Beritabanten.com – Di tengah derasnya arus informasi dan padatnya aktivitas di media sosial, semakin banyak orang memilih menikmati pemandangan alam sebagai cara sederhana untuk mengistirahatkan mata dan pikiran. Fenomena ini bukan sekadar tren, tetapi memiliki dasar ilmiah yang telah lama dikaji para ahli psikologi, kesehatan mata, dan ilmu lingkungan.

Paparan layar ponsel, komputer, dan gawai dalam waktu lama dapat memicu digital eye strain atau kelelahan mata digital. Kondisi ini ditandai dengan mata kering, penglihatan kabur, sakit kepala, hingga sulit berkonsentrasi. Ketika kondisi tersebut terjadi, melihat hamparan pepohonan, pegunungan, atau langit terbuka kerap memberikan rasa nyaman yang sulit diperoleh dari layar digital.

Profesor Stephen Kaplan dan Rachel Kaplan, pakar psikologi lingkungan dari University of Michigan, melalui Attention Restoration Theory menjelaskan bahwa alam memiliki kemampuan memulihkan perhatian manusia yang mengalami kelelahan mental. Menurut mereka, lingkungan alami menawarkan rangsangan yang lembut (soft fascination) sehingga otak dapat beristirahat tanpa kehilangan fokus sepenuhnya.

“Alam membantu memulihkan kapasitas perhatian yang terkuras akibat aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi,” tulis Kaplan dalam berbagai publikasi mengenai psikologi lingkungan.

Pendapat serupa juga disampaikan psikolog lingkungan Roger Ulrich melalui Stress Recovery Theory. Ia menjelaskan bahwa pemandangan alam mampu mempercepat proses pemulihan stres dibandingkan lingkungan perkotaan yang padat. Bahkan hanya melihat pepohonan atau lanskap hijau selama beberapa menit dapat membantu menurunkan ketegangan psikologis.

Dari sisi kesehatan mata, American Optometric Association menjelaskan bahwa penggunaan perangkat digital secara terus-menerus membuat otot mata bekerja lebih keras karena fokus pada jarak dekat dalam waktu lama. Akibatnya, mata menjadi cepat lelah dan terasa tidak nyaman.

Karena itu, para dokter mata mengenalkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, seseorang dianjurkan mengalihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik. Jika objek yang dilihat berupa pepohonan atau pemandangan alam, manfaat relaksasinya dinilai bisa lebih besar.

Dokter mata sekaligus profesor di Johns Hopkins University, Neil Bressler, menjelaskan bahwa mengistirahatkan mata secara berkala penting untuk mengurangi ketegangan akibat penggunaan layar yang berkepanjangan. Selain itu, berkedip lebih sering juga membantu menjaga kelembapan permukaan mata.

Tidak hanya kesehatan mata, paparan ruang hijau juga berdampak terhadap kesehatan mental. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Scientific Reports pada 2019 menunjukkan bahwa menghabiskan waktu sekitar dua jam setiap pekan di ruang terbuka hijau berkaitan dengan tingkat kesehatan fisik dan psikologis yang lebih baik.

Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak orang kini sengaja berlibur ke pegunungan, hutan, pantai, atau sekadar duduk di taman setelah berjam-jam berhadapan dengan media sosial. Bukan semata mencari foto yang menarik, tetapi juga memberi kesempatan bagi mata dan otak untuk beristirahat dari banjir informasi digital.

Di era ketika layar menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, menikmati pemandangan alam dapat menjadi “senam mata” sekaligus terapi sederhana untuk menjaga kesehatan. Sesekali mengalihkan pandangan dari gawai menuju hijaunya pepohonan atau luasnya langit bukan hanya menyegarkan mata, tetapi juga membantu memulihkan pikiran yang lelah akibat terus-menerus terhubung dengan dunia digital. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com