Beritabanten.com — Penolakan Amerika Serikat terhadap resolusi “Correct the Map” menarik jika dilihat melalui teori konstruksi sosial pengetahuan. Peta pada dasarnya bukanlah dunia itu sendiri, melainkan representasi yang dibuat manusia melalui pilihan matematis, teknologi, dan kepentingan tertentu. Proyeksi Mercator memiliki fungsi ilmiah untuk navigasi, tetapi secara visual memperbesar wilayah yang berada dekat kutub dan mengecilkan wilayah tropis. Karena peta digunakan terus-menerus dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, representasi tersebut kemudian dapat membentuk cara masyarakat membayangkan dunia.
Penolakan AS kemudian dapat dianalisis melalui teori politik pengetahuan. Pengetahuan tidak selalu berada di ruang yang sepenuhnya netral; lembaga politik juga menentukan pengetahuan atau representasi mana yang dianggap penting untuk dipromosikan. Ketika PBB mendorong penggunaan peta tertentu, persoalannya bergeser dari matematika kartografi menjadi pertanyaan: siapa yang memiliki kewenangan menentukan bagaimana dunia seharusnya direpresentasikan? Di sinilah peta berubah dari alat geografis menjadi simbol politik.
Namun, penting untuk tidak terjebak pada kesimpulan bahwa Mercator otomatis merupakan simbol dominasi Barat atau bahwa Equal Earth otomatis merupakan “peta yang lebih benar” dalam segala hal. Teori kartografi justru mengajarkan bahwa tidak ada satu proyeksi yang sempurna untuk semua tujuan. Mercator unggul untuk kebutuhan tertentu seperti navigasi, sedangkan Equal Earth lebih tepat ketika tujuan utamanya adalah membandingkan luas wilayah. Jadi, kritik yang lebih ilmiah bukan menghapus Mercator, melainkan memahami kapan sebuah proyeksi digunakan dan distorsi apa yang dibawanya.
Dari perspektif keadilan representasional, dorongan untuk menggunakan peta yang lebih proporsional juga memiliki nilai simbolis. Jika selama puluhan tahun masyarakat terbiasa melihat wilayah tertentu secara visual lebih besar dan wilayah lain lebih kecil, maka memperbaiki representasi tersebut dapat membantu membangun pemahaman geografis yang lebih setara. Bukan berarti ukuran pada peta menentukan nilai suatu bangsa, tetapi representasi visual dapat memengaruhi persepsi manusia terhadap ruang, jarak, dan posisi suatu wilayah dalam dunia.
Karena itu, kontroversi ini sebenarnya bukan hanya tentang Afrika versus Greenland atau Amerika versus PBB. Ini adalah contoh menarik bagaimana sains, teknologi, politik, dan persepsi sosial saling bertemu dalam sebuah gambar sederhana bernama peta. Peta tidak mengubah ukuran bumi; yang berubah adalah cara manusia melihat bumi. Dan ketika cara melihat tersebut dipakai selama berabad-abad, mempertanyakan representasinya bukan sekadar mengganti gambar, tetapi juga mengajak kita bertanya: apakah cara kita melihat dunia selama ini sudah seadil dan seakurat dunia yang sebenarnya? (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan