Beritabanten.com – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi lMulyadi mendadak menjadi perbincangan dalam bursa calon presiden. Sejumlah hasil survei yang dirilis belakangan ini menunjukkan elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap Dedi terus menguat, sehingga namanya mulai diperhitungkan dalam peta politik nasional.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat mencapai 95,4 persen. Survei yang dilakukan pada 2–9 Juli 2026 terhadap 800 responden di 27 kabupaten/kota itu menunjukkan 39,3 persen responden mengaku sangat puas, sedangkan 56,1 persen menyatakan cukup puas.
Pada periode yang hampir bersamaan, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis simulasi Pemilihan Presiden yang menempatkan nama Dedi sebagai salah satu figur dengan elektabilitas tinggi. Dalam salah satu simulasi, Dedi memperoleh elektabilitas sekitar 35 persen, sementara dalam simulasi head-to-head melawan Prabowo Subianto, Dedi meraih 59 persen dibandingkan 28,3 persen.
Meski hasil survei bukan merupakan prediksi pemenang pemilu, temuan tersebut menunjukkan nama Dedi mulai mendapat perhatian publik di tingkat nasional.
Menguatnya posisi Dedi dinilai tidak terlepas dari gaya kepemimpinannya selama memimpin Jawa Barat. Berbagai program pembangunan infrastruktur, penanganan banjir melalui normalisasi sungai, penataan kawasan sempadan sungai, hingga respons terhadap berbagai persoalan masyarakat menjadi bagian dari kebijakan yang banyak mendapat sorotan publik.
Aktivitas Dedi yang kerap turun langsung ke lapangan dan membagikan perkembangan program pemerintah melalui media sosial juga turut memperluas jangkauan popularitasnya. Tidak sedikit warga dari luar Jawa Barat yang membandingkan kondisi daerahnya dengan berbagai pembangunan yang dilakukan di provinsi tersebut.
Dalam kajian ilmu politik, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep performance legitimacy, yakni legitimasi politik yang tumbuh dari penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Ketika publik merasakan manfaat kebijakan yang dijalankan, tingkat kepercayaan terhadap pemimpin cenderung meningkat.
Selain itu, konsep policy diffusion menjelaskan bahwa kebijakan yang dianggap berhasil di suatu daerah sering menjadi referensi bagi daerah lain. Kondisi ini terlihat dari munculnya berbagai aspirasi masyarakat yang menginginkan pola pembangunan serupa diterapkan di wilayah masing-masing.
Meski demikian, menjadi presiden memiliki tantangan yang jauh berbeda dibandingkan memimpin sebuah provinsi. Pemerintah pusat harus menghadapi persoalan ekonomi nasional, hubungan luar negeri, pertahanan, hingga stabilitas politik yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, tingginya kepuasan publik di tingkat daerah maupun hasil simulasi survei belum dapat dijadikan jaminan keberhasilan dalam kontestasi politik nasional. Namun, berbagai temuan survei tersebut menunjukkan bahwa nama Dedi Mulyadi kini mulai masuk dalam radar politik nasional dan menjadi salah satu figur yang diperhitungkan menjelang dinamika politik mendatang. (Rez)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan