Beritabanten.com – Malam belum benar-benar berakhir ketika aktivitas di Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan, masih bergeliat. Jumat dini hari, 25 September 2026, di antara lalu-lalang warga, pedagang, dan pekerja yang pulang larut, semangkuk bubur Cianjur menjadi pilihan untuk menghangatkan perut sebelum melanjutkan perjalanan.

Warung sederhana itu telah bertahan sekitar 20 tahun. Lokasinya di kawasan Pasar Ciputat membuat bubur tersebut akrab bagi para pekerja, pedagang, pengemudi, hingga warga yang mencari makanan hangat pada malam hari.

Kang Iman, penjual bubur Cianjur tersebut, bercerita bahwa usaha yang kini dikenal banyak pelanggan itu bermula dari tempat berjualan sederhana. Pada awalnya, ia bahkan belum menyewa ruko untuk menjalankan usahanya.

Seiring waktu, pelanggan terus berdatangan. Dari hari ke hari, usaha tersebut perlahan berkembang hingga akhirnya bisa bertahan selama sekitar dua dekade di tengah perubahan wajah dan persaingan usaha kuliner di kawasan Pasar Ciputat.

“Saya awalnya jualan tidak menyewa ruko. Lama-lama pelanggan semakin banyak, kemudian usaha terus berkembang,” ujar Kang Iman saat ditemui Beritabanten.com pada Jumat dini hari, 25 September 2026.

Satu porsi bubur Cianjur saat ini dibanderol sekitar Rp15 ribu. Harganya relatif terjangkau bagi pekerja maupun masyarakat yang membutuhkan makanan praktis dan mengenyangkan setelah beraktivitas seharian.

Menariknya, pembeli tidak hanya datang untuk menikmati bubur. Kang Iman juga menyediakan sejumlah pilihan pelengkap, seperti telur rebus, sate usus, serta sate telur ayam puyuh. Bagi pelanggan yang ingin menikmati minuman, tersedia pula kopi dan aneka minuman lainnya.

Suasana malam menjadi bagian tersendiri dari daya tarik tempat tersebut. Para pekerja yang sedang dalam perjalanan pulang dapat berhenti sejenak, menyantap makanan hangat, berbincang, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Namun, perjalanan usaha selama 20 tahun itu bukan tanpa tantangan. Kang Iman mengakui, kondisi usaha mengalami perubahan setelah pandemi Covid-19. Pendapatan tidak lagi seperti sebelumnya, sementara persaingan juga semakin terasa karena semakin banyak tempat makan yang bermunculan.

“Pasca-Covid memang ada perubahan pendapatan. Sekarang juga sudah banyak yang bermunculan,” katanya.

Meski demikian, keberadaan bubur Cianjur tersebut menunjukkan bagaimana sebuah usaha kuliner sederhana bisa bertahan karena memiliki pelanggan yang terus datang. Bukan hanya soal menu, tetapi juga kebiasaan dan kenangan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Ada pula cerita lain dari tempat jualan tersebut. Karena kawasan Pasar Ciputat rawan tergenang ketika hujan deras, area berjualan kini dibuat lebih siap menghadapi kondisi tersebut. Bagian tempat jualan menggunakan susunan bata setinggi sekitar 20 sentimeter sebagai upaya mengantisipasi genangan.

Sederhana, tetapi penuh pengalaman. Dari tempat berjualan tanpa ruko hingga menjadi salah satu titik kuliner yang dikenal pelanggan, bubur Cianjur Kang Iman memperlihatkan wajah lain kehidupan malam di Pasar Ciputat.

Di tengah hiruk-pikuk pasar dan perjalanan warga yang belum usai, semangkuk bubur seharga Rp15 ribu menjadi jeda sederhana: menghangatkan badan, mengisi tenaga, sekaligus menjaga sebuah usaha kecil tetap bertahan melewati perubahan zaman. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com