Beritabanten.com – Ada masa ketika batu cincin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Salah satu momen yang ikut membuat batu alam, khususnya bacan, semakin ramai diperbincangkan adalah ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal mengenakan batu bacan.

Dari situ, perhatian terhadap batu bacan dan berbagai jenis batu alam lainnya semakin meluas. Batu yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan tertentu perlahan menjadi pembicaraan masyarakat luas. Harga ikut bergerak, pedagang bermunculan, dan profesi pengrajin batu mendapat tempat tersendiri.

Bang Yogo, salah seorang pengrajin batu, masih mengingat bagaimana suasana ketika demam batu cincin mencapai puncaknya.

“Waktu Pak SBY pakai batu bacan, orang-orang semakin penasaran. Batu bacan jadi ramai dibicarakan. Setelah itu banyak yang mulai mencari batu, bukan hanya bacan, tetapi berbagai jenis batu lainnya,” ujar Bang Yogo, Pamulang, Rabu 22 September 2026.

Menurutnya, popularitas batu bacan kemudian menciptakan efek berantai. Masyarakat mulai berburu batu, sementara pengrajin mendapatkan banyak pekerjaan untuk memotong, membentuk dan menggosok batu mentah menjadi mata cincin.

“Dulu tukang gosok bisa sangat ramai. Orang datang membawa batu mentah, lalu minta dibentuk. Ada yang untuk dipakai sendiri, ada juga yang memang untuk dikoleksi atau dijual,” katanya.

Booming batu cincin juga membuat harga sejumlah jenis batu melambung. Batu yang memiliki warna, motif, serat atau karakter tertentu bisa dihargai jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Namun, meningkatnya permintaan terhadap batu alam juga membawa persoalan lain. Aktivitas pengambilan batu dari alam perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan. Jangan sampai tren terhadap batu justru meninggalkan kerusakan di lokasi penambangan.

“Kalau mengambil batu jangan asal mengambil. Alam harus tetap dijaga. Jangan sampai karena mengejar batu, lingkungan malah rusak,” ujar Bang Yogo.

Seiring waktu, demam batu cincin akhirnya mereda. Harga tidak lagi setinggi masa booming dan masyarakat yang sebelumnya ramai mengoleksi batu mulai kembali pada aktivitas masing-masing.

Tetapi bagi Bang Yogo, berakhirnya tren bukan berarti berakhir pula dunia batu.

“Kalau sekarang memang sudah tidak seperti dulu. Tapi penghobi tetap ada. Orang yang memang suka batu akan tetap mencari dan merawat batunya,” tuturnya.

Salah satu yang masih bertahan adalah hobi mengolah batu ali. Bagi penghobi, batu tidak selalu harus mahal. Karakter alami, warna, motif dan hasil akhir setelah digosok justru menjadi daya tarik tersendiri.

Di tangan pengrajin, batu yang tampak sederhana dapat berubah menjadi benda yang memiliki nilai estetika. Proses tersebut membutuhkan ketelitian karena setiap batu memiliki karakter berbeda.

“Yang penting sekarang kualitas karya. Kalau hasil gosokannya bagus, orang tetap menghargai. Pengrajin juga harus bisa mempertahankan kualitas, karena sekarang orang membeli bukan hanya karena ikut tren,” kata Bang Yogo.

Menurutnya, perubahan dari era booming menuju era hobi justru membuat dunia batu menjadi lebih selektif. Pengrajin tidak bisa lagi hanya mengandalkan tingginya permintaan. Keahlian dan kualitas menjadi modal untuk mempertahankan pelanggan.

Mesin gosok yang dahulu sibuk melayani banyak pesanan kini mungkin tidak lagi berputar sepanjang hari. Namun, suara gesekan batu dengan alat pemoles masih terdengar di tempat-tempat pengrajin yang memilih bertahan.

Bagi mereka, batu cincin bukan sekadar cerita tentang harga yang pernah melambung. Ada keterampilan yang telah dipelajari, ada karya yang dihasilkan, dan ada kepuasan tersendiri ketika melihat batu kasar berubah menjadi permata.

SBY dan batu bacan mungkin menjadi bagian dari cerita besar tentang bagaimana batu cincin pernah menjadi fenomena nasional. Tetapi setelah popularitas itu berlalu, para pengrajin seperti Bang Yogo tetap berada di dunia yang sama: memilih bahan, menggosok batu, menjaga kualitas dan melayani para penghobi.

Sebab, tren boleh datang dan pergi. Tetapi bagi mereka yang benar-benar mencintai batu, hobi tidak harus ikut berhenti. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com