Penulis: Yakub F. Ismail, Direktur Eksekutif INISIATOR

Beritabanten.com.- Dalam beberapa bulan terakhir, dunia benar-benar menghadapi badai perang yang dampaknya begitu dahsyat bagi kehidupan global.

Perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah membawa perubahan yang sangat besar. Dunia bahkan dihadapkan pada krisis ekonomi dan energi yang memicu berbagai persoalan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global tersebut, muncul kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang tentu menjadi secercah harapan dan patut disambut dengan optimisme.

Ketegangan antara kedua negara bukan sekadar persoalan bilateral, melainkan juga menyangkut berbagai isu sensitif global yang memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan energi dunia, hingga dinamika ekonomi internasional.

Seperti diketahui, setiap kali terjadi eskalasi konflik antara Washington dan Teheran, selalu diikuti lonjakan harga minyak, gejolak pasar keuangan, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan global. Karena itu, setiap langkah menuju perdamaian memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat dunia yang mengharapkan situasi segera membaik.

Bagi Indonesia, kabar baik tersebut tentu patut disambut positif karena banyak manfaat yang dapat diperoleh dari terciptanya perdamaian.

Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan menjunjung tinggi penyelesaian sengketa melalui dialog memandang kesepakatan tersebut sebagai perkembangan positif yang dapat membuka ruang bagi stabilitas ekonomi global yang lebih baik, sekaligus memperkuat harapan akan terwujudnya tata dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

Dampaknya bagi Dunia

Kesepakatan damai antara Iran dan AS berpotensi membawa dampak signifikan terhadap stabilitas geopolitik global, baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Selama bertahun-tahun, hubungan yang diwarnai ketegangan antara kedua negara lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat. Hal ini tidak terlepas dari posisi strategis Iran di kawasan Timur Tengah dan peran AS sebagai salah satu kekuatan utama dunia. Karena itu, setiap ketegangan yang terjadi selalu memengaruhi berbagai aspek kehidupan global.

Dari sisi ekonomi, ketegangan kedua negara berdampak langsung terhadap stabilitas pasar energi dunia. Kawasan Teluk Persia merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Ketika terjadi konflik di kawasan tersebut, pasar biasanya merespons secara negatif karena muncul kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi.

Akibatnya, harga minyak melonjak dan menimbulkan tekanan inflasi di berbagai negara. Sebaliknya, suasana damai akan menciptakan kepastian yang lebih baik bagi pasar, membantu menstabilkan harga energi, serta mengurangi tekanan terhadap biaya produksi dan transportasi di banyak negara.

Selain itu, perdamaian juga berpotensi meningkatkan kepercayaan investor global. Dunia usaha akan semakin optimistis karena adanya kepastian yang lebih baik dalam iklim investasi. Ketika sinyal perdamaian muncul, investasi lintas negara cenderung meningkat, perdagangan internasional kembali bergairah, dan pertumbuhan ekonomi global perlahan mulai menguat.

Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, kondisi tersebut menjadi sinyal positif karena dapat membantu menciptakan iklim ekonomi yang lebih kondusif.

Sikap Indonesia

Menyikapi momentum ini, Indonesia sebagai negara yang sejak awal kemerdekaannya selalu mengedepankan prinsip perdamaian dunia tentu memiliki alasan kuat untuk menyambutnya secara positif.

Meski demikian, sikap positif saja tidak cukup. Indonesia perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat posisi strategisnya dalam percaturan internasional.

Pertama, Indonesia harus terus aktif mendorong diplomasi damai sebagai bagian dari komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif. Indonesia perlu menunjukkan kepada dunia bahwa politik bebas aktif bukan sekadar jargon, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah situasi yang menuntut langkah konkret.

Pengalaman ini dapat menjadi landasan bagi Indonesia untuk terus memperjuangkan penyelesaian berbagai konflik internasional, tidak hanya konflik AS–Iran, melalui pendekatan yang mengedepankan dialog dan kerja sama.

Kedua, pemerintah perlu memaksimalkan peluang yang muncul dari stabilitas ekonomi global pascaperdamaian tersebut. Ketika harga energi dunia menjadi lebih stabil dan tekanan geopolitik berkurang, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk memperkuat sektor industri, meningkatkan investasi, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketiga, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Perdamaian Iran–AS merupakan sinyal penting bagi stabilitas ekonomi dunia. Dengan demikian, peluang perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan akan semakin terbuka lebar bagi negara-negara yang mampu bergerak cepat.

Namun demikian, di balik kabar baik tersebut, pemerintah tetap perlu menjaga kewaspadaan. Pengalaman menunjukkan bahwa dinamika perdamaian internasional sering kali tidak terlepas dari berbagai ketidakpastian.

Karena itu, di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, Indonesia diharapkan tetap fokus memperkuat ketahanan ekonomi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap gejolak eksternal, serta mempercepat diversifikasi sumber energi agar tidak rentan terhadap fluktuasi pasar global.

Pada akhirnya, kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan AS harus dipandang bukan hanya sebagai peluang emas, tetapi juga sebagai pengingat untuk tetap waspada.

Setiap optimisme yang muncul harus diiringi langkah-langkah strategis yang konkret. Tujuannya jelas, agar Indonesia tidak terjebak dalam euforia sesaat dan tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat maksimal dari perubahan situasi global yang terjadi. (Red)

*

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com