mahasiswa internasional asal Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) yang sedang menempuh pendidikan di PKN STAN.
Mereka adalah Dircia Lemos Alves, Miguel Pedro da Costa Soares Sarmento dan Maria Auxiliadora Kuluma’a Soares de Jesus. Kehadiran ketiganya menjadikan kegiatan tersebut bukan sekadar forum pendampingan, tetapi juga ruang pertukaran pengalaman tentang bagaimana desa mengelola potensi dan membangun kemandirian ekonomi.
Tim pendamping juga berasal dari tiga program studi berbeda, yakni D3 Kebendaharaan Negara, D3 Manajemen Aset dan D4 Manajemen Keuangan Negara. Keberagaman keilmuan tersebut membuat pembahasan tidak hanya menyentuh aspek usaha, tetapi juga pengelolaan keuangan, aset dan tata kelola kelembagaan.
Dari pemetaan yang dilakukan, ditemukan sejumlah persoalan yang masih membayangi KDMP Desa Bandung. Hingga semester pertama 2026, belum ada kegiatan usaha yang dijalankan. Rapat Anggota Tahunan 2025 juga belum terlaksana, sementara jumlah anggota masih 21 orang.
Di sisi keuangan, dana yang terkumpul dari simpanan pokok dan simpanan wajib mencapai sekitar Rp9 juta dan masih berada di bendahara. Gerai KDMP juga belum dibangun karena belum tersedia lahan. Persoalan lainnya, ketua KDMP mengajukan pengunduran diri karena kesibukannya mengelola Desa Wisata Bukit Sinyonya.
Persoalan tersebut menjadi bahan diskusi bersama. Tim pengabdian mendorong agar koperasi tidak menunggu seluruh fasilitas tersedia untuk mulai bergerak. Rapat anggota perlu segera dilaksanakan, sementara dana yang telah dihimpun dapat mulai dimanfaatkan untuk kegiatan usaha sesuai ketentuan dan melalui kerja sama dengan potensi ekonomi yang sudah ada di desa.
Ketua tim pengabdian, Joko Sumantri, mendorong KDMP Desa Bandung membangun kolaborasi dengan BUM Desa dan Desa Wisata Bukit Sinyonya. Menurutnya, koperasi tidak harus menunggu hadirnya gerai untuk menjalankan aktivitas ekonomi.
Koperasi, katanya, harus tumbuh dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Prinsip tersebut menjadi penting agar koperasi tidak hanya menjadi lembaga yang tercatat secara administratif, tetapi benar-benar menjadi wadah ekonomi yang hidup dan melibatkan masyarakat.
Di sinilah potensi Desa Bandung menemukan ruangnya. Koperasi dapat menjadi penghubung antara produk lokal, kebutuhan masyarakat, aktivitas wisata dan peluang ekonomi desa. Kopi puhu, ikan sinyonya, kerajinan, batik maupun potensi wisata tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi sebagai sumber penghidupan yang dapat dikembangkan secara bersama.
Subagyo, anggota tim pengabdian, mengingatkan bahwa kekuatan koperasi tidak hanya terletak pada modal. Integritas dan tata kelola menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat, dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada anggota.
Kepercayaan menjadi modal yang tidak kalah penting dari uang. Koperasi yang mampu menjaga amanah dana anggota akan memiliki fondasi lebih kuat untuk berkembang dan mendapatkan dukungan masyarakat.
Anggota tim lainnya, Tanda Setiya, melihat kolaborasi antara KDMP, BUM Desa dan Desa Wisata sebagai peluang untuk mempercepat pencapaian SDGs Desa Bandung. Tujuh jenis usaha yang diarahkan pemerintah dapat dikembangkan secara bertahap sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat.
Perdagangan sembako dan kebutuhan pokok dapat mendukung ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan. Pengadaan sarana produksi serta penyerapan hasil pertanian dapat memperkuat rantai ekonomi petani. Sementara layanan simpan pinjam mikro dan layanan keuangan dapat membuka peluang pertumbuhan usaha masyarakat.
Layanan kesehatan dan logistik desa juga memiliki ruang untuk dikembangkan. Artinya, koperasi tidak harus berhenti sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi dapat menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi dan pelayanan masyarakat apabila dikelola dengan baik.
Bagi tiga mahasiswa asal Timor-Leste, pengalaman di Desa Bandung memberikan kesan tersendiri. Mereka melihat langsung bagaimana masyarakat desa berupaya mengembangkan kekayaan lokal menjadi sumber nilai tambah dan manfaat ekonomi.
Desa Wisata Bukit Sinyonya, produksi kopi puhu, ikan sinyonya, anyaman pandan, batik desa dan kekayaan budaya lokal menjadi contoh bahwa pembangunan desa dapat dimulai dari apa yang sudah dimiliki masyarakat.
Pengalaman tersebut bahkan diharapkan dapat dibawa pulang ke Timor-Leste. Pengetahuan yang diperoleh dari Desa Bandung dapat menjadi inspirasi bagi mereka untuk melihat kemungkinan pengembangan potensi desa di daerah asal masing-masing.
Pertemuan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan pengabdian. Ada ilmu yang dibawa dari kampus ke desa, tetapi ada pula pengalaman desa yang dibawa kembali oleh mahasiswa internasional untuk menjadi bahan pembelajaran di tempat lain.
Bagi PKN STAN, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah. Pendampingan akan terus dilakukan melalui evaluasi dan komunikasi lanjutan, baik secara langsung maupun daring.
Harapannya, kesepakatan yang lahir dari pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen atau catatan kegiatan. KDMP Desa Bandung diharapkan mulai bergerak, membangun kerja sama, memperkuat tata kelola dan perlahan mengubah potensi desa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Sebab koperasi desa pada akhirnya bukan sekadar tentang gerai, simpanan atau struktur kepengurusan. Ia adalah tentang bagaimana warga memiliki ruang untuk tumbuh bersama, bagaimana potensi desa tidak keluar tanpa nilai tambah bagi masyarakat, dan bagaimana ekonomi dibangun dari kekuatan warga sendiri.
Dari Bukit Sinyonya, Desa Bandung sedang menunjukkan bahwa masa depan desa dapat dibangun dari potensi yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Dengan kolaborasi, integritas dan keberanian untuk memulai, koperasi dapat menjadi jalan baru menuju desa yang lebih mandiri dan sejahtera. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan