Beritabanten.com — Boneka tak lagi sekadar mainan anak-anak. Di kalangan generasi Z, benda-benda dengan karakter lucu dan menggemaskan kini menjadi bagian dari gaya hidup, ekspresi diri, hingga cara menikmati keseharian.
Tren tersebut salah satunya terlihat dari kebiasaan mengoleksi boneka Palsy. Bagi sebagian anak muda, boneka bukan hanya menjadi pajangan di kamar, tetapi juga teman di meja kerja, pelengkap dekorasi, hingga bagian dari konten yang dibagikan di media sosial.
Ada kesenangan tersendiri dalam mengoleksi. Mulai dari mencari karakter favorit, mengikuti koleksi terbaru, hingga mendapatkan boneka yang sudah lama diincar menjadi pengalaman yang memberikan kepuasan tersendiri.
Fenomena orang dewasa yang kembali menikmati mainan dan berbagai hal yang identik dengan masa kanak-kanak dikenal dengan istilah kidult. Fenomena ini juga berkembang melalui media sosial dan komunitas daring yang mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan serupa.
Peneliti Psikologi Sosial Universitas Indonesia, Wawan Kurniawan, melihat fenomena tersebut tidak semata-mata sebagai aktivitas konsumsi.
Menurut Wawan, kebiasaan orang dewasa membeli dan mengoleksi mainan dapat berkaitan dengan nostalgia kolektif, regulasi emosi, serta proses membentuk kembali identitas diri sebagai orang dewasa.
“Selain itu, tren ini diperkuat oleh media dan komunitas daring yang menciptakan norma baru dan rasa afiliasi, menjadikan mainan bukan hanya objek hiburan, tapi juga alat pembentukan makna, status, dan solidaritas sosial,” kata Wawan, seperti dikutip dari Tirto, Kamis 3 Agustus 2026.
Lebih dari Sekadar Koleksi
Bagi Gen Z, boneka juga dapat menjadi bagian dari identitas personal. Karakter yang dipilih sering kali mencerminkan selera, kepribadian, atau sesuatu yang sedang disukai.
Media sosial kemudian memperluas pengalaman tersebut. Kolektor dapat membagikan koleksi, membuat konten unboxing, bertukar informasi, hingga bergabung dengan komunitas sesama penggemar.
Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk kesenangan pribadi pun berkembang menjadi pengalaman sosial.
Wawan menjelaskan bahwa fenomena kidult juga berkaitan dengan cara orang dewasa memaknai kembali masa kanak-kanak.
“Dalam kerangka psikologi sosial, perilaku ini mencerminkan bagaimana individu dewasa mereposisi makna ‘kedewasaan’, menjadikan konsumsi simbolik terhadap objek masa kecil sebagai cara untuk merayakan otentisitas diri,” ujarnya.
Dengan demikian, mengoleksi boneka tidak selalu berarti seseorang enggan menjadi dewasa. Sebaliknya, aktivitas tersebut dapat menjadi cara untuk mempertahankan sisi diri yang menyenangkan sekaligus menemukan ruang untuk beristirahat dari berbagai tuntutan kehidupan.
Cara Sederhana Menikmati Hidup
Rutinitas kuliah, pekerjaan, dan kehidupan sosial yang padat membuat sebagian anak muda mencari aktivitas sederhana yang dapat memberikan rasa nyaman.
Bagi mereka, membeli satu boneka favorit, menata koleksi di kamar, atau membawa karakter kesayangan saat bepergian bisa menjadi bentuk self-reward.
Kesenangan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat hobi mengoleksi terasa personal.
Di sisi lain, tren ini tetap perlu dijalani secara bijak. Keinginan untuk melengkapi koleksi atau mendapatkan karakter tertentu dapat mendorong perilaku konsumtif jika tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Pada akhirnya, tren koleksi boneka Palsy memperlihatkan perubahan cara Gen Z menikmati hidup. Kebahagiaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk perjalanan mahal, barang mewah, atau pencapaian besar.
Terkadang, kebahagiaan bisa datang dari sesuatu yang sederhana—sebuah boneka lucu yang menghiasi kamar, menemani bekerja, atau sekadar menghadirkan senyum di tengah kesibukan.
Menjadi dewasa bukan berarti harus meninggalkan semua hal yang pernah membuat bahagia ketika kecil. Bagi Gen Z, mempertahankan sedikit sisi kanak-kanak justru bisa menjadi cara untuk menjalani hidup dengan lebih ceria, personal, dan penuh semangat. (Red)]
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan