Miris! Inilah istilah yang tepat sebagai akibat pergumulan dan pergulatan Pilkada DKI 2024 yang sangat ribet lagi jelimet.
Lagi-lagi umat Islam terbelah karena tarik menarik kepentingan dua pihak yang berhadap-hadapan secara sengit dan keras, khususnya dalam ikhtiar memperebutkan suara umat Islam.
Suara pendukung Anies Baswedan atau yang populer disebut Anak Abah disinyalir sangat menentukan demi meraih kemenangan dalam Pilkada DKI 2024.
Setelah sekian lama ditunggu-tunggu akhirnya keluarlah dukungan dari kubu Habib Riziq Shihab kepada Paslon 1, Ridwan Kamil-Suswono (Rido). Sementara Anies Baswedan mendukung Paslon 3, Pramono Anung-Rano Karno (Bang Doel).
Habib Riziq Syihab dan kawan-kawan, beralasan di antaranya, bahwa Pramono-Rano didukung PDIP yang secara historis tidak berideologi sama, anti Islam dan anti Syari’at yang Ketua Umumnya tidak percaya akhirat.
Padahal Paslon 011 diketahui sebagai Calon Boneka yang didukung Jokowi dan Oligarki dengan KIM- Plus- nya yang sengaja dicalonkan demi mencegah atau menjegal Anies sebagai Calon Gubernur DKI. Karena Jokowi pula FPI dan HTI bubar.
HRS juga bersikeras menuntut Jokowi sebagai dalang tewasnya enam laskar FPI. Dan tidak kalah kerasnya HRS mengajukan Jokowi segera diadili karena berbagai kebohongan dan korupsi yang luar biasa.
Sedangkan alasan Anies mendukung Pramono cenderung lebih bersifat personal, memiliki hubungan historis dan ikatan emosional karena ternyata dia sudah sejak lama mengenal betul pribadi Pramono yang menurut dia sangat mumpuni, komunikatif cukup lengkap dan komprehensif dari berbagai syarat, aspek dan kriteria sebagai seorang Gubernur yang dibutuhkan oleh DKI.
Tentu tidak kalah prinsipnya bahwa dia percaya, Pramono-Bang Doel siap melanjutkan Program-program Anies sebelumnya. Dengan sendirinya ide dan gagasannya tetap berkesinambungan.
Tentu yang sangat fundamental lagi adalah dengan kemenangan Pramono Anung-Rano Karno, secara otomatis akan gagal segala program oligarki yang sangat membahayakan dan mengancam kedaulatan Indonesia, seperti PIK 2 dan lain-lain. Endingnya akan terwujud Jakarta yang maju kotanya bahagia warganya berkah untuk semua dan tetap menyala.
Dari alasan masing-masing pihak tidak berlebih-lebihan apabila HRS berpikir dalam spektrum simpel, tidak holistik utamanya dalam merespons aspek dialektika dan konstelasi politik kekuasaan yang serba dinamis yang terus berubah dan berkembang seiring perubahan politik kekinian.
Cenderung serba normatif, formalitas, terkesan emosional dan monoton. Bahkan kesan yang menonjol adalah lebih kepada aspek aspek hukum atau syari’at an sich, kurang tegas, rada pragmatis dan ambivalen.
Apabila diamati secara mendalam argumentasi yang dikatakan Anies, maka dia berangkat dari pertimbangan strategis holistik, komprehensif, perspektif nun jauh ke depan, justru dari sebuah keyakinan karena memang sudah lama kenal baik dan dekat dengan Pramono.
Aspek ini tentu sangat fundamental dan esensial yang akan banyak memberikan dampak signifikan dalam dinamika politik ke depan, khususnya 2029. Sikap demokratis, akomodatif, dewasa, legowo, inklusif, fleksibel, santun, simpatik dan humbel jauh dari emosional, dendam atau sakit hati, tetap dikedepankan walaupun last minute dia gagal dicalonkan oleh PDIP yang nota bene partai yang mengusung Pramono-Doel.
Sepertinya dia berupaya keras untuk menghilangkan sekat dan handicap apapun yang tidak begitu prinsip dan dipandang dapat menghambat dan menggagalkan ekspektasi dan target politik ke depan yang lebih prinsip.
Dia berpikir ke depan dan proyeksi ke depan sehingga harus banyak belajar dan mengambil hikmah sedalam-dalamnya dari kegagalan pada Pilpres 2024.
Kolaborasi, sinergi dan soliditas dengan berbagai elemen apapun latar belakang atau identitasnya adalah sebuah keniscayaan yang dapat memberikan energi positif dan kekuatan dahsyat untuk sebuah perubahan, ide dan gagasan spektakuler yang dicita-citakan dengan meraih kekuasaan.
Menghadapi realita ini, sebetulnya dua Paradigma ini dapat dikolaborasikan secara halus dan smart selama niat dan tujuannya tetap istiqamah, atau konsisten demi kepentingan bersama untuk melakukan perubahan fundamental terhadap kondisi negeri yang porak poranda dan menyedihkan akibat ulah rezim penguasa zalim yang berkhianat terhadap bangsa dan rakyat sendiri.
Lebih dari itu ingin terus mempertahankan dan melestarikan syahwat kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara (Macheaveli). Namun nasi sudah menjadi bubur, masing-masing bergerak dan berpikir sendiri-sendiri, nafsi-nafsi sesuai kepentingan mereka (Vested Intrest).
Namun harus diakui bahwa Anies memang sebuah fenomena luar biasa. Dia diperebutkan berbagai pihak, apalagi DKI, yang ingin meraih kemenangan di kontestasi yang sarat gengsi dan kepentingan tersebut di saat-saat akhir.
Dampak dukungan Anies kepada Mas Pram-Bang Doel bagaimanapun sangat mempengaruhi sikap dan prilaku pemilih, wabil khusus Anak Abah yang tadinya terombang ambing dengan Gercos (Gerakan Coblos Semua) sebagai ekspresi kekecewaan karena Anies dijegal.
Yang jelas hasil survey menunjukkan perubahan signifikan.Semula Paslon 1 optimis satu putaran di atas 51 persen, namun belakangan Paslon 3 justru menyalib dengan 42,9 persen, sedang Paslon 1 39 persen lebih. Karena itu diprediksi hasil akhir dua putaran. Atau bisa saja satu putaran untuk Paslon 3. Tidak ada yang mustahil dalam politik.
Selamat mencoblos, Jangan Gercos dan semoga berhasil. Amin. (Red)
Penulis: Moersjied Qorie Indra, Direktur Qur’an Center Bintaro Tangsel
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan