Beritabanten.com — Eko Kuntadhi kembali melontarkan kritik melalui akun Facebook-nya pada Minggu, 30 Agustus 2026. Dalam unggahannya, Eko mempertanyakan makna “suara asli rakyat” ketika kelompok-kelompok yang disebutnya sebagai ormas preman ikut menghalau massa demonstrasi.

Dengan nada satir, Eko menulis bahwa jika ingin mengetahui suara asli rakyat, caranya “gampang, tinggal tekuk aja”. Ia kemudian menyebut kelompok yang ikut menghalau demonstrasi telah “bermetamorfosis jadi partai”.

Pernyataan tersebut kemudian diarahkan Eko pada persoalan politik elektoral. Ia membayangkan bagaimana pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 jika aparat, ormas, birokrasi, dan berbagai kekuatan lainnya bergerak menjadi mesin “pengepul suara”.

Unggahan Eko menarik perhatian karena kritik yang disampaikannya tidak hanya berkaitan dengan aksi demonstrasi. Ia juga menyoroti kemungkinan munculnya kekuatan non-elektoral yang kemudian memiliki pengaruh terhadap pertarungan politik menjelang Pemilu 2029.

Kekhawatiran mengenai dinamika politik menuju Pilpres 2029 juga bukan kali pertama disampaikan Eko. Pada Juni lalu, ia telah menyinggung potensi terganggunya agenda Pilpres 2029 apabila gesekan politik dan tekanan ekonomi semakin membesar.

Meski demikian, pernyataan mengenai ormas yang “bermetamorfosis jadi partai” perlu ditempatkan sebagai pandangan atau sindiran politik Eko Kuntadhi. Kalimat tersebut tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai fakta bahwa organisasi tertentu secara resmi telah berubah menjadi partai politik.

Kritik tersebut pada akhirnya membawa persoalan pada pertanyaan yang lebih luas mengenai kebebasan menyampaikan pendapat dan posisi kelompok masyarakat dalam kehidupan demokrasi.

Jika kelompok masyarakat yang seharusnya berada di luar kekuasaan mulai digunakan untuk menghadapi suara yang berbeda, maka ruang kebebasan publik menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah suara rakyat tetap dapat disampaikan secara bebas menjelang pertarungan politik 2029, atau justru akan muncul berbagai kekuatan yang berusaha “menekuk” suara tersebut agar sesuai dengan kepentingan politik tertentu.

Perdebatan mengenai hal itu diperkirakan akan semakin menguat seiring mendekatnya Pemilu 2029. Bagi demokrasi, tantangannya bukan hanya soal siapa yang memenangkan kontestasi, tetapi juga bagaimana memastikan suara masyarakat tetap memiliki ruang untuk disampaikan tanpa tekanan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com