Beritabanten.com – Ibadah umroh merupakan perjalanan spiritual yang menantang, karena akan teringat atas jejak perjuangam dakwah Nabi Mihammad SAW. Jaziah arab yang terbilang gersang penuh pegunungan tidak menjadi halangan bagi Nabi untuk berdakwah.
Hal tersebut merupakan kesan istimewa Ahmad Wafa seorang warga Desa Kalijaran, Kecamatan Katanganyar Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah.
Perjuangannya untuk sampai ke tanah suci merupakan anugrah dalam perjalanan kariernya sebagai pekerja di salah satu kantor konsultan di BSD Serpong Kota Tangsel.
Dia membagikan pengalaman menjadi karyawan dari tahun 2013, datang dari kampung halaman untuk mencari peruntungan bekal hidup bersama kelurga.
“Saya menjalami saja bekerja tanpa mengira akan bisa berangkat ke tanah suci. Kan mahal juga itu ongkosnya jika harus menyisihkan tabungan dari gaji bekerja,” kata dia pada media, Selasa 8 Juli 2025.
Selama dirinya menjalani ibadah umroh banyak menemukan kesan perjuangan Nabi SAW dari banyak tempat yang dikunjunginya. Terutama menyaksikan masjidiln Haram di Kota Mekkah
“Masjidnya memang adem banget. Tapi yang paling berkesan bahwa tempat itu menjadi perjuangan membebaskan Kota Mekah dari kafir quraisy,” dia jelaskan.
Dalam pembebasan Kota Mekah yang dikenal Futhu Makkah itu, dikatakan, tidak melahirkan korban jiwa karena Nabi SAW meminta para warga non muslim untuk tetap menjalankan keyakinannya dan dijamin untuk selamat.
“Non muslim bahkan diizinkan tetap bisa tinggal di Kota Mekah meski tidak masuk agama Islam. Mereka juga sampai kini masih tinggal di Kota Mekah,” dia jelaskan.
Padahal, kata dia, non muslim yang dibiarkan nabi untuk tetap tinggal di Kota Mekkah pernah melakukan perbuatan keji kepada dirinya maupun banyak kaum muslim ketika dulu melakukan ibadah umroh atau haji mendatangi Kota Mekah.
“Nabi seolah mengajak seluruh umat muslim di dunia agar tetap menghargai keyakinan agama loin dengan hidup rukun tanpa ada perilaku kasar atau menghujat agamanya,” kata dia.
Prinsip menghormati sesama umat manusia meski beda keyakinan juga dikatakan Wafa terjadi di tanah air yeng terbukri dengan Pancasila. Sila Pancasila mengandung nilai toleransi pada sesama warga negara meski berbeda agama.
“Prinsip hidup bernegara kita ternyata sesuai dengan perjuangan Nabi ketika berdakwah. Saya merasakan itu ketika umroh kemarin, makanya menjadi kangen pengen lagi pergi ke tanah suci,” demikian dia menutup. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan