Beritabanten.com – Di tengah geliat pembangunan Kota Tangerang Selatan yang semakin modern, sebuah pencarian penting tengah dilakukan: menemukan simbol budaya yang mampu merekam perjalanan sebuah kota yang terus tumbuh.
Bukan berupa gedung pencakar langit, jalan baru, atau pusat ekonomi, melainkan sebuah karya yang lahir dari sentuhan kreativitas manusia melalui selembar kain bernama batik.
Batik itu diharapkan mampu menjadi wajah Tangsel, menggambarkan akar budaya, jejak sejarah, serta karakter masyarakat yang hidup di dalamnya.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tangsel membuka Sayembara Desain Batik Khas Kota Tangerang Selatan 2026. Ajang ini menjadi ikhtiar menghadirkan sebuah karya budaya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki makna dan cerita.
Sebab batik bukan sekadar kain bermotif. Di setiap guratan, warna, dan bentuknya tersimpan pesan tentang kehidupan, lingkungan, serta nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Motif batik yang nantinya terpilih diharapkan menjadi identitas baru Kota Tangerang Selatan. Sebuah karya yang dapat dikenakan dengan kebanggaan sekaligus menjadi pengingat bahwa kota modern ini tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Ketua Dekranasda Kota Tangerang Selatan, RR Truetami Ajeng, mengatakan sayembara tersebut tidak semata-mata mencari desain terbaik, tetapi menjadi ruang untuk menggali kekayaan lokal agar Tangsel memiliki karakter budaya sendiri.
“Melalui sayembara ini kami ingin menghadirkan motif batik yang memiliki karakter kuat, mencerminkan kekayaan budaya, sejarah, serta jati diri Kota Tangerang Selatan,” ujar Ajeng, dilihat Jumat 31 Juli 2026.
Menurutnya, batik memiliki kekuatan sebagai bahasa budaya. Sebuah motif mampu menyampaikan cerita tanpa harus menggunakan banyak kata. Setiap detail di dalamnya dapat menjadi gambaran perjalanan sebuah daerah dan masyarakatnya.
Dalam sayembara tersebut, masyarakat diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai unsur khas Tangsel. Tema utama yang diangkat adalah bunga anggrek Tangsel dan rumah blandongan yang dapat dipadukan dengan unsur budaya, sejarah, flora, fauna, bangunan ikonik, hingga kuliner khas daerah.
Bunga anggrek menggambarkan keindahan, ketahanan, dan keberagaman. Sementara rumah blandongan menjadi simbol jejak budaya lokal yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Dua unsur tersebut menjadi pengingat bahwa Tangsel bukan hanya kota dengan kawasan bisnis, pusat pendidikan, dan permukiman modern, tetapi juga memiliki cerita panjang tentang kehidupan masyarakatnya.
Sebuah kota besar membutuhkan identitas. Sebab kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kemampuan menjaga nilai budaya yang menjadi jati diri.
Melalui sayembara ini, para seniman, desainer, dan masyarakat umum diajak menuangkan pandangan mereka tentang wajah Tangsel dalam sebuah karya visual.
Tantangannya bukan hanya membuat motif yang menarik, tetapi menciptakan karya yang memiliki jiwa. Sebuah batik yang ketika dilihat mampu menghadirkan cerita tentang Tangsel kepada siapa pun yang mengenakannya.
Setiap karya yang dikirimkan harus orisinal, belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan lain, serta dilengkapi dengan filosofi desain dan contoh penerapan pada busana kerja pria maupun wanita.
Bagi Dekranasda Tangsel, pencarian batik khas bukan sekadar agenda budaya. Ini adalah upaya menjaga ingatan kolektif agar generasi mendatang tidak hanya mengenal kemajuan kotanya, tetapi juga memahami nilai dan sejarah yang membentuknya.
Sebab sebuah kota tidak hanya dikenang dari bangunan megah, jalan yang panjang, atau pusat ekonominya. Sebuah kota akan tetap hidup melalui cerita, budaya, dan simbol yang diwariskan.
Kelak ketika motif batik khas Tangsel ditemukan, kain tersebut tidak hanya menjadi pakaian. Ia akan menjadi pesan bahwa di balik wajah modern sebuah kota, terdapat akar budaya yang tetap tumbuh dan dijaga.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan