Beritabanten.com – Ada peningkatan jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia pada tahun 2025. Ini jadi pertanda obyektif untuk terus berbenah agar lebih lagi di tahun 2026.
Total kuota haji Indonesia sebanyak 241.000 jemaah pada tahun 2024 lalu. Nah, kuota normalnya 221.000 orang. Tapi, pemerintah Arab Saudi memberikan tambahan 20 ribu jemaah.
Dari jumlah itu, tercatat total ada 461 jemaah meninggal dunia selama musim penyelenggaraan ibadah haji di tahun 2024. Angka kematian ini merepresentasikan sekitar 0,1913 persen dari seluruh jemaah.
Namun, untuk tahun 2025, dengan kuota yang lebih kecil, yakni 221.000 jemaah, angka kematian saat ini sudah mencapai 423 orang. Jumlah tersebut mengacu data Siskohat per hari Rabu, 2 Juli 2025, pukul 08.00 WIB, atau masa operasional haji memasuki 62 hari.
Jika dihitung secara persentase, angka itu telah mengalami kenaikan menjadi sekitar 0,1914 persen dari total jemaah yang diberangkatkan.
Kenaikan persentase ini, bisa menjadi indikator bahwa upaya mitigasi risiko kematian jemaah Indonesia perlu terus dievaluasi dan ditingkatkan. Pemerintah dan penyelenggara ibadah haji diharapkan dapat menganalisis lebih dalam penyebab di balik data tersebut.
Langkah-langkah proaktif seperti peningkatan layanan kesehatan, edukasi jemaah, dan adaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrem di Tanah Suci menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan kesehatan jemaah haji di masa mendatang.
Angka kematian jemaah haji Indonesia itu juga kembali menjadi sorotan serius sejumlah kalangan.
Wakil Menteri Haji Arab Saudi, Abdul Fatah Mashat, dalam kunjungannya ke Kantor PPIH Daker Makkah pada 28 Juni lalu, juga secara khusus menyoroti tingginya angka kematian serta pentingnya istitha’ah kesehatan (kemampuan kesehatan) yang lebih ketat.
“Ini harus menjadi perhatian kita semua dalam menyusun langkah-langkah persiapan yang lebih baik di masa mendatang, termasuk dalam penyaringan, pemantauan, dan pendampingan kesehatan jemaah sejak sebelum keberangkatan,” tegasnya dilansir dalam laman Kemenkes, Rabu 3 Juli 2025.
Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi dr Mohammad Imran MKM menyebut tingginya angka kematian ini sebagai alarm tanda bahaya bagi semua.
Ia menekankan bahwa ibadah haji adalah kegiatan pengumpulan massa terlama dan terberat bagi kaum Muslimin dari sisi aktivitas fisik ibadahnya.
Karena itu, Imran memohon dukungan dari pemerintah Arab Saudi untuk mempermudah legalitas operasional akses layanan kesehatan Indonesia selama penyelenggaraan ibadah haji.
“Kami perlu memastikan bahwa setiap jemaah yang berangkat benar-benar memenuhi kriteria istitha’ah kesehatan,” ujar Imran.
“Pemerintah Indonesia juga perlu diberikan kemudahan dalam legalitas operasional layanan kesehatan haji selama di Arab Saudi. Persoalan penyelenggaraan kesehatan haji adalah tanggung jawab bersama,” lanjutnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan