Beritabanten.com — Musim kemarau tahun ini menghadirkan pemandangan yang tak biasa di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak. Surutnya permukaan air perlahan membuka kembali jejak sebuah kampung yang selama tiga tahun terakhir terkubur di bawah genangan waduk.
Dinding rumah, bangunan masjid, hingga sisa-sisa permukiman yang dulu menjadi tempat kehidupan masyarakat kini kembali terlihat. Pemandangan itu seolah membawa warga kembali menengok masa lalu, ketika kawasan tersebut masih menjadi kampung yang ramai dengan aktivitas sehari-hari.
Fenomena tersebut terjadi di wilayah bekas permukiman Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Sebelum menjadi bagian dari area genangan Bendungan Karian, kawasan tersebut merupakan permukiman padat yang dihuni masyarakat.
Pada 2023, warga mulai meninggalkan kampung halaman mereka setelah kawasan tersebut dialihfungsikan sebagai bagian dari pembangunan Bendungan Karian. Bangunan-bangunan yang terdampak tidak seluruhnya dihancurkan, sehingga ketika air surut, sebagian struktur rumah dan fasilitas umum kembali tampak di permukaan.
Bagi masyarakat luas, kemunculan bangunan lama itu menjadi fenomena unik. Namun bagi warga yang pernah tinggal di sana, pemandangan tersebut membawa cerita panjang tentang tanah kelahiran yang harus mereka tinggalkan.
Sejumlah warga kembali mendatangi lokasi tersebut. Dengan menggunakan perahu atau rakit, mereka menyusuri area waduk untuk mencari kembali jejak rumah, halaman, dan lingkungan tempat mereka pernah menjalani kehidupan.
Bagi mereka, dinding-dinding yang muncul bukan sekadar bangunan tua, melainkan potongan kenangan tentang keluarga, masa kecil, dan kehidupan yang pernah tumbuh di kampung tersebut.
“Saya datang untuk mengenang tanah kelahiran dulu,” ujar salah seorang warga yang pernah tinggal di kawasan Bendungan Karian.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) menjelaskan bahwa munculnya kembali bekas permukiman tersebut merupakan kondisi normal akibat penurunan muka air waduk selama musim kemarau.
Penurunan permukaan air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal masih berada dalam batas aman operasional. Kondisi tersebut tidak mengganggu fungsi Bendungan Karian sebagai penyedia air baku maupun suplai irigasi bagi masyarakat.
Meski demikian, fenomena kampung yang kembali muncul ini menghadirkan cerita berbeda. Di balik pembangunan bendungan yang memberikan manfaat besar bagi banyak wilayah, terdapat kisah masyarakat yang harus merelakan kampung halaman demi kepentingan pembangunan nasional.
Kini, alam seolah memberikan kesempatan singkat bagi warga untuk kembali melihat tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
Kampung yang sempat hilang dari pandangan itu mungkin tidak akan lama terlihat. Ketika musim penghujan tiba dan air waduk kembali naik, jejak-jejak permukiman tersebut akan kembali tenggelam, menyimpan cerita tentang sebuah kampung yang pernah hidup di dasar Bendungan Karian. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan