Beritabanten.com – Udara pagi dengan rintik hujan menyelimuti pom bensin sebrang Perumahan Vila Dago, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Pom bensin tetap ramai di pagi hari musim libur Sabtu 24 Januari 2016, dengan pengendara mengisi bensin hendak bepergian bersama keluarga.

Di pojok pom bensin tersebut kedapatan pemulung duduk menunggu hujan reda dengan karung berisi barang bekas.

Dengan bekerja dari pukul 06.00 sampai duduk nunggu hujan sekira pukul.09.00 masih belum cukup untuk bekal makan siang.

“Saya lagi nunggu hujan reda pak de, bukan mau minta-minta. Ini baru dapat setengah karung dari pagi-pagi,” katanya pada awak media.

Dia mengaku bernama Tamyiz yang tinggal di Gang Dasir sekira 100 meter dari ujung pom bensin, tinggal bersama orang tuanya yang sudah jadi pemulung sejak usia belia seperti dirinya yang kini menginjak usia 11 tahun.

“Saya sejak umur enam tahun sampai kini sebelas, tahun jadi pemulung. Sekolah di Bimbel (sejenis Pusat Kegiatan Belajar Mandiri, red) Vila Dago dengan murid,,sebanyak enam orang. Nanti mau sekolah lanjutan kalau sudah lulus SD,” jelasnya.

Ketika ditanya cita-cita yang hendak digapai dengan bersekolah, dia menjawab ingin jadi presiden. Padahal dia belum terbayang dengan cara apa bisa tetap melanjutkan sekolah lanjutan dengan kondisi ekonomi keluarganya.

Alasannya simpel, dengan menjadi presiden bisa membereskan hutang negara yang katanya berjumlah banyak yang disebabkan oleh prilaku tidak bijak penyelenggara negara dengan melakukan korupsi.

“Negara ini banyak hutangnya disebabkan oleh banyak korupsi. Mereka harus dihukum seberat-beratnya asal jangan dihukum mati, karena mati urusan takdir tuhan,“ katanya dengan nama polos.

Kondisi banyak hutang tersebut, dia mengaku mendapat informasi dari guru yang mengajarnya di Bimbel yang kemudian menjadikan dirinya berniat menjadi presiden.

Alasan tersebut untuk ukuran usianya boleh jadi terasa janggal, tapi dirinya merasa perlu untuk bercita-cita jadi seorang presiden yang nanti bisa mengambil uang dikorupsi untuk memperbaiki keadaan.

‘Nanti uangnya kan pak de, bisa digunakan apa saja,” lagi-lagi dengan nada polos dari anak yang baru beranjak remaja.

Niat berbuat baik tersebut diperkuat dengan dirinya yang tidak pernah mau meminta-minta seperti banyak seusia dirinya di pinggir jalan dan lampu merah di Tangsel.

“Ada sih teman saya yang minta-minta, maaf bukan buka aib orang, karena stres terus uangnya untuk maen ps (play station) dan game. Saya engga mau minta-minta karena itu perbuatan buruk,” katanya penuh bangga.

Dia juha mengaku selalu menunaikan shalat lima waktu di mana pun menjalani pekerjaan mengambil barang bekas. Baginya, perbuatan shalat menyebabkan orang masuk surga nanti di akhirat nanti.

“Sholat kan wajib bagi seorang muslim yang jadi perbuatan yang pertama nanti dihitung di akhirat. Jika amal sholehnya banyak yang akan memyebabkan masuk sorga. Nah kalau ada dosa sedikit disiksa dulu di neraka baru mentas (dipindahkan ke surga,red),” karena memberi penjelasan.

Pembicaraan berakhir ketika awak media harus melanjutkan perjalanan, sementara Tamyiz masih setia menunggu hujan reda untuk melanjutkan pengambil barang bekas di pingir Jalan Raya Siliwangi.

Dia tampak menjawab salam penuh hormat dengan tatapan tajam dengan tetap melayangkan senyuman ramah membelah udara pagi yang masih terasa dingin dengan air hujan disertai angin kencang. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com