Beritabanten.com – Kasus yang dialami Azis Suraji, warga Depok, menjadi pengingat bahwa konflik bertetangga dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar perselisihan sehari-hari. Berdasarkan pemberitaan, Azis mengaku mengalami berbagai bentuk intimidasi sejak 2024, mulai dari rumah yang dilempari sampah, pagar dirusak, hingga ancaman yang membuat keluarganya merasa tidak lagi aman tinggal di rumah sendiri. Persoalan yang disebut berawal dari konflik dengan tetangga itu bahkan telah dimediasi, namun menurut pengakuannya, gangguan kembali terjadi sehingga akhirnya ditempuh jalur hukum.

Peristiwa tersebut bukan hanya menyangkut sengketa antarindividu, melainkan juga menggambarkan tantangan kehidupan sosial di tengah masyarakat modern. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi ruang yang dipenuhi rasa cemas. Ketika sumber ketakutan berasal dari orang yang tinggal hanya beberapa meter dari tempat kita hidup setiap hari, dampaknya bukan hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis seluruh anggota keluarga.

Konflik Tetangga Lebih Sulit Diselesaikan Dibanding Konflik Biasa

Perselisihan dengan tetangga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan konflik dengan orang lain. Hubungan bertetangga berlangsung setiap hari dalam ruang sosial yang sama. Bertemu di jalan lingkungan, melihat satu sama lain, hingga berbagi fasilitas umum membuat konflik sulit dihindari. Karena itu, persoalan kecil yang tidak segera diselesaikan berpotensi berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.

Dalam psikologi sosial dijelaskan bahwa banyak konflik besar justru berawal dari persoalan yang tampak sepele. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, persoalan parkir, suara bising, atau teguran sederhana dapat berubah menjadi pertikaian ketika masing-masing pihak merasa harga dirinya diserang. Ketika emosi mengambil alih, fokus tidak lagi pada penyelesaian masalah, melainkan pada keinginan untuk membalas atau membuktikan siapa yang paling benar.

Fenomena tersebut diperkuat oleh konsep dehumanisasi, yaitu kondisi ketika seseorang mulai kehilangan kemampuan memandang pihak lain sebagai sesama manusia yang memiliki hak dan perasaan. Pada tahap ini, tindakan intimidasi atau perusakan dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh pelaku karena lawan sudah dipandang sebagai musuh, bukan lagi tetangga yang hidup berdampingan.

Modal Sosial yang Mulai Memudar

Dari perspektif sosiologi, hubungan bertetangga merupakan bagian dari social capital atau modal sosial sebagaimana dikemukakan Robert Putnam. Modal sosial dibangun melalui rasa saling percaya, komunikasi, dan norma bersama yang memungkinkan masyarakat hidup secara harmonis meskipun memiliki banyak perbedaan.

Masyarakat yang memiliki modal sosial kuat bukan berarti bebas dari konflik. Perbedaannya terletak pada kemampuan menyelesaikan persoalan melalui dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap sesama. Ketika kepercayaan antarwarga melemah, konflik kecil lebih mudah berkembang menjadi permusuhan karena tidak lagi ada ruang untuk saling memahami.

Kondisi inilah yang mulai banyak terlihat di kawasan perkotaan. Orang tinggal berdampingan selama bertahun-tahun, tetapi tidak saling mengenal. Interaksi sosial semakin berkurang, sementara rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar ikut memudar. Akibatnya, setiap persoalan lebih mudah diselesaikan dengan prasangka daripada komunikasi.

Mengapa Agama Memberi Tempat Istimewa bagi Tetangga?

Hampir seluruh agama besar mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Dalam Islam, misalnya, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman adalah memuliakan tetangga. Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial bukan sekadar urusan duniawi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Ajaran tersebut lahir karena tetangga merupakan orang yang paling dekat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan darurat, sering kali tetanggalah yang pertama mengetahui dan memberikan pertolongan sebelum keluarga atau kerabat datang. Oleh sebab itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga berarti membangun sistem perlindungan sosial paling dasar dalam kehidupan bermasyarakat.

Agama juga mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada ritual. Nilai keimanan harus tercermin dalam perilaku, termasuk kemampuan mengendalikan amarah, menghormati orang lain, dan menghindari tindakan yang menimbulkan rasa takut. Seseorang tidak dapat disebut berhasil menjalankan nilai agama apabila kehadirannya justru menjadi sumber keresahan bagi lingkungan sekitarnya.

Membangun Kembali Budaya Dialog

Kasus yang terjadi di Depok menjadi pelajaran bahwa penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan proses hukum. Penegakan hukum memang penting untuk melindungi hak korban dan menjaga ketertiban, tetapi masyarakat juga membutuhkan budaya dialog, mediasi, dan komunikasi yang sehat agar persoalan tidak berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.

Lingkungan yang baik bukanlah lingkungan tanpa konflik, melainkan lingkungan yang memiliki kemampuan menyelesaikan perbedaan secara bermartabat. Sikap saling menghargai, kesediaan meminta maaf, dan kemampuan menahan emosi sering kali menjadi solusi yang lebih efektif daripada membiarkan kebencian terus tumbuh.

Pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau megahnya pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana warganya mampu hidup berdampingan dengan damai. Tetangga seharusnya menjadi orang pertama yang menghadirkan rasa aman, bukan sumber ketakutan. Ketika hubungan bertetangga dibangun di atas empati, penghormatan, dan nilai-nilai agama, lingkungan akan kembali menjadi tempat yang nyaman untuk tumbuh, hidup, dan saling menjaga. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com