Beritabanten.com — Perbandingan utang Amerika Serikat (AS) dan Indonesia kembali menjadi perhatian. Utang AS yang mencapai ratusan ribu kuadriliun rupiah terlihat sangat besar, sementara utang pemerintah Indonesia per Juni 2026 mencapai sekitar Rp10.293 triliun.
Namun, membandingkan utang hanya berdasarkan angka nominal dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Besarnya utang tidak otomatis menunjukkan seberapa besar risiko yang dihadapi sebuah negara.
Data terbaru menunjukkan utang pemerintah Indonesia pada Juni 2026 mencapai sekitar Rp10.293 triliun, meningkat dari sekitar Rp9.920 triliun pada Maret 2026.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa utang pemerintah terus bertambah dalam waktu relatif singkat. Meski demikian, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih berada di kisaran 40 persen dan secara aturan masih berada di bawah batas 60 persen.
Namun, angka rasio tersebut tidak cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi fiskal Indonesia.
Struktur utang, biaya bunga, kondisi nilai tukar, suku bunga global, serta penggunaan dana menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Amerika Serikat berada dalam posisi yang berbeda. Negara tersebut menerbitkan utang dalam dolar AS, mata uang yang memiliki posisi penting dalam sistem keuangan global.
Permintaan terhadap surat utang AS tidak hanya berasal dari investor domestik, tetapi juga dari investor dan institusi keuangan di berbagai negara. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, aset berbasis dolar juga sering menjadi pilihan investor.
Kondisi tersebut memberikan AS ruang pembiayaan yang jauh lebih besar dibandingkan negara seperti Indonesia.
Meski begitu, bukan berarti utang AS tanpa risiko.
Beban bunga yang mendekati US$1 triliun per tahun menunjukkan bahwa kewajiban pembayaran bunga mulai memberikan tekanan terhadap anggaran pemerintah AS.
Jika beban bunga terus meningkat, ruang fiskal untuk membiayai berbagai program pemerintah akan semakin terbatas.
Dengan kata lain, persoalan AS bukan semata-mata apakah negara tersebut mampu membayar utang, tetapi seberapa besar anggaran negara harus digunakan untuk membayar kewajiban masa lalu.
Indonesia menghadapi persoalan yang berbeda.
Indonesia tidak memiliki mata uang global seperti dolar AS. Pemerintah sangat bergantung pada pasar keuangan untuk memperoleh pembiayaan, terutama melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Ketergantungan terhadap pasar membuat Indonesia lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga global, nilai tukar rupiah, dan sentimen investor.
Ketika suku bunga global meningkat atau rupiah mengalami tekanan, biaya pembiayaan pemerintah dapat ikut meningkat.
Beban bunga utang Indonesia yang mendekati Rp600 triliun per tahun juga menjadi perhatian tersendiri.
Angka tersebut harus bersaing dengan berbagai kebutuhan belanja negara, mulai dari pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial hingga pembangunan infrastruktur.
Semakin besar anggaran yang digunakan untuk membayar bunga utang, semakin kecil ruang pemerintah untuk membiayai program yang dapat meningkatkan produktivitas ekonomi.
Karena itu, utang besar belum tentu berarti paling berbahaya. Amerika Serikat memiliki utang yang jauh lebih besar, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi, pasar keuangan, serta posisi dolar yang memberikan bantalan lebih besar.
Sebaliknya, Indonesia memiliki utang yang jauh lebih kecil secara nominal, tetapi ruang untuk menghadapi kesalahan kebijakan dan guncangan ekonomi relatif lebih terbatas.
Persoalan utang juga tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi bagaimana utang tersebut digunakan.
Jika utang digunakan untuk membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat industri, atau membiayai kegiatan produktif, utang dapat membantu meningkatkan kapasitas ekonomi di masa depan.
Sebaliknya, jika utang lebih banyak digunakan untuk menutup kebutuhan rutin tanpa menghasilkan peningkatan produktivitas, beban tersebut akan terus diwariskan kepada anggaran pada tahun-tahun berikutnya.
Karena itu, perdebatan mengenai utang seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang memiliki utang paling besar.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah negara memiliki kemampuan untuk membayar bunga, mengelola risiko utang, dan memastikan dana pinjaman menghasilkan manfaat ekonomi.
Amerika Serikat memang menghadapi persoalan utang yang sangat besar dan tekanan fiskal jangka panjang. Namun, posisi dolar memberikan AS bantalan yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Indonesia sendiri masih berada dalam batas rasio utang yang relatif aman. Namun, kenaikan utang dan besarnya beban bunga tetap perlu menjadi perhatian agar ruang fiskal tidak semakin sempit.
Pada akhirnya, angka utang bukan satu-satunya ukuran kesehatan fiskal sebuah negara. Struktur utang, tren kenaikan, beban bunga, kemampuan ekonomi, serta kualitas penggunaan dana jauh lebih menentukan.
Utang dapat menjadi alat untuk mendorong pertumbuhan jika digunakan secara produktif. Namun, jika hanya digunakan untuk menutup kebutuhan tanpa menghasilkan kapasitas ekonomi baru, utang justru dapat menjadi beban yang semakin berat di masa depan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan