Beritabanten.com – Tidak ada kehidupan yang benar-benar bebas dari ujian. Sebagian orang bergumul dengan tekanan ekonomi, sebagian lainnya menghadapi kehilangan orang tercinta, kegagalan dalam pekerjaan, masalah kesehatan, atau berbagai persoalan yang datang silih berganti. Dalam situasi seperti itu, muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: bagaimana cara tetap bertahan ketika hidup terasa begitu berat?

Psikologi tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Namun, ilmu ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Kemampuan itu dikenal sebagai resilience atau resiliensi.

Psikolog Ann Masten menyebut resiliensi sebagai “ordinary magic” atau keajaiban yang sebenarnya biasa dimiliki setiap orang. Menurutnya, kemampuan untuk bangkit bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan sesuatu yang dapat dilatih melalui kebiasaan, pola pikir yang sehat, dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Orang yang resilien bukan berarti tidak pernah menangis atau merasa putus asa. Mereka tetap merasakan sedih, kecewa, bahkan takut. Bedanya, mereka tidak membiarkan emosi tersebut menghentikan langkah untuk terus melanjutkan hidup.

Pandangan serupa disampaikan psikolog Richard Lazarus dan Susan Folkman melalui teori Stress and Coping. Mereka menjelaskan bahwa stres sering kali muncul ketika seseorang merasa persoalan yang dihadapi jauh lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya.

Karena itu, langkah pertama bukanlah memaksa diri menyelesaikan semua masalah sekaligus, melainkan memilah mana persoalan yang masih bisa dikendalikan dan mana yang harus diterima sebagai bagian dari kenyataan.

Sering kali seseorang justru menghabiskan tenaga memikirkan hal-hal yang berada di luar kendalinya. Padahal, memusatkan perhatian pada langkah kecil yang dapat dilakukan hari ini jauh lebih membantu daripada terus larut dalam kekhawatiran.

Psikologi juga mengingatkan bahaya rumination, yakni kebiasaan mengulang-ulang pikiran negatif tanpa menghasilkan solusi. Semakin lama seseorang terjebak dalam lingkaran penyesalan dan kekhawatiran, semakin besar pula risiko stres berkepanjangan.

Karena itu, terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) mengenalkan teknik cognitive reappraisal, yaitu kemampuan melihat sebuah masalah dari sudut pandang yang lebih membangun. Kegagalan tidak selalu berarti akhir perjalanan. Dalam banyak kasus, kegagalan justru menjadi pelajaran yang memperbaiki langkah berikutnya.

Selain cara berpikir, hubungan dengan orang lain juga menjadi penyangga penting ketika hidup terasa berat.

Harvard Study of Adult Development, salah satu penelitian terpanjang tentang kehidupan manusia, menemukan bahwa hubungan yang hangat dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang.

Berbagi cerita kepada orang yang dipercaya bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, dukungan sosial terbukti membantu seseorang mengurangi tekanan psikologis sekaligus melihat persoalan dengan perspektif yang lebih jernih.

Psikologi positif yang dipelopori Martin Seligman juga menekankan pentingnya menjaga harapan, rasa syukur, dan tujuan hidup. Optimisme bukan berarti menolak kenyataan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja, tetapi meyakini bahwa keadaan dapat berubah menjadi lebih baik melalui usaha yang terus dilakukan.

Harapan sering kali lahir bukan karena masalah telah selesai, melainkan karena seseorang memilih untuk terus melangkah meski jalan masih terasa berat.

Pada akhirnya, menghadapi masa sulit bukan berarti harus selalu tampak kuat. Menangis, merasa lelah, atau membutuhkan bantuan merupakan bagian dari proses menjadi manusia.

Yang terpenting adalah tidak berhenti melangkah. Sebab, sebagaimana diajarkan psikologi, ketangguhan bukan diukur dari seberapa jarang seseorang jatuh, melainkan dari keberaniannya untuk kembali bangkit setiap kali kehidupan mengujinya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com