Beritabanten.com – Pesantren Al-Quraniyyah, Pondok Aren, Tangerang Selatan, memasuki usia ke-25 tahun. Milad seperempat abad itu diperingati bersama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan Ustaz Abdul Somad sebagai penceramah.
Ribuan jamaah memadati lokasi acara pada Minggu malam, 9 Agustus 2026, dalam suasana penuh khidmat.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam peringatan tersebut, di antaranya Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, Sekda Tangsel Bambang Noertjahjo, Wakil Rektor UIN Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie, serta Kepala Subdit Akademik Direktorat Pesantren Kemenag RI Bilkis Al Bahri.
Hadir pula Dr Usamah Gharibah, Duta Besar Libya untuk Republik Indonesia Zakarya Muhammad Mustafa El-Moghrabi, dan Duta Besar Sudan untuk Republik Indonesia Yassir Mohamed Ali Mohamed. Kehadiran para tokoh tersebut menambah semarak peringatan perjalanan panjang Pesantren Al-Quraniyyah.
Sebelum acara utama dimulai, Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah KH Muhammad Sobron Zayyan memimpin pembacaan manaqib.
Ribuan jamaah mengikuti kegiatan tersebut dengan dominasi pakaian putih yang membuat suasana semakin terasa religius. Momentum itu sekaligus menjadi refleksi perjalanan Al-Quraniyyah selama seperempat abad dalam pendidikan Al-Quran.
KH Muhammad Sobron Zayyan menyampaikan terima kasih kepada para wali santri yang selama ini memberikan kepercayaan kepada Pesantren Al-Quraniyyah.
Bahkan, kata dia, terdapat wali santri yang menitipkan seluruh anaknya untuk mendapatkan pendidikan di pesantren tersebut. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi energi bagi pesantren untuk terus mengembangkan pendidikan Al-Quran.
“Ini merupakan dukungan untuk terus memasyarakatkan Al-Quran dan meng-Al-Quran-kan masyarakat. Semangat membumikan Al-Quran di Tangsel masih terus menyala,” ujar KH Sobron.
Menurut KH Sobron, semangat membumikan Al-Quran merupakan bagian dari jati diri Pesantren Al-Quraniyyah. Sejak awal berdiri, pesantren berupaya menghadirkan pembelajaran Al-Quran secara komprehensif dengan didukung tenaga pendidik yang memiliki kompetensi di bidangnya. Perjalanan selama 25 tahun menjadi bukti konsistensi tersebut.
“Sejak 25 tahun, Al-Quraniyyah sudah menancapkan misi membumikan Al-Quran dengan merekrut guru yang berkualitas di bidangnya,” katanya.
Ia menjelaskan, sekitar 75 persen santri Pesantren Al-Quraniyyah berasal dari keluarga para pengasuh lembaga pendidikan Al-Quran yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kepercayaan dari para pendidik Al-Quran terhadap pola pendidikan yang dikembangkan pesantren. Kepercayaan itu sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.
Dari sisi prestasi, para santri Al-Quraniyyah juga telah menorehkan capaian di berbagai bidang. Di antaranya prestasi tingkat nasional dalam hafalan Al-Quran 10 juz dan 20 juz yang diraih Ananda Himmatul Ulya. Prestasi lain juga terus bermunculan dalam bidang fahmil Quran, qiraah, kaligrafi, syarhil Quran, serta berbagai cabang keilmuan lainnya.
“Kami terus menata diri untuk mempersiapkan santri di tingkat nasional bahkan di kancah internasional,” kata KH Sobron dengan penuh syukur.
Pendidikan di Al-Quraniyyah, lanjutnya, tidak berhenti pada tahsin dan qiraah. Para santri juga dibekali kemampuan membaca teks Arab dan mempelajari kitab kuning sebagai bagian dari penguatan keilmuan pesantren. Dari proses tersebut, santri diarahkan memahami berbagai disiplin ilmu seperti fikih, mantik, dan balaghah.
Menurut KH Sobron, keluasan pendidikan tersebut terlihat dari sejumlah prestasi santri di luar bidang tahfiz dan qiraah. Salah satunya prestasi dalam debat bahasa Arab.
“Banyak orang menduga hanya pelajaran Al-Quran seperti tahsin dan qiraah, padahal terbukti ada yang juara debat bahasa Arab. Itu artinya bisa menguasai bidang ilmu pengetahuan lainnya,” tegasnya.
Perjalanan pendidikan tersebut juga terlihat dari kiprah para alumni. Lulusan Pesantren Al-Quraniyyah telah melanjutkan pendidikan maupun berkarier di berbagai bidang, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Dalam waktu dekat, sebanyak 18 alumni disebut siap melanjutkan pendidikan ke Mesir, sementara sebagian lainnya dipersiapkan menuju Yaman, Sudan, dan Turki.
KH Sobron juga menyebut terdapat 28 lulusan yang berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia.
Bagi keluarga besar pesantren, capaian tersebut menjadi bagian dari keberkahan pendidikan yang berorientasi pada Al-Quran. “Ini berkah Al-Quran,” ujarnya.
Di hadapan ribuan jamaah, KH Sobron mengajak masyarakat Tangsel dan sekitarnya untuk terus memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka mendapatkan pendidikan berbasis Al-Quran.
Menurutnya, memasukkan anak ke pesantren bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga bagian dari ikhtiar membumikan nilai-nilai Al-Quran dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap perkembangan Pesantren Al-Quraniyyah.
Dukungan tersebut antara lain datang dari Ustaz Abdul Somad, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, dan Sekda Tangsel Bambang Noertjahjo. Dukungan tersebut dinilai menjadi kekuatan bagi pesantren untuk terus berkembang.
Pada kesempatan itu, Pesantren Al-Quraniyyah juga menyampaikan rencana pembangunan asrama santri baru berlantai empat.
Rencana tersebut disampaikan di hadapan para undangan dan duta besar yang hadir dalam acara. Mendengar rencana tersebut, jamaah langsung menyambut dengan lantunan “amin” sebagai doa agar pembangunan dapat segera terwujud.
Milad ke-25 Al-Quraniyyah akhirnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia pesantren. Momentum tersebut menjadi penegasan kembali sebuah cita-cita: menjadikan Al-Quran tidak hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi juga hadir dalam karakter, ilmu, prestasi, dan kehidupan masyarakat Tangerang Selatan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan