Beritabanten.com — Sebanyak 270 siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Lebak mengikuti pra masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di gedung permanen baru di Panggarangan, Senin (31/8/2026).

Gedung tersebut berdiri di atas lahan seluas 8,8 hektare dan saat ini telah mencapai sekitar 98 persen penyelesaian. Fasilitas yang tersedia meliputi ruang belajar, asrama, gedung serbaguna, dapur, kantin, rumah ibadah, dan lapangan olahraga.

Gedung Sekolah Rakyat Panggarangan diproyeksikan mampu menampung sekitar 1.000 siswa.

Untuk tahun ajaran 2026/2027, terdapat 270 peserta didik yang terdiri atas 30 siswa SD, 120 siswa SMP, dan 120 siswa SMA. Mereka berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem kategori Desil 1 dan Desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Sekolah Rakyat memiliki tujuan lebih luas dari sekadar menyediakan tempat belajar. Program ini diarahkan untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan.

Karena itu, keberhasilannya tidak cukup dilihat dari jumlah siswa maupun fasilitas sekolah.

Yang lebih penting adalah kualitas pendidikan dan dampaknya terhadap kehidupan siswa setelah lulus.

Dalam teori pendidikan, sekolah memiliki peran penting dalam membuka mobilitas sosial. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Pemikiran Paulo Freire juga menempatkan pendidikan sebagai proses untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan peserta didik dalam menghadapi kondisi sosialnya.

Dalam konteks Sekolah Rakyat, pendekatan tersebut relevan karena peserta didik berasal dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Artinya, pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik.

Siswa juga perlu mendapatkan penguatan karakter, keterampilan sosial, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Hal tersebut semakin penting karena dunia kerja terus berubah akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Sekolah Rakyat perlu memastikan peserta didiknya tidak hanya mampu mengikuti pembelajaran dasar, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.

Untuk siswa SD dan SMP, penguatan literasi dan numerasi menjadi fondasi utama. Pada jenjang SMA, pendidikan dapat diarahkan pada persiapan perguruan tinggi, pendidikan vokasi, sertifikasi keterampilan, maupun dunia kerja.

Keberadaan asrama juga memberikan peluang untuk menerapkan pendidikan yang lebih terintegrasi.

Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kesehatan, dan kemampuan bekerja sama dapat dibentuk melalui kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan asrama.

Namun, sistem tersebut membutuhkan tenaga pendidik yang memadai.

Guru Sekolah Rakyat tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran. Mereka juga perlu memahami kondisi sosial peserta didik dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Hal ini penting karena siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memiliki persoalan yang berbeda dengan siswa dari kelompok ekonomi yang lebih mapan.

Persoalan pendidikan juga tidak dapat dipisahkan dari kesehatan. Seluruh siswa Sekolah Rakyat di Lebak telah menjalani pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang melibatkan tenaga medis Puskesmas Panggarangan.

Langkah tersebut penting untuk mengetahui kondisi kesehatan siswa sejak awal sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran.

Di sisi lain, keberadaan Sekolah Rakyat perlu disertai sistem evaluasi jangka panjang.

Pemerintah perlu melihat perkembangan siswa sejak masuk sekolah hingga beberapa tahun setelah mereka lulus.

Indikatornya dapat mencakup hasil belajar, kelanjutan pendidikan, keterampilan kerja, tingkat pekerjaan, pendapatan, hingga perubahan kondisi ekonomi keluarga.

Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah Sekolah Rakyat benar-benar berhasil menjadi instrumen pemutus rantai kemiskinan.

Sebab, tujuan akhirnya bukan hanya membuat anak dari keluarga miskin mendapatkan sekolah.

Tujuan yang lebih besar adalah meningkatkan peluang mereka untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Pernyataan Yani, salah satu orang tua siswa dari Malingping, menggambarkan harapan tersebut. Sebagai buruh tani, ia berharap anaknya yang diterima di jenjang SMA dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Harapan orang tua seperti itu perlu menjadi salah satu ukuran keberhasilan program.

Sekolah Rakyat juga perlu membangun hubungan dengan perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut dapat membuka akses bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan.

Untuk siswa yang memiliki kemampuan akademik, jalur menuju perguruan tinggi perlu diperkuat. Sementara siswa yang memiliki minat pada bidang tertentu dapat diarahkan pada pendidikan vokasi dan keterampilan kerja.

Dengan kapasitas gedung yang mencapai sekitar 1.000 siswa, Sekolah Rakyat Panggarangan memiliki peluang untuk berkembang menjadi pusat pendidikan bagi kelompok masyarakat miskin di wilayah Lebak.

Namun, kapasitas bangunan harus diikuti dengan kualitas pengelolaan.

Jumlah siswa yang besar membutuhkan guru yang cukup, sistem pengasuhan yang baik, layanan konseling, fasilitas kesehatan, serta pengawasan pendidikan yang konsisten.

Sekolah Rakyat juga perlu menghindari pendekatan pendidikan yang hanya memberikan perlakuan berbeda karena latar belakang ekonomi siswa.

Yang dibutuhkan adalah kesempatan yang lebih besar agar siswa dari keluarga miskin dapat mencapai standar kompetensi yang sama dengan siswa lainnya.

Dengan demikian, Sekolah Rakyat dapat menjadi bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan.

Program ini memberikan akses kepada kelompok yang secara ekonomi memiliki hambatan lebih besar untuk memperoleh pendidikan berkualitas.

Proyeksi ke depan juga perlu memperhatikan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Literasi digital, bahasa asing, kemampuan menggunakan teknologi, berpikir kritis, komunikasi, dan keterampilan memecahkan masalah akan semakin dibutuhkan.

Karena itu, pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin tidak boleh hanya diarahkan untuk mengejar ketertinggalan.

Mereka juga harus dipersiapkan menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi.

Sekolah Rakyat di Lebak kini memiliki fasilitas yang lebih memadai dan jumlah siswa yang terus bertambah. Tahun ajaran 2025/2026 tercatat 200 siswa, sedangkan tahun ajaran 2026/2027 mencapai 270 siswa.

Tahap berikutnya adalah memastikan peningkatan jumlah tersebut diikuti peningkatan kualitas.

Pada akhirnya, keberhasilan Sekolah Rakyat akan ditentukan oleh hasil yang terlihat dalam jangka panjang.

Jika lulusannya mampu melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya, maka program ini dapat menjadi salah satu instrumen mobilitas sosial.

Sebaliknya, jika program hanya berhenti pada penyediaan sekolah dan fasilitas, tujuan memutus rantai kemiskinan akan sulit tercapai.

Karena itu, Sekolah Rakyat di Lebak perlu dilihat sebagai investasi pendidikan jangka panjang. Bukan hanya berapa banyak anak yang masuk sekolah, tetapi sejauh mana pendidikan tersebut mengubah peluang hidup mereka. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com