Beritabanten.com – Pemkot Tangsel melakukan berbagai upaya maksimal dalam menanggulangi permasalahan banjir agar melahirkan wilayah layak huni bagi semua orang.
Permasalahan banjir juga mengintai sejumlah kawasan Tangsel karena setiap wilayah mempunyai potensi banjir yang berbeda-beda.
Demikian paparan pada media oleh Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyikapi kejadian banjir di berbagai tempat di Tangsel belakangan ini.
Benyamin menegaskan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir beberapa titik rawan banjir berkurang secara signifikan sebagai hasil dari langkah penanganan banjir yang terukur dan terencana.
Bahkan, Benyamin katakan, masalah banjir juga sudah hadir sejak dirinya menjabat sebagai Wakil Wali Kota Tangsel ketika Airin Rachmi Diany menjabat sebagai Wali Kota Tangsel dua periode itu.
Diceritakan Bang Beng, biasa disapa, bahwa semasa kepemimpinan Airin Rachmi Diany terdapat 113 titik rawan banji di berbagai wilayah yang harus memerlukan pananganan secara serius.
“Awal saya menjadi wakil wali kota, itu ada 113 titik banjir loh. Itu mengepung Tangerang Selatan. Tapi kita terus bekerja, sekarang tinggal puluhan,” ujarnya kemarin.
Menghadapi tantangan tersebut, dikatakan, Pemkot Tangsel mengambil beberapa langkah di lapangan yang disesuaikan dengan tingkat kerawanannya.
Langkah tersebut di antaranya peninggian bibir sungai di beberapa titik, pembangunan long storage, revitalisasi drainase, pembangunan polder, hingga pengelolaan dan pemanfaatan situ dan embung.
“Kita bikin long storage kayak di Pondok Aren. Kita gali drainase, kita bersihkan. Polder-polder kita bangun. Bahkan bibir sungai ditinggikan, tergantung lokasi, ada yang sampai 1,5 meter,” kata Benyamin Davnie.
Namun demikian, faktor alam juga menjadi penyebab banjir yang dalam beberapa kesempatan akan menjadikan penanganan banjir tersebut menjadi persoalan.

“Curah hujan ekstrem yang kini sering terjadi memperburuk keadaan. Bayangkan hujan yang turun di atas 100 milimeter sudah melebihi kapasitas normal,” katanya.
Dalam kondisi tersebut beberapa titik rawan yang tertangani mengalami banjir tetap tergenang air tapi tetap bisa surut dalam waktu hitungan jam.
“Yang pertama, curah hujannya sudah di atas 100 milimeter, tinggi sekali. Normalnya itu di bawah 50. Yang kedua, banyak lokasi yang surutnya cepat, tapi tetap saja disebut banjir,” kata Benyamin Davnie.
Investasi Besar Tangani Banjir
Dalam mata anggaran Pemkot Tangsel tercatat jumlah fantastis untuk penanganan banjir, sebagai konsekuensi logis dari upaya maksimal setiap tahun.
Dalam hitungan angka selama Banyamin menjabat, dikatakan, tercatat dana sebesar Rp100 miliar dikucurkan untuk menopang semua proyek strategis dalam pengendalian banjir di beberapa titik rawan banjir di seluruh kecamatan di Tangsel.
“Saya rasa sudah 100 miliar kali ya. Itu khusus untuk penanganan banjir di Tangerang Selatan. Tapi ya, banjir masih akan terjadi lagi. Apalagi genangan juga dianggap banjir,” katanya.
Dari kucuran dana tersebut lahir penanganan banjir di Tangsel yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang dengan mempertimbangkan karakteristik titik rawan banjir.
Benyamin katakan telah meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk membangun sistem penyerapan air di tengah jalan sekaligus memperbesar diameter saluran air. Ini dimungkinkan air menjadi surut dalam hitungan jam.
“Dulu kan diameternya kecil. Saya minta itu diperbesar, tutup pakai besi, nanti airnya menyerap ke dalam tanah. Kita juga harus seimbangkan air bawah tanah kita,” kata Benyamin.
Selain itu, Benyamin ungkap upaya pengawasan terhadap berbagai izin bangunan karena building coverage ratio merupakan salah satu parameter penting yang kini diperketat untuk mencegah alih fungsi lahan secara berlebihan.
“Saya ketat dalam memberikan perizinan bangunan. Di setiap daerah, building coverage ratio itu beda-beda tergantung intensitasnya. Ini yang kita jaga,” ujarnya lagi.
Dalam berbagai kajian, kata Benyamin, persoalan drainase dan banjir bukan satu-satunya fokus karena di wilayah Setu, longsor juga menjadi perhatian akibat struktur tanah yang labil.

Pemerintah saat ini tengah meneliti sifat tanah tersebut dan sudah mulai mengambil langkah antisipatif.
“Saya pasang bronjong di perbatasan Lagun dan kampung sebelah. Jangka panjang, kita akan tanam pohon yang punya akar kuat,” kata Benyamin.
Sebagai bagian dari mitigasi bencana, Pemerintah Kota juga telah membentuk jaringan relawan penanggulangan banjir yang tersebar di seluruh kecamatan.
“Saya sudah punya relawan penanggulangan banjir itu lebih dari 500 orang di seluruh kecamatan,” demikian Benyamin menutup. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan