Beritabanten.com — Selama berabad-abad, kita terbiasa melihat dunia melalui proyeksi Mercator. Secara ilmiah, proyeksi ini memang memiliki fungsi penting, terutama untuk navigasi, tetapi konsekuensinya adalah distorsi ukuran wilayah.
Di sinilah Equal Earth menjadi menarik. Proyeksi ini dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih mendekati kenyataan. Afrika tidak lagi terlihat seperti “benua yang biasa-biasa saja”, tetapi tampil sesuai proporsi sebenarnya.
Ini bukan berarti Mercator adalah peta yang salah. Setiap proyeksi peta memiliki tujuan dan konsekuensi ilmiahnya sendiri. Masalah muncul ketika sebuah representasi digunakan terus-menerus sampai kita lupa bahwa peta hanyalah cara manusia menerjemahkan permukaan bumi ke bidang datar.
Dari sudut pandang sains, hal ini menunjukkan bahwa cara kita memvisualisasikan data dapat memengaruhi cara kita memahami realitas. Mata manusia cenderung menganggap sesuatu yang lebih besar secara visual sebagai sesuatu yang lebih dominan atau penting.
Selama bertahun-tahun, gambaran dunia yang terdistorsi dapat membentuk persepsi masyarakat mengenai ukuran relatif negara dan benua, meskipun tentu saja tidak bisa disimpulkan bahwa proyeksi peta sendirian menyebabkan ketimpangan geopolitik.
Karena itu, perdebatan tentang peta juga dapat dibaca melalui perspektif kesetaraan. Tidak ada benua yang secara geografis menjadi lebih penting hanya karena terlihat lebih besar di atas kertas.
Afrika bukan menjadi lebih luas karena Equal Earth; kita hanya mendapatkan representasi yang lebih proporsional terhadap kenyataan. Begitu pula wilayah yang tampak kecil bukan berarti memiliki nilai yang kecil.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar isu ini tidak berubah menjadi narasi bahwa Mercator adalah “peta penjajahan” yang sepenuhnya buruk.
Secara ilmiah, Mercator memiliki alasan matematis dan kegunaan praktis, khususnya karena garis arah konstan dapat direpresentasikan dengan cara yang berguna untuk navigasi.
Jadi, persoalannya bukan memilih satu peta lalu menganggap yang lain salah, melainkan memilih proyeksi sesuai tujuan dan memahami distorsi yang dihasilkannya.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari perdebatan Mercator dan Equal Earth bukan sekadar tentang peta. Sains mengajarkan kita untuk mempertanyakan bagaimana sebuah representasi dibentuk, apa yang diperbesar, apa yang diperkecil, dan apa yang mungkin tersembunyi di baliknya.
Dunia tidak berubah ketika kita mengganti proyeksi peta. Yang berubah adalah cara kita melihatnya—dan mungkin, dalam konteks kesetaraan, itu justru hal yang paling penting. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan