Beritabanten.com — Pernyataan Dedi Mulyadi (KDM) di media sosial bahwa dirinya tidak tertarik maju dalam pemilihan presiden, sekaligus menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk dua periode, menarik untuk dib umum yang sedang berkuasa merupakan sesuatu yang lazim dalam politik. Namun, politik kekuasaan tidak hanya berbicara mengenai apa yang dikatakan,aca lebih jauh. Dalam politik, sebuah pernyataan tidak selalu berhenti sebagai sikap pribadi. Ada momentum, ada kalkulasi, dan ada pesan yang ingin disampaikan kepada publik maupun elite.

Secara formal, sikap tersebut memang terlihat sederhana. Seorang kader partai memberikan dukungan kepada ketua umum yang sedang berkuasa merupakan sesuatu yang lazim dalam politik. Namun, politik kekuasaan tidak hanya berbicara mengenai apa yang dikatakan, melainkan juga kapan pernyataan itu muncul dan dalam konteks konfigurasi politik seperti apa.

Dedi Mulyadi saat ini bukan lagi figur yang berada di pinggir arena politik nasional. Ia memiliki eksposur publik yang tinggi, basis dukungan yang terus berkembang, serta kemampuan komunikasi politik yang kuat, terutama melalui media sosial. Karena itu, ketika figur dengan modal politik sebesar itu mengatakan tidak tertarik maju Pilpres, justru muncul pertanyaan: apakah benar tidak tertarik, atau memang belum menjadi calon presiden dapat dengan cepat dibaca sebagai ancaman oleh elite yang sedang memegang kendali. Sebaliknya, sikap menahan diri dapat menjadi strategi dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut. Sikap itu dapat dibaca sebagai bentuk loyalitas kepada konfigurasi kekuasaan yang ada sekaligus cara menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan. Dengan tidak membuka front baru terlalu cepat, KDM justru memiliki kesempatan untuk terus memper waktunya?

Dalam politik, ambisi yang diumumkan terlalu dini dapat menjadi bumerang. Seorang figur yang secara terbuka menyatakan keinginan menjadi calon presiden dapat dengan cepat dibaca sebagai ancaman oleh elite yang sedang memegang kendali. Sebaliknya, sikap menahan diri dapat menjadi strategi untuk mengurangi resistensi sekaligus menjaga ruang gerak politik tetap terbuka.

Dukungan KDM terhadap Prabowo untuk dua periode dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut. Sikap itu dapat dibaca sebagai bentuk loyalitas kepada konfigurasi kekuasaan yang ada sekaligus cara menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan. Dengan tidak membuka front baru terlalu cepat, KDM justru memiliki kesempatan untuk terus memperbesar modal politiknya.

Dalam teori elite, kekuasaan tidak selalu direbut melalui konfrontasi terbuka. Sering kali, kekuasaan dibangun melalui akumulasi pengaruh, jaringan, loyalitas, dan kemampuan membaca momentum. Aktor politik yang mampu menahan ambisi pada saat yang tepat justru masih menjadi arena yang panjang, maka empat tahun ke depan dapat digunakan untuk memperkuat rekam jejak pemerintahan, memperluas jaringan politik, membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat, serta mempertahankan eksistensi di ruang digital. Semua itu merupakan modal yang jauh lebih penting ketika dapat memiliki posisi tawar yang lebih besar ketika momentum perubahan tiba.

KDM juga memiliki keuntungan lain: waktu.

Jika Pilpres 2029 masih menjadi arena yang panjang, maka empat tahun ke depan dapat digunakan untuk memperkuat rekam jejak pemerintahan, memperluas jaringan politik, membangun hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat, serta mempertahankan eksistensi di ruang digital. Semua itu merupakan modal yang jauh lebih penting ketika kontestasi nasional benar-benar dimulai.

Dalam perspektif rational choice, keputusan politik pada dasarnya merupakan kalkulasi antara keuntungan dan risiko. Maju terlalu cepat memiliki risiko tinggi karena harus berhadapan dengan mesin politik yang lebih besar dan konfigurasi elite yang belum tentu menguntungkan. Sebaliknya, menunda ambisi memungkinkan seorang politisi mengumpulkan sumber daya sembari menunggu situasi menjadi lebih favorable.

Media sosial juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Pernyataan bahwa dirinya tidak tertarik maju dapat membangun citra sebagai figur yang tidak haus jabatan. Ironisnya, citra semacam itu justru dapat meningkatkan daya tarik politik. Publik sering kali memberikan apresiasi lebih besar kepada figur yang terlihat tidak mengejar kekuasaan dibandingkan kepada mereka yang terlalu cepat meny Politik selalu bergerak dinamis. Konfigurasi partai, tingkat kepuasan publik, kondisi pemerintahan, perkembangan ekonomi, hingga keputusan tidak perlu mengatakan “saya maju”, tetapi juga tidak harus menutup seluruh pintu masa depan. Dengan mendukung Prabowo, ia tetap berada dalam arus kekuasaan. Dengan tidak menyatakan ambisi, ia menghindari konflik terlaluatakan ambisi.

Namun, tentu tidak tepat pula menyimpulkan bahwa pernyataan KDM merupakan bukti pasti adanya rencana maju pada Pilpres 2029. Politik selalu bergerak dinamis. Konfigurasi partai, tingkat kepuasan publik, kondisi pemerintahan, perkembangan ekonomi, hingga keputusan elite nasional dapat berubah dalam hitungan tahun.

Karena itu, pernyataan KDM lebih menarik jika dibaca sebagai strategi menjaga fleksibilitas politik. Ia tidak perlu mengatakan “saya maju”, tetapi juga tidak harus menutup seluruh pintu masa depan. Dengan mendukung Prabowo, ia tetap berada dalam arus kekuasaan. Dengan tidak menyatakan ambisi, ia menghindari konflik terlalu dini.

Di sinilah politik menunda menjadi menarik. Menunda bukan berarti kehilangan ambisi. Dalam banyak situasi, menunda justru merupakan bentuk amb dari kekuatan politik yang berada di lingkar pemerintahan. Sebaliknya, jika terjadi perubahan peta politik menjelang 2029, ia masih dari arena. Ia justru berpotensi sedang memainkan permainan jangka panjang: tidak terburu-buru mengumisi yang dikelola dengan lebih matang.

Jika Prabowo benar-benar melanjutkan pemerintahan hingga 2029 dan konfigurasi politik tetap stabil, KDM dapat memperoleh keuntungan dari posisi sebagai bagian dari kekuatan politik yang berada di lingkar pemerintahan. Sebaliknya, jika terjadi perubahan peta politik menjelang 2029, ia masih memiliki ruang untuk menentukan sikap berdasarkan situasi yang berkembang.

Dengan kata lain, KDM tampaknya tidak sedang keluar dari arena. Ia justru berpotensi sedang memainkan permainan jangka panjang: tidak terburu-buru mengumumkan tujuan akhir, tetapi terus mengumpulkan modal politik.

Pada akhirnya, publik tidak harus langsung percaya bahwa pernyataan “tidak tertarik maju” merupakan kode menuju Pilpres 2029. Tetapi publik juga tidak perlu menganggapnya sekadar kalimatat bisa kehilangan momentum. KDM tampaknya memilih jalan tengah: tetap loyal terhadap kekuasaan yang ada, semb spontan tanpa konsekuensi politik.

Dalam politik, waktu adalah modal. Terlalu cepat bisa menjadi kesalahan, sementara terlalu lambat bisa kehilangan momentum. KDM tampaknya memilih jalan tengah: tetap loyal terhadap kekuasaan yang ada, sembari mempertahankan modal politik dan ruang manuver untuk masa depan.

Sebab dalam pertarungan menuju kekuasaan, tidak selalu mereka yang paling cepat menyatakan siap yang akhirnya sampai ke garis akhir. Terkadang, justru mereka yang paling sabar menunggu momentum yang, calon presiden 2029, Pemilu 2029, strategi politik, elite politik, kekuasaan, Partai Gerindra, pemerintahan datang dengan peluang paling besar. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com