Beritabanten.com — Kelangkaan talas di pasaran mulai dirasakan pedagang rebusan umbi-umbian di Tangerang Selatan. Kondisi tersebut membuat pedagang harus mencari pasokan hingga ke Bogor.

Band Dedy, penjual rebusan umbi-umbian di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengatakan stok talas di pasaran semakin sulit diperoleh.

“Sampai nyari ke Bogor saya, Bang. Enggak ada. Kan lagi kemarau juga, akhirnya sulit,” katanya, Selasa (31/8/2026).

Bukan hanya talas. Ketersediaan singkong juga menghadapi persoalan kualitas. Menurutnya, singkong yang tersedia banyak yang sudah berserat kasar sehingga kurang enak dikonsumsi.

“Ada singkong, tapi pada tinggal jarot (serat kasar). Kan enggak enak dimakan, enggak ada dagingnya,” ujarnya.

Harga sejumlah bahan baku lainnya juga mengalami kenaikan dan semakin sulit diperoleh, salah satunya jagung.

“Yang masih mending mah ubi jalar masih banyak dan pisang tanduk. Tapi nanti juga bisa terbatas,” katanya.

Untuk mengantisipasi kelangkaan, Band Dedy mempertimbangkan membeli talas secara daring. Namun, harga yang ditawarkan membuatnya harus berhitung agar modal usaha tidak terkuras.

“Mau beli online talasnya, tapi modal bisa kesedot perlahan. Kan barang itu,” katanya sambil memperlihatkan tawaran harga di kanal digital.

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa masalah bahan baku pangan tidak hanya terjadi di tingkat pedagang. Ada persoalan yang lebih mendasar pada mata rantai produksi pertanian dari hulu hingga hilir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Pertanian 2023 menunjukkan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) di Indonesia sebanyak 29.342.202 unit. Jumlah tersebut turun 7,45 persen dibandingkan 2013 yang mencapai 31.705.295 unit.

BPS juga mencatat sebanyak 27.802.434 orang merupakan petani pengguna lahan pertanian. Dari jumlah tersebut, 17.251.432 orang merupakan petani gurem yang mengusahakan lahan kurang dari 0,5 hektare.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian menghadapi persoalan struktural. Tantangannya bukan semata-mata meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga agar kegiatan bertani tetap menarik dan layak secara ekonomi bagi masyarakat.

Persoalan regenerasi petani juga menjadi perhatian. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, mengatakan regenerasi petani perlu segera dilakukan untuk mencegah krisis pertanian dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

Di sisi lain, pakar pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin, menekankan pentingnya penyuluhan dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas. Menurutnya, petani membutuhkan pendampingan agar penggunaan sarana produksi dapat dilakukan secara tepat dan efisien.

Dalam konteks kelangkaan talas, persoalan tersebut semestinya menjadi perhatian dari tingkat hulu. Petani membutuhkan kepastian bahwa komoditas yang ditanam memiliki pasar, harga yang layak, serta dukungan produksi yang memadai.

Pertanian ke depan idealnya tidak lagi berjalan secara sporadis, tetapi diarahkan menjadi industri yang lebih teratur dan terintegrasi. Pemerintah, petani, pelaku usaha, akademisi, dan pihak lainnya perlu memiliki peran yang jelas dalam menjaga mata rantai produksi.

Regulasi juga perlu diperkuat agar petani memiliki kepastian dalam menanam talas. Mulai dari akses terhadap lahan, bibit dan sarana produksi, pendampingan budidaya, hingga kepastian pasar harus menjadi bagian dari ekosistem pertanian.

Jika mata rantai tersebut kuat, kelangkaan bahan baku dapat diantisipasi sebelum sampai menekan pedagang dan konsumen. Petani pun tidak hanya menjadi pihak yang diminta meningkatkan produksi, tetapi mendapatkan kepastian ekonomi dari hasil pertaniannya.

Kasus talas di Tangerang Selatan pada akhirnya menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar. Ketika produksi di hulu tidak terjaga, dampaknya akan terasa hingga ke pedagang kecil di tingkat hilir.

Karena itu, menjaga ketersediaan talas bukan sekadar persoalan mencari barang ketika stok menipis. Yang lebih penting adalah memastikan ada petani yang terus menanam, produksi yang berkelanjutan, rantai pasok yang tertata, dan kebijakan yang mampu menjamin keberlangsungan sektor pertanian.

Dengan demikian, persoalan bahan baku tidak selalu harus diselesaikan setelah terjadi kelangkaan. Antisipasi harus dimulai sejak dari lahan pertanian, sehingga pedagang seperti Band Dedy tidak perlu mencari talas hingga ke daerah lain hanya untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com