Beritabanten.com – Membuka ponsel di pagi hari, lalu disambut berita korupsi. Siang hari muncul kabar pelemahan ekonomi. Sore berganti video konflik politik, malam ditutup dengan informasi kriminalitas atau bencana. Siklus seperti ini kini menjadi bagian dari kehidupan banyak orang di era digital.

Tanpa disadari, paparan berita negatif yang datang tanpa henti dapat menguras energi emosional. Bukan karena masyarakat tidak peduli terhadap kondisi bangsa, tetapi karena otak terus-menerus menerima informasi yang memicu rasa cemas, marah, atau khawatir terhadap masa depan.

Psikologi menjelaskan bahwa peduli terhadap negara adalah sikap yang baik. Namun, menjaga kesehatan mental sama pentingnya agar kepedulian itu tidak berubah menjadi stres berkepanjangan.

Richard Lazarus dan Susan Folkman melalui teori Stress and Coping menjelaskan bahwa stres muncul ketika seseorang merasa persoalan yang dihadapi lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasinya. Karena itu, salah satu langkah paling sehat adalah membedakan mana persoalan yang bisa kita pengaruhi dan mana yang berada di luar kendali.

Tidak semua berita membutuhkan respons emosional yang sama. Ada hal-hal yang memang perlu diketahui, tetapi tidak semuanya harus dipikul sebagai beban pribadi.

Psikologi kognitif juga mengenalkan konsep cognitive reappraisal, yakni kemampuan melihat suatu situasi secara lebih seimbang. Berita buruk memang nyata, tetapi bukan berarti seluruh keadaan akan selalu memburuk. Cara memaknai sebuah informasi sangat menentukan bagaimana emosi kita bereaksi.

Tantangan lain datang dari kebiasaan yang kini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu terus menggulir berita negatif tanpa henti melalui media sosial maupun portal berita. Semakin lama seseorang terpapar informasi yang memicu kecemasan, semakin besar pula peluang munculnya kelelahan mental dan suasana hati yang memburuk.

Karena itu, para psikolog menyarankan agar masyarakat mulai membatasi waktu membaca berita. Mengetahui perkembangan penting tidak berarti harus memantau informasi setiap menit. Memilih media yang kredibel dan memberi jeda dari layar ponsel justru membantu otak memproses informasi dengan lebih tenang.

Menariknya, penelitian jangka panjang Harvard Study of Adult Development menemukan bahwa hubungan yang hangat dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sosial merupakan salah satu pelindung terkuat bagi kesehatan mental. Ketika pikiran mulai dipenuhi kabar yang membuat cemas, berbincang dengan orang terdekat sering kali jauh lebih menenangkan daripada terus menambah konsumsi berita.

Martin Seligman, pelopor psikologi positif, juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan perhatian terhadap masalah dengan hal-hal baik yang masih ada di sekitar kita. Bersyukur, membantu sesama, menikmati hobi, berolahraga, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga dapat mengembalikan rasa optimistis yang sering terkikis oleh banjir informasi negatif.

Pada akhirnya, menjadi warga negara yang baik bukan berarti harus hidup dalam kecemasan setiap hari. Mengikuti perkembangan, bersikap kritis, dan peduli terhadap kondisi bangsa tetap penting. Namun, menjaga pikiran agar tetap sehat juga merupakan bentuk tanggung jawab, karena hanya dengan mental yang kuat seseorang dapat berpikir jernih, mengambil keputusan yang rasional, dan memberi kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Di tengah derasnya arus informasi, mungkin bukan berita buruk yang harus kita hindari, melainkan cara kita mengelolanya. Sebab, harapan dan ketenangan sering kali lahir bukan karena dunia selalu baik-baik saja, tetapi karena kita mampu memilih respons yang lebih bijaksana terhadap apa yang terjadi. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com