Beritabanten.com – Di sebuah etalase toko jam, deretan jam Jepang sering kali tidak membutuhkan banyak penjelasan. Seiko dengan karakter klasiknya, Casio dengan desain digital yang khas, atau Citizen dengan teknologi quartz-nya sudah memiliki penggemar sendiri. Bagi sebagian orang, jam tangan bukan sekadar alat untuk melihat waktu, tetapi juga bagian dari gaya, kenangan dan identitas.

Perjalanan panjang itulah yang membuat produk jam Jepang mempunyai tempat tersendiri di pasar Indonesia. Mereka tidak selalu mencoba menjadi “Swiss versi Jepang”. Sebaliknya, industri jam Jepang justru membangun jalurnya melalui teknologi, ketepatan, efisiensi dan fungsi.

Sejarah tersebut mempunyai titik penting pada 1969 ketika Seiko memperkenalkan Quartz Astron 35SQ, yang dicatat sebagai jam tangan quartz pertama di dunia. Ketika diluncurkan pada 25 Desember 1969, harganya mencapai 450.000 yen, kurang lebih setara harga sebuah mobil populer di Jepang kala itu. Teknologi quartz tersebut memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi dibandingkan jam mekanis pada zamannya.

Perjalanan Seiko bahkan mendapat pengakuan dari Japan Society of Mechanical Engineers. Pada 2014, lembaga tersebut menetapkan tiga produk Seiko sebagai Mechanical Engineering Heritage, yakni Laurel 1913 sebagai jam tangan Jepang pertama, Grand Seiko generasi pertama, dan Quartz Astron 1969.

Dari sini terlihat bahwa upaya Jepang memasuki industri jam bukan sekadar mengikuti pasar yang telah lama dikuasai produsen Eropa. Jepang mengembangkan teknologi yang kemudian ikut mengubah arah industri jam dunia.

Cerita berbeda datang dari Casio. Perusahaan yang sebelumnya dikenal melalui kalkulator elektronik itu masuk ke bisnis jam pada 1974. Casio memanfaatkan teknologi LSI yang dikembangkan untuk kalkulator dan menerapkannya pada jam digital. Lahirlah Casiotron, jam tangan elektronik yang memiliki kalender otomatis.

Menariknya, Casio sendiri mencatat bahwa ketika hendak masuk ke bisnis jam, perusahaan menghadapi industri Jepang yang sudah terintegrasi dari produksi hingga penjualan. Artinya, pendatang baru tidak otomatis mendapatkan ruang. Pendekatan Casio adalah menawarkan sesuatu yang berbeda melalui teknologi digital dan fungsi multifungsi.

Kisah itu kemudian berkembang menjadi budaya tersendiri. Jam Casio tidak hanya dibeli karena menunjukkan waktu. Fungsi, bentuk, ketahanan dan desainnya ikut menjadi alasan konsumen memilihnya.

Model-model klasik Casio bahkan memperoleh kehidupan kedua di tengah tren barang vintage. Bentuk kotak, layar digital sederhana dan tombol yang khas justru menghadirkan nostalgia bagi konsumen yang pernah mengenalnya sejak era 1980-an dan 1990-an.

Fenomena tersebut menarik jika dilihat dari kebiasaan konsumen Indonesia. Di satu sisi, ada orang yang memilih jam Swiss karena tertarik pada sejarah horologi, mekanisme mekanis dan citra kemewahan. Di sisi lain, ada konsumen yang merasa cukup dengan jam Jepang karena mengutamakan fungsi, ketepatan, desain dan penggunaan sehari-hari.

Seorang penggemar jam, misalnya, bisa memiliki lebih dari satu jenis jam. Untuk acara tertentu ia mengenakan jam mekanis, sedangkan untuk aktivitas harian memilih Casio digital atau Seiko quartz. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pasar jam sebenarnya tidak sesederhana pertarungan antara merek Jepang dan Swiss.

Jam Jepang mempunyai ruangnya sendiri.

Seiko dapat berbicara kepada konsumen yang menyukai jam mekanis maupun quartz. Casio mempunyai penggemar kuat pada jam digital dan desain fungsional. Citizen juga mengembangkan identitas melalui teknologi dan inovasi quartz. Masing-masing mempunyai sejarah dan karakter produk yang berbeda.

Casio bahkan masih merawat hubungan dengan sejarahnya. Dalam rangka 50 tahun jam tangan Casio, perusahaan tersebut menghadirkan kembali Casiotron dalam edisi terbatas. Casio Indonesia menyebut edisi reproduksi tersebut diproduksi sebanyak 4.000 unit di seluruh dunia.

Bagi penggemar jam, benda seperti itu bukan semata-mata persoalan harga. Ada cerita yang melekat pada sebuah model. Jam yang dahulu dipakai orang tua, jam pertama yang dibeli dari uang sendiri, atau jam yang menemani seseorang bekerja bertahun-tahun dapat memiliki nilai emosional yang tidak selalu bisa dihitung dengan harga pasar.

Itulah sebabnya jam klasik Jepang masih mempunyai kehidupan di tengah perkembangan smartwatch. Teknologi baru memang menawarkan konektivitas, notifikasi dan berbagai fungsi digital. Namun jam konvensional tetap mempunyai daya tarik karena kesederhanaannya.

Dari perjalanan Seiko hingga Casio, Jepang menunjukkan bahwa masuk ke pasar yang telah memiliki pemain kuat tidak harus dilakukan dengan meniru produk yang sudah ada. Seiko membawa revolusi quartz, sementara Casio mengembangkan jam digital dengan pendekatan teknologi elektronik. Keduanya kemudian membentuk identitas yang berbeda.

Di Indonesia, identitas itu masih terlihat sampai sekarang. Jam Jepang hadir di pergelangan tangan berbagai generasi, dari penggemar barang vintage hingga anak muda yang kembali menyukai desain retro.

Pada akhirnya, jam Swiss dan jam Jepang tumbuh dengan sejarah dan karakter yang berbeda. Swiss memiliki tradisi panjang dalam horologi mekanis, sedangkan Jepang berhasil membangun kekuatan melalui teknologi quartz, elektronik, presisi manufaktur dan desain fungsional.

Karena itu, ketika sebuah Casio klasik atau Seiko lawas kembali muncul di pergelangan tangan seseorang, yang terlihat bukan sekadar penunjuk waktu. Ada sejarah industri, inovasi teknologi dan perjalanan budaya yang ikut bergerak bersama jarum jam tersebut. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com