Penulis: Ahmad Tholabi Kharlie Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Dewan Pengawas MTQ XVII Tangerang Selata
Beritabanten.com– Kemajuan sebuah kota dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan, dan kemudahan akses teknologi. Ada ukuran lain yang kerap luput dari perhatian, yakni kualitas moral dan spiritual masyarakatnya. Sebuah kota membutuhkan manusia yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kesadaran untuk merawat kehidupan bersama.
Dalam konteks inilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XVII Kota Tangerang Selatan yang berlangsung pada 6–8 November 2026 memiliki arti strategis. Perhelatan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan masyarakat dengan Al-Qur’an sekaligus membangun kesadaran bersama tentang masa depan kota.
MTQ perlu ditempatkan sebagai gerakan kebudayaan dan pendidikan yang menjangkau kehidupan warga, dari lingkungan keluarga hingga ruang publik.
Membumikan Nilai
Ada persoalan literasi Al-Qur’an yang perlu mendapat perhatian serius. Survei Nasional Potensi Literasi Al-Qur’an Kementerian Agama tahun 2023 mencatat indeks literasi Al-Qur’an masyarakat Indonesia sebesar 66,038, masuk kategori tinggi. Pada indikator kemampuan membaca Al-Qur’an dengan lancar sesuai tajwid, angkanya mencapai 44,57 persen. Survei tersebut juga mencatat 38,49 persen responden belum memiliki literasi baca Al-Qur’an. Data nasional ini menjadi pengingat bahwa pembinaan Al-Qur’an masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Tangerang Selatan memiliki modal sosial untuk mengembangkan agenda tersebut. Masjid, pesantren, madrasah, TPQ, majelis taklim, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi tersebar dalam kehidupan masyarakat. Potensi ini dapat dihubungkan melalui gerakan literasi Al-Qur’an yang terencana dan melibatkan seluruh lapisan warga.
Keluarga perlu menjadi titik awal. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Masjid dapat menjadi pusat pembelajaran lintas generasi. Sekolah dan madrasah dapat memperkuat pemahaman serta pengamalan nilai-nilai Qurani. Perguruan tinggi dapat menyumbangkan pemikiran, penelitian, dan inovasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Di sinilah MTQ perlu menghadirkan tiga dimensi yang saling melengkapi: tilawah, tafahhum, dan tathbiq. Tilawah mengembangkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar dan indah. Tafahhum mengajak masyarakat memahami kandungan ayat serta relevansinya dengan persoalan kehidupan. Tathbiq menerjemahkan pesan Al-Qur’an ke dalam perilaku dan tindakan sosial.
Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) mengemukakan bahwa pembangunan pada hakikatnya merupakan proses memperluas kapabilitas manusia untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Perspektif ini relevan bagi pembangunan Tangsel. Kemajuan kota perlu memberi ruang bagi manusia untuk tumbuh secara intelektual, sosial, moral, dan spiritual.
Nilai-nilai Al-Qur’an memiliki relevansi langsung dengan tantangan perkotaan. Pesan tentang kejujuran dan amanah dapat memperkuat etika pelayanan publik. Ajaran tentang keadilan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap kelompok rentan. Pesan tentang kebersihan dan tanggung jawab terhadap alam dapat menggerakkan kepedulian terhadap sungai, pengelolaan sampah, dan ruang terbuka hijau. Ajaran tentang persaudaraan dapat memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat yang beragam.
Membangun Peradaban
Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat MTQ berlanjut setelah perhelatan usai dan para kafilah kembali ke wilayah masing-masing. Kegiatan selama beberapa hari harus menjadi bagian dari agenda pembinaan yang berlangsung sepanjang tahun.
Pertama, Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama LPTQ perlu mengembangkan gerakan literasi Al-Qur’an berbasis kelurahan. Sebanyak 54 kelurahan dapat menjadi simpul pembinaan yang melibatkan masjid, TPQ, madrasah, dan komunitas masyarakat.
Pemetaan kemampuan membaca Al-Qur’an, ketersediaan guru, serta jumlah peserta pembinaan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih terarah. Program ini perlu memberi perhatian kepada anak-anak, remaja, orang dewasa, dan kelompok lanjut usia.
Kedua, integritas penyelenggaraan harus menjadi perhatian utama. MTQ mengajarkan kejujuran dan keadilan. Nilai tersebut harus tercermin dalam proses kompetisi. Verifikasi identitas dan domisili peserta, independensi dewan hakim, transparansi penilaian, serta mekanisme pengaduan perlu diperkuat. Prestasi yang lahir dari proses jujur memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih besar daripada kemenangan yang diperoleh melalui rekayasa.
Ketiga, para juara perlu diberi ruang pengabdian. Qari/qariah, hafizh/hafizhah, mufassir/mufassirah, khaththath/khaththathah, dan peserta berprestasi lainnya dapat menjadi duta Al-Qur’an di lingkungan masyarakat. Program MTQ Goes to Community dapat dikembangkan melalui kegiatan pembinaan di sekolah, kampus, masjid, rumah sakit, dan komunitas warga. Dengan demikian, keunggulan individual berkembang menjadi manfaat sosial.
Keempat, teknologi digital perlu dimanfaatkan sebagai sarana memperluas pembelajaran. Rekaman tilawah terbaik dapat menjadi bahan ajar terbuka. Konten edukasi tentang tajwid, hafalan, dan pemahaman ayat dapat disebarluaskan melalui media sosial. Generasi muda perlu diajak menjadikan ruang digital sebagai tempat menyebarkan pengetahuan, keteladanan, dan pesan-pesan kebaikan.
Kelima, keberhasilan MTQ harus diukur melalui dampak yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah kota dan LPTQ dapat mengembangkan Indeks Dampak MTQ yang mencakup peningkatan literasi Al-Qur’an, pertumbuhan lembaga pembinaan, regenerasi pengajar, integritas kompetisi, keterlibatan masyarakat, dan kontribusi sosial para alumni. Hasil pengukuran tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan program pembinaan berikutnya.
Seluruh agenda ini membutuhkan kolaborasi. Pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan anggaran. Ulama dan tokoh agama memberikan bimbingan moral. LPTQ mengembangkan pembinaan dan tata kelola. Perguruan tinggi menyumbangkan keahlian akademik. Organisasi kemasyarakatan memperluas jangkauan gerakan. Keluarga dan masyarakat menjadi pelaku utama dalam menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Pada titik ini, MTQ XVII Tangerang Selatan menjadi momentum untuk merumuskan kembali cita-cita bersama tentang kota yang hendak dibangun. Tangsel membutuhkan kemajuan ekonomi yang berkeadilan, pendidikan yang memanusiakan, lingkungan yang terawat, pelayanan publik yang amanah, serta kehidupan sosial yang menjunjung tinggi persaudaraan.
Inilah ikhtiar merawat Tangerang Selatan dengan semangat Al-Qur’an, yakni menjadikan nilai-nilai wahyu hidup dalam keseharian warga, mengakar dalam kebudayaan kota, dan memberi arah bagi masa depan pembangunan.
Sebab, kota yang berperadaban lahir dari manusia yang memiliki kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan