Beritabanten.com – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Temuan survei Indonesian Political Opinion (IPO) menjadi salah satu indikator yang memperlihatkan perubahan persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.
Penurunan tersebut menarik perhatian karena muncul di tengah berbagai klaim keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program pembangunan dan kebijakan ekonomi.
Dalam politik, tingkat kepuasan publik tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pemerintah secara formal, tetapi juga oleh seberapa jauh hasil kebijakan dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Harga kebutuhan pokok, daya beli, kesempatan kerja, pendapatan rumah tangga, serta kualitas pelayanan publik menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi.
Kondisi tersebut berkaitan dengan konsep performance legitimacy, yakni legitimasi pemerintah yang turut dibangun dari kemampuan menghadirkan kinerja yang dirasakan masyarakat.
Ketika masyarakat merasakan kehidupan semakin membaik, tingkat kepercayaan terhadap pemerintah cenderung menguat. Sebaliknya, ketika tekanan ekonomi semakin terasa, kepuasan dapat menurun meskipun pemerintah masih mencatat berbagai capaian makro.
Penilaian masyarakat juga dapat dilihat melalui konsep retrospective voting yang dikembangkan ilmuwan politik Morris Fiorina. Pemilih cenderung menilai pemerintah berdasarkan pengalaman dan kondisi yang mereka rasakan, bukan hanya berdasarkan janji atau program yang belum memberikan hasil langsung.
Karena itu, narasi mengenai investasi, pembangunan infrastruktur, hilirisasi, maupun berbagai program jangka panjang belum tentu otomatis meningkatkan kepuasan publik apabila manfaatnya belum dirasakan masyarakat secara luas.
Ada pula persoalan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masyarakat dapat mengakui pemerintah bekerja, tetapi pada saat yang sama merasa hasilnya belum cukup untuk menjawab kebutuhan sehari-hari.
Jika kesenjangan tersebut semakin lebar, muncul risiko perception gap atau jarak antara narasi keberhasilan pemerintah dengan pengalaman yang dirasakan masyarakat.
Pemerintah berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, sementara sebagian masyarakat masih menghadapi persoalan harga, pekerjaan, pendapatan, dan biaya hidup.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan publik. Penurunan kepuasan tidak selalu berarti masyarakat kehilangan kepercayaan sepenuhnya, tetapi dapat menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu memperhatikan kembali persoalan yang paling dirasakan masyarakat.
Karena itu, hasil survei sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai angka politik. Temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi mengenai efektivitas kebijakan sekaligus kemampuan pemerintah menjembatani capaian makro dengan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.
Jika pemerintah mampu merespons persoalan tersebut melalui kebijakan yang lebih tepat sasaran, keterbukaan informasi, dan komunikasi yang lebih realistis, tren kepuasan publik masih dapat diperbaiki.
Sebaliknya, jika penurunan tersebut hanya dianggap sebagai dinamika survei dan tidak dibaca sebagai sinyal perubahan persepsi masyarakat, persoalan kecil dapat berkembang menjadi defisit kepercayaan yang lebih besar.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintahan bukan hanya seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya.
Survei dapat berubah dari waktu ke waktu. Namun ketika arah penilaian publik mulai menunjukkan kecenderungan menurun, pertanyaan terpenting bukan sekadar berapa persen tingkat kepuasannya, melainkan apa yang membuat masyarakat mulai merasa hasil pembangunan belum cukup menjawab kehidupan mereka. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan