Beritabanten.com – Membuka media sosial di pagi hari, membaca berita saat istirahat, lalu menonton tayangan politik pada malam hari. Tanpa disadari, banyak orang menghabiskan hari dengan mengonsumsi kabar tentang korupsi, perlambatan ekonomi, konflik politik, kriminalitas, hingga bencana. Bagi sebagian orang, rutinitas ini perlahan berubah menjadi beban pikiran yang melelahkan.

Muncul rasa khawatir terhadap masa depan, sulit tidur, mudah marah, bahkan merasa seolah seluruh persoalan negara harus dipikul sendiri. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai political stress atau political anxiety, yaitu tekanan psikologis yang muncul akibat kekhawatiran berkepanjangan terhadap kondisi politik, ekonomi, dan arah masa depan sebuah negara.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan pribadi. American Psychological Association (APA) melalui survei Stress in America menemukan bahwa kondisi dan masa depan negara menjadi salah satu sumber stres terbesar bagi banyak orang. Dampaknya tidak hanya berupa kecemasan, tetapi juga menurunnya konsentrasi, kelelahan emosional, hingga gangguan tidur.

Richard Lazarus dan Susan Folkman melalui teori Stress and Coping menjelaskan bahwa seseorang akan lebih mudah mengalami stres ketika merasa tuntutan keadaan jauh melampaui kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasi situasi tersebut. Terus-menerus memikirkan persoalan nasional yang berada di luar kendali pribadi dapat memunculkan rasa tidak berdaya, meski pada kenyataannya tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh satu individu.

Karena itu, psikologi tidak mengajarkan untuk bersikap acuh terhadap keadaan, melainkan mengajak setiap orang membedakan mana yang dapat dikendalikan dan mana yang tidak. Mengikuti perkembangan negara adalah hal yang baik, tetapi membiarkan setiap berita negatif menguasai pikiran justru dapat menguras energi yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif.

Para peneliti dari University of California, Berkeley, menjelaskan pentingnya cognitive reappraisal, yaitu kemampuan melihat suatu situasi secara lebih seimbang dan realistis. Berita buruk memang perlu diketahui, tetapi bukan berarti seluruh masa depan akan berakhir buruk. Menilai informasi secara proporsional membantu seseorang tetap tenang dalam menghadapi berbagai dinamika.

Di era digital, tantangan lain datang dari kebiasaan doomscrolling, yakni terus-menerus menggulir berita negatif tanpa jeda. Kebiasaan ini terbukti dapat memperkuat kecemasan karena otak terus menerima rangsangan yang memicu rasa takut dan ketidakpastian.

Karena itu, para psikolog menyarankan agar masyarakat mulai memberi batas pada konsumsi informasi. Membaca berita dari sumber yang kredibel, menghindari menyerap informasi selama berjam-jam tanpa henti, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Berolahraga, beribadah, bercengkerama dengan keluarga, tidur yang cukup, serta tetap menjalankan aktivitas yang disukai membantu tubuh menurunkan hormon stres sekaligus menjaga kesehatan psikologis.

Pada akhirnya, mencintai negara tidak harus diwujudkan dengan hidup dalam kecemasan setiap hari. Menjadi warga negara yang peduli berarti tetap mengikuti perkembangan, berpikir kritis, menggunakan hak sebagai warga negara, serta berkontribusi sesuai kemampuan. Selebihnya, ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu, proses, dan kerja bersama.

Sebab, seseorang akan jauh lebih kuat menghadapi perubahan ketika energinya digunakan untuk melakukan hal-hal yang bisa ia lakukan hari ini, daripada habis untuk mengkhawatirkan semua hal yang berada di luar kendalinya. Menjaga kesehatan mental bukan berarti berhenti peduli terhadap bangsa, melainkan memastikan diri tetap memiliki harapan dan kekuatan untuk ikut membangun masa depan yang lebih baik. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com